Suara.com - Seorang pria asal Newport tak sengaja membuang hardisk berisi bitcoin dengan nilai setara Rp 3,9 T. James Howells kini berusaha menemukan kembali kekayaannya namun terkendala izin pemerintah kota.
Menyadur Business Insider Rabu (20/01) Howells membuang hardisk miliknya pada tahun 2013. Pekerja IT ini memiliki 2 hardisk serupa di mana salah satunya dengan dompet digital yang berisi bitcoin.
Ia membuang salah satunya yang berisi dompet digital secara tak sengaja dan perjuangan untuk masuk ke tempat pembuangan sampah dimulai sejak saat itu.
Ia merayu Dewan Kota agar diizinkan menggali di tempat pembuangan sampah, namun usahanya sia-sia.
"Saya menawarkan untuk menyumbangkan 25% atau USD 71.7 juta ke Dewan Kota Newport untuk didistribusikan pada semua penduduk lokal yang tinggal di Newport jika saya menemukan dan memulihkan bitcoin," kata Howells.
"Sayangnya, mereka menolak tawaran itu, bahkan tidak mau berdiskusi langsung dengan saya tentang masalah ini."
Berdasarkan perhitungan Howells, jika sumbangannya diterima itu berarti tiap warga akan menerima uang sekitar USD 240 yang setara Rp 3,3 juta. Howells memiliki bitcoin selama empat tahun ketika cryptocurrency nilainya masih kecil.
Ia ingat membuang hardisk antara bulan Juni dan Agustus 2013 dan kini Howells memiliki rencana kedua yang ia prediksi membuahkan hasil.
"Rencananya akan menggali area tertentu dari TPA berdasarkan sistem referensi grid dan memulihkan hardisk sambil mematuhi semua standar keselamatan dan lingkungan," kata Howells kepada CNN, Jumat.
Baca Juga: Ada JakOne Mobile, Bank DKI Harap Warga Jakarta Pakai Dompet Digital
"Drive tersebut kemudian akan disajikan kepada spesialis pemulihan data yang dapat membangun kembali drive dari awal dengan suku cadang baru dan mencoba memulihkan data kecil yang saya perlukan untuk mengakses bitcoin."
Dalam sebuah pernyataan kepada CNN, seorang juru bicara Dewan Kota Newport mengatakan kota itu tidak diizinkan untuk menggali situs tersebut.
"Dewan telah memberitahu Tuan Howells dalam beberapa kesempatan bahwa penggalian tidak mungkin dilakukan di bawah izin perizinan kami dan penggalian itu sendiri akan berdampak besar pada lingkungan di daerah sekitarnya," katanya.
"Biaya menggali TPA, menyimpan dan mengolah limbah bisa mencapai jutaan pound - tanpa jaminan apa pun untuk menemukannya atau masih berfungsi dengan baik."
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Mensos Siapkan Skema Bantuan Khusus Bagi Ahli Waris
-
Buka-bukaan Anak Riza Chalid: Tanpa Terminal BBM OTM, Cadangan Pertamax Berkurang 3 Hari
-
Indonesia Protes Keras Gugurnya Pasukan UNIFIL, Tuntut Investigasi Menyeluruh Atas Serangan Israel
-
Fakta Baru Kasus Andrie Yunus Terungkap di DPR, Berkas Sudah Dilimpahkan ke Puspom TNI
-
Istri Eks Komut Indofarma Mengadu ke DPR, Sebut Vonis 13 Tahun Penjara Tanpa Bukti Aliran Dana
-
MenpanRB: Isu Utama WFH ASN Adalah Digitalisasi, Bukan Sekadar Efisiensi
-
Detik-detik Gugurnya Praka Farizal di Lebanon, Terkena Serangan Mortir saat Salat Isya
-
Prabowo Berduka Atas Gugurnya Tiga Prajurit TNI di Lebanon
-
Kawal Program Prioritas Nasional, Wamendagri: IPDN Konsisten Hasilkan Kader Pemerintahan Kompeten
-
Ratusan Elemen Sipil Teken Petisi, Desak Kasus Andrie Yunus Tak Diadili di Militer!