Suara.com - Amerika Serikat (AS) telah menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah pejabat senior Rusia terkait kasus peracunan pemimpin oposisi Alexei Navalny.
Pemberian sanksi ini, yang menargetkan pejabat tinggi intelijen Rusia dan enam orang lainnya, dikoordinasikan dengan langkah serupa oleh Uni Eropa.
Para pejabat AS mengatakan laporan intelijen menyimpulkan bahwa pemerintah Moskow berada di balik serangan agen saraf yang nyaris mematikan Navalny pada tahun lalu.
Navalny adalah pengkritik paling terkenal terhadap Presiden Vladimir Putin.
Moskow membantah terlibat dalam peracunannya dan mempertanyakan kesimpulan yang, menurut kalangan ahli senjata dari Barat, bahwa Navalny diracun oleh agen Novichok dalam sebuah penerbangan di Siberia.
Istilah Novichok - "pendatang baru" dalam bahasa Rusia - berlaku untuk sebuah kelompok agen saraf yang dikembangkan di laboratorium oleh Uni Soviet selama Perang Dingin. Mereka melumpuhkan otot dan dapat menyebabkan kematian karena sesak napas.
- Rusia tahan ribuan pendukung tokoh oposisi dalam unjuk rasa, apa saja yang kita ketahui sejauh ini?
- Kritikus Putin, Alexei Navalny ditahan 30 hari, AS dan Eropa tuntut ia dibebaskan
- Miliarder Rusia mengaku sebagai pemilik 'Istana' yang dituding oposisi sebagai milik Putin
Apa tindakan apa sudah dilakukan AS?
Sanksi diberlakukan terhadap tujuh pejabat senior Rusia dan 14 entitas yang terlibat dalam produksi kimia dan biologi, kata pejabat pemerintah.
"Upaya Rusia untuk membunuh Navalny mengikuti pola penggunaan senjata kimia yang mengkhawatirkan," kata seorang pejabat.
Novichok digunakan dalam sebuah serangan pada 2018 di kota Salisbury, Inggris, terhadap seorang agen ganda Rusia yang diasingkan serta putrinya.
Baca Juga: Senapan Canggih MP-155: Dilengkapi Wifi, Kamera hingga Terkoneksi Hp
Di bawah sanksi tersebut, aset mereka di AS dibekukan.
Mereka yang menjadi sasaran sanksi, di antaranya Alexander Bortnikov, yang memimpin FSB, badan intelijen utama Rusia, serta Wakil Menteri Pertahanan Alexei Krivoruchko dan Pavel Popov.
Sanksi tersebut adalah yang pertama dijatuhkan terhadap Rusia oleh pemerintahan Presiden Joe Biden.
Dia mengambil sikap lebih keras dari pendahulunya, Donald Trump, terhadap Presiden Putin.
Setelah menelepon mitranya dari Rusia pada bulan lalu, Biden mengatakan dia telah memperjelas sikap AS pada hari-hari ketika mereka "menggelimpang dalam menghadapi tindakan agresif Rusia, mencampuri pemilu kami, serangan dunia maya, meracuni warga negaranya".
Bagaimana dengan Uni Eropa?
Dalam langkah terkoordinasi, Uni Eropa mengumumkan pada Selasa bahwa mereka telah menargetkan empat pejabat pemerintah Rusia.
Mereka adalah Alexandr Kalashnikov, Kepala sistem penjara Rusia, Alexandr Bastrykin, Ketua Komite Investigasi, Kepala Kejaksaan Igor Krasnov, dan Viktor Zolotov, yang mengepalai Garda Nasional.
Sanksi tersebut termasuk larangan perjalanan dan pembekuan aset.
Wartawan BBC Kevin Connolly di Brussel mengatakan Uni Eropa melakukan kompromi dengan negara-negara Baltik, yang melihat Rusia sebagai tetangga yang berbahaya, dan negara-negara - terutama Jerman - yang bergantung pada impor gas dari Rusia.
Langkah tersebut mengikuti serangkaian sanksi Uni Eropa sebelumnya. Pada Oktober, negara-negara yang terhimpun dalam Uni Eropa memberlakukan larangan perjalanan dan pembekuan aset pada enam pejabat Rusia, termasuk Bortnikov, yang dituduh terlibat dalam peracunan tersebut.
Pusat penelitian senjata kimia juga menjadi sasaran target.
Bagaimana reaksi Moskow?
Pemerintah Rusia bahkan telah merespons sebelum tindakan AS dan Uni Eropa dikonfirmasi.
Pada Selasa pagi, Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov menegaskan kembali klaimnya bahwa Barat "menyembunyikan fakta-fakta yang dapat membantu memahami apa yang telah terjadi" pada Navalny dan menghukum Rusia secara tidak adil.
"Kami telah berulang kali menyatakan sikap kami sehubungan dengan sanksi sepihak yang tidak sah yang ... digunakan oleh kolega dari AS dan mereka yang mengambil contoh dari mereka, Uni Eropa," katanya.
Pemerintahnya akan menanggapi sanksi apa pun dalam bentuk apa pun, tambahnya.
Siapakah Alexei Navalny?
Navalny dikenal karena aksi kampanye antikorupsi. Dia telah lama menjadi wajah oposisi Rusia yang paling menonjol terhadap pemerintahan Putin.
Blogger berusia 44 tahun ini memiliki jutaan pengikut di media sosial. Dia melakukan berbagai langkah yang membuat sejumlah pendukungnya terpilih menjadi anggota dewan di Siberia pada 2020.
Navalny diracuni dan mengalami koma selama penerbangan ke Siberia pada Agustus lalu. Dia kemudian diterbangkan ke Jerman, di mana dia dinyatakan pulih.
Pada Januari dia memutuskan untuk kembali ke Rusia dan ditangkap saat tiba di negara itu.
Pengadilan bulan lalu menyatakan Navalny melanggar ketentuan hukuman sebelumnya terkait kasus penggelapan.
Dikatakan, Novolny tidak datang ke instansi terkait saat dirinya sedang mengikuti masa hukuman percobaan. Ketika itu Novolny sedang dirawat di Jerman.
Hukumannya yang semula ditangguhkan kemudian diubah menjadi hukuman penjara dua setengah tahun.
Navalny dan pendukungnya mengatakan semua tuduhan terhadapnya bermotif politik. Presiden Biden dan para pemimpin Uni Eropa telah menyerukan agar dia dibebaskan segera.
Berita Terkait
-
Sasaran Turis Bali! 18 Kg Ganja Asal Amerika-Rusia Diselundupkan Lewat Trik Kompartemen Koper
-
Warga Rusia Dibatasi Beli Bensin Usai Serangan Drone Ukraina Bakar Kilang Minyak Moskow
-
AS-Iran Sudah Damai, Rusia Masih Perang, Kilang Minyak Moskow Hancur Dihantam Drone Ukraina
-
Kapal Perang Rusia Lepas Tembakan Peringatan ke Jacht Inggris di Jalur Pelayaran Selat Inggris
-
Sorotan Tajam Piala Dunia 2026: Kontroversi Visa AS dan Bayang-Bayang Kesuksesan Rusia 2018
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
Terkini
-
Teror Penembakan di Piala Dunia 2026: 1 Orang Tewas, Korban Lainnya Kritis
-
Mukjizat! 30 Jam di Bawah Reruntuhan: Bayi 18 Hari Selamat dari Gempa Venezuela
-
Tragedi Berdarah di Jerman: 6 Tewas dalam Penembakan, Polisi Ungkap Motif Dendam
-
China Wajibkan AI di Sekolah: Semua Siswa Wajib Kuasai Kecerdasan Buatan dalam 5 Tahun
-
Misteri Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi Beijing, Pemerintah Bungkam Sensor Ketat
-
Taruna Akmil akan Dampingi Siswa Sekolah Rakyat Belajar Mandiri di Asrama Selama 5 Hari
-
Tak Lagi 'Macan Ompong', RUU HAM Beri Komnas HAM Kewenangan Penyidikan
-
Menuju Kota Global, Jakarta Kejar Target Bebas Buang Air Sembarangan
-
Jangan Terkecoh! Pendakian Gunung Merapi Masih Ditutup, Abaikan Ajakan di Medsos
-
Jadi Otak Penyekapan, Bos Percetakan di Senen Perintahkan Anak Buah Pasung Kaki Korban