Suara.com - AS masih memantau roket China yang diperkirakan menghantam bumi akhir pekan ini. Juru bicara Pentagon, John Kirby mengatakan Menteri Pertahanan Lloyd Austin belum memutuskan apakah akan menghancurkan roket tersebut atau tidak.
"Terlalu dini untuk menentukan (tindakan) apa yang dapat dilakukan sampai kita memiliki pemahaman tentang dari mana ia akan datang. Turun," kata Kirby.
Bagian setinggi 100 kaki dari roket Long March 5B milik China diperkirakan jatuh ke Bumi tanggal 8 Mei.
"Menteri tahu dan dia tahu bahwa Komando Luar Angkasa sedang melacaknya," imbuh Kirby seperti yang diambil dari Defense One, Kamis (06/05).
Komando Luar Angkasa AS mengatakan kepastian titik masuk roket ke atmosfer Bumi tidak akan diketahui sampai beberapa jam setelah masuk kembali ke atmosfer.
Skuadron Kontrol Luar Angkasa ke-18 Komando Luar Angkasa AS di Pangkalan Angkatan Udara Vandenberg di California kini sedang melacak roket tersebut.
Space Command mengatakan dalam pernyataan terpisah bahwa lokasi jatuhnya roket ditentukan oleh banyak faktor, seperti kondisi atmosfer dan sudut yang tepat dari objek saat memasuki atmosfer.
Pada tahun 2008, Angkatan Laut AS pernah meluncurkan rudal untuk menghantam satelit mata-mata yang gagal berfungsi dan jatuh dari orbit.
Satelit itu berhenti bekerja di awal misinya, jadi masih memiliki banyak bahan bakar dan bisa menyebarkan bahan beracun saat jatuh.
Baca Juga: Ngeri! Pengikut Sekte 'Love Has Won' di AS Simpan Mumi Jasad Pemimpin
"Karena roket China telah menghabiskan sebagian besar atau semua bahan bakarnya untuk membawa muatannya ke orbit, tidak ada masalah lingkungan dalam kasus ini dan tidak akan berguna untuk menembak jatuh", kata Brian Weeden, direktur perencanaan program di the Secure World Foundation.
Setelah China meluncurkan roket model yang sama tahun lalu, bongkahan puing jatuh di setidaknya dua desa di Ivory Coast ketika roket kembali memasuki atmosfer.
Sejak itu, kasus serupa diduga akan terus jadi masalah, karena Beijing menggunakan roket ini untuk misi angkat berat, termasuk membangun stasiun luar angkasa barunya, kata Ted Muelhaupt, direktur utama di Aerospace Corporation's Center for Orbital and Reentry Debris Studies.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
-
KPK Cecar Eks Menteri BUMN Rini Soemarno Soal Holding Minyak dan Gas
-
Diduga Nikah Lagi Padahal Masih Bersuami, Kakak Ipar Nakula Sadewa Dipolisikan
-
Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
Terkini
-
Sambut Praja IPDN, Wamendagri Bima Arya Tekankan Fokus Pemulihan Permukiman Warga Aceh Tamiang
-
Sambut HUT PDIP ke-53, Atribut Soekarno Run 2026 Resmi Diluncurkan di GBK
-
Pramono Targetkan Inflasi Jakarta 2026 Jinakkan Angka Nasional
-
Polda Metro Bongkar Jaringan Perdagangan Anak di Jakarta Barat! Empat Balita Berhasil Diselamatkan
-
Timnas Futsal Melaju ke Final Piala Asia 2026, Bahlil Lahadalia: Ah Paten Itu!
-
Benarkah Beras dan Rokok Penentu Garis Kemiskinan Warga Jakarta?
-
Tak Mau Ingkari Putusan Munas Golkar, Bahlil Tegaskan Bakal Dukung Prabowo-Gibran hingga Selesai
-
Waketum PAN Ingin Prabowo Dipasangkan Dengan Zulhas di 2029, Dasco: Kita Anggap Doa Saja
-
KPK Cecar Eks Menteri BUMN Rini Soemarno Soal Holding Minyak dan Gas
-
Dari Dua Kali Jadi Sekali? MBG Lansia Berpotensi Ikut Skema Rp10 Ribu per Porsi