“Kalau mengambil fatwa yang ini, semuanya harus diikuti,” katanya lagi.
Awalnya, Saras yang bekerja di sebuah organisasi nirlaba di Alaska mengaku tidak tahu akan peraturan tersebut. Namun, kini ia berpuasa dengan mengikuti jadwal yang telah ditetapkan oleh masjid di Alaska, the Islamic Community Center of Anchorage, yang mengikuti waktu Makkah.
“Waktu itu belum tahu kalau untuk tempat yang ekstrem seperti Alaska, bisa diberi kemudahan mengikuti jadwal Makkah,” kata Saras.
“Sejak mengikuti waktu Makkah, tantangannya tidak terlalu berat,” tambahnya.
Dewi, ibu rumah tangga, kini juga beribadah mengikuti waktu Makkah, sesuai ketetapan masjid di Alaska.
“Masjid setempat itu mengikuti waktu Makkah. Warga Muslim di Alaska mengikuti salat waktu Makkah. Sekarang ini puasa dimulai jam 4:30 dan buka itu jam 6:45,” kata Ibu dari tiga anak ini.
Perempuan asal Serang, Banten, ini mengaku mengetahui tentang peraturan ini tanpa sengaja. Ketika itu ia secara kebetulan bertemu warga Indonesia di sebuah restoran.
“Waktu pertama kali datang ke (Alaska), belum mengenal ada masjid. Belum mengenal ada warga Indonesia di (Alaska) juga. Jadi merasa sendiri puasa. Jadi seperti terisolasi,” kenang Dewi.
Dewi menambahkan, di Alaska hanya ada sekitar 20 keluarga yang berasal dari Indonesia.
Baca Juga: Mendag: Industri Makanan dan Fesyen Muslim Indonesia Jadi Primadona
“Kalau yang Muslim mungkin 12 keluarga,” tambahnya.
Ramadan di Tengah Pandemi
Sebelum pandemi, Dewi kerap berbuka puasa bersama warga Muslim Indonesia di Alaska atau beribadah dan berbuka puasa di masjid setempat.
Jika tahun lalu masjid-masjid di Amerika Serikat banyak yang tutup, kini masjid-masjid sudah mulai dibuka dengan pembatasan sosial yang sesuai dengan protokol kesehatan pandemi.
“Sekarang sudah mulai dibuka, tapi belum ada buka bersama. Biasanya saya suka ikut buka bersama dan salat Magrib. Tapi sekarang ini belum ada. Hanya ada Tarawih bersama dan itu setelah jam 9. Jadi saya belum pernah ke sana,” kata Dewi.
Bagi Saras, menjalankan ibadah bulan Ramadan di tengah pandemi “terasa berbeda, karena harus membatasi interaksi dengan orang banyak.”
Berita Terkait
Terpopuler
- Jalan Putri Hijau/Yos Sudarso Medan Ditutup 31 Januari hingga 6 Februari, Arus Lalin Dialihkan
- Reshuffle Kabinet: Sugiono Jadi Menko PMK Gantikan 'Orang Jokowi', Keponakan Prabowo Jadi Menlu?
- 4 Cushion Wardah untuk Tutupi Kerutan Lansia Usia 50 Tahun ke Atas
- 5 Mobil Bekas Rp30 Jutaan yang Cocok untuk Guru Honorer: Solusi Ekonomis untuk Mobilitas Sehari-hari
- Ketua KPK Jawab Peluang Panggil Jokowi dalam Kasus Korupsi Kuota Haji
Pilihan
-
Pasar Modal Bergejolak, OJK Imbau Investor Rasional di Tengah Mundurnya Dirut BEI
-
5 HP Memori 128 GB di Bawah Rp2 Juta Terbaik Awal 2026: Kapasitas Lega, Harga Ramah di Kantong!
-
5 HP Murah Mirip iPhone Terbaru: Gaya Mewah Boba 3 Mulai Rp900 Ribuan!
-
Rupiah Melemah ke Rp16.786, Tertekan Sentimen Negatif Pasar Saham
-
Jokowi Angkat Bicara Soal Dugaan Korupsi Mantan Menag Yaqut: Saya Tidak Pernah Perintahkan Korupsi!
Terkini
-
KPK Bongkar Alur Jual Beli Kuota Haji Khusus: Siapa 'Main' di Balik 20.000 Kuota Tambahan?
-
Wakasatgas PRR Pascabencana Dorong Akselerasi Pembangunan Huntara Tiga Kabupaten di Sumatera Utara
-
Usut Kasus Bupati Sudewo, KPK Bakal Telusuri Dugaan Pemerasan Calon Perangkat Desa di Wilayah Lain
-
Ketika Korban Kekerasan Seksual Memilih Diam dan Tak Melapor, Sejauh Mana Negara Berpihak?
-
Polisi Tangkap 10 Remaja Pelaku Tawuran Maut di Jakarta Barat, Korban Tewas Bacok
-
Investigasi Ungkap 'State Capture Corruption' Industri Rokok, Eks Pejabat Jadi Komisaris
-
Kemenkes dan Polri Peringatkan Bahaya Whip Pink atau Gas N2O: Bisa Sebabkan Kematian
-
Musim Hujan Makin Panjang, IDAI Ingatkan Orang Tua Jangan Paksa Anak Sakit ke Sekolah
-
Nama Jokowi Diseret dalam Kasus Kuota Haji Gus Yaqut, PSI Kasih Pembelaan
-
Dasco Ungkap Alasan Gerindra Belum Putuskan Ambang Batas Parlemen: Ini Soal Partisipasi Rakyat