-
Rusia dan China bantu Iran lawan AS dengan intelijen satelit dan radar canggih.
-
Iran bakal miliki rudal supersonik CM-302 yang mampu hancurkan kapal induk Amerika Serikat.
-
China dukung kepemimpinan Mojtaba Khamenei dan menolak segala bentuk intervensi asing di Iran.
Suara.com - Konfrontasi bersenjata perang yang melibatkan Iran melawan kekuatan Amerika Serikat serta Israel kini memasuki babak baru yang lebih intens.
Dukungan strategis mulai mengalir deras dari dua kekuatan besar dunia yakni Rusia dan China untuk menyokong pertahanan Teheran.
Negara pimpinan Vladimir Putin tersebut dilaporkan telah mengambil langkah nyata sejak peperangan pecah pada akhir Februari 2026.
Salah satu aksi kemanusiaan yang terlihat adalah instruksi langsung Putin kepada Kementerian Situasi Darurat untuk mengirimkan logistik medis.
Sebanyak 13 ton obat-obatan telah diterbangkan menuju Azerbaijan sebagai titik transit sebelum diserahkan kepada otoritas resmi di Iran.
Pihak kementerian mengonfirmasi bahwa armada penerbangan mereka telah mengatur proses logistik bantuan kesehatan tersebut secara sistematis.
"Divisi penerbangan kementerian mengatur pengiriman obat-obatan ke Azerbaijan untuk diteruskan kepada perwakilan resmi pemerintah Iran," demikian pernyataan kementerian, dikutip Anadolu Agency.
Selain bantuan fisik, laporan dari intelijen Amerika Serikat menyebutkan adanya kerja sama informasi yang jauh lebih krusial.
Rusia diduga memberikan data rahasia mengenai koordinat presisi kapal perang dan armada udara AS yang bersiaga di kawasan tersebut.
Baca Juga: Korut Tembakkan 10 Rudal Tak Dikenal ke Laut Jepang, Respons Provokasi Freedom Shield
Informasi ini menjadi kunci bagi Teheran untuk memetakan aset lawan yang selama ini sulit dideteksi secara mandiri.
Keunggulan Rusia dalam teknologi luar angkasa melalui satelit Kanopus-V kini menjadi tulang punggung bagi sistem pertahanan Iran.
Satelit pengintai ini memiliki kemampuan yang jauh melampaui perangkat orbit milik militer Iran yang sebelumnya sangat terbatas.
Di Teheran, teknologi ini dikenal luas dengan nama Khayyam yang berfungsi sebagai pusat saraf kendali serangan balik.
Melalui bantuan ini, Iran mampu menerapkan doktrin serangan presisi yang mematikan terhadap target-target strategis di medan perang.
Meskipun demikian, Vladimir Putin memberikan bantahan secara terbuka mengenai tuduhan pembagian informasi intelijen militer tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- 5 Lipstik Rekomendasi Fuji yang Tahan Lama, Tidak Kering dan Anti Pecah-Pecah
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Sebut Bukan Insiden Kebetulan, Nandang Sutisna Desak Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis
-
Tiyo Ardianto Respons Viral Aksi Penolakan di UGM, Singgung Kondisi Mahasiswa 'Terpaksa' Demo
-
Aksi Bersih & Penghijauan dalam Memperingati HLH 2026, NHM Ajak Masyarakat Jaga Lingkungan Bersama
-
Wamendagri Bima Arya Tekankan Penguatan Karakter Generasi Muda Berbasis Nilai Budaya
-
Bukan Ancaman, Anis Matta Sebut Demo Justru 'Picu' Pemerintah Kerja Lebih Baik
-
Massa Bertahan di Gejayan Meski Aksi Selesai, Bunyi Klakson - Seruan Turunkan Prabowo Terus Menggema
-
Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
-
Turun Aksi di Jogja, Cholil ERK Tegaskan Gerakan Masyarakat Jangan Mengempis
-
Benarkah Jokowi Segera Jadi Ketua Dewan Pembina? PSI Kasih 'Kode Keras' Begini
-
Jawab Tuntutan Mahasiswa, Bakom RI Sebut Kebijakan Presiden Prabowo Hemat Anggaran Rp300 Triliun!