Suara.com - Kerajaan Kediri merupakan salah satu kerajaan Hindu yang pernah berdiri di Indonesia. Kerajaan ini memiliki berpusat di Dahanapura, Kediri, Jawa Timur. Bagaimana sejarah Kerajaan Kediri?
Sejarah Kerajaan Kediri dimulai pada abad ke-11 tepatnya 1045 Masehi. Kerajaan Kediri ini memiliki beberapa nama lain seperti Kadiri, Daha dan Panjalu.
Kerajaan Kediri dipimpin oleh seorang raja yang bernama Sri Samariwajaya sebagai raja pertama, sedangkan Kediri berhasil mencapai masa kejayaan pada masa kepemimpinan Raja Jayabaya (1135-1159 M), yakni selama dua abad.
Berikut adalah ulasan singkat tentang Kerajaan Kediri dan bentuk penginggalannya, mari simak!
Sejarah Kerajaan Kediri
Kerajaan Kediri pertama kali berdiri ketika Raja Airlangga dan Medang Kamulan memutuskan untuk membagi kerajaanya menjadi dua, yakni Kerajaan Kediri untuk Samarawijaya dan Kerajaan Jenggala untuk Mapanji Garasakan.
Karena merasa sama-sama berhak untuk meneruskan tahta kerajaan kedua putra dari Raja Airlangga saling bersaing untuk dapat menjadi putera mahkota. Peperangan yang dilakukan oleh dua orang raja yang sedarah itu terjadi selama 60 tahun lamanya.
Kerajaan Kediri berhasil menggungguli peperangan atas saudaranya yakni Kerajaan Jenggala. Hasilnya adalah dipindahkannya pusat kerajaan dari Daha menuju Kediri.
Puncak Kejayaan Kerajaan Kediri
Baca Juga: Tidak Disengaja, Petani Temukan Prasasti Berusia 2.600 Tahun
Sejak pertama kali berdiri, Kerajaan Kediri adalah salah satu kerajaan yang cukup potensial dan berpengaruh di Indonesia. Terlebih pada masa kepemimpinan Raja Jayabaya, Kerajaan Kediri berhasil berkembang secara signifikan.
Salah satunya adalah melalui bidang sastra, selain sastra semasa kepemimpinan Kerajaan Kediri Raja Jayabaya juga berhasil melakukan beberapa ekspansi yang dapat ditunjukkan sebagai salah satu bentuk eksistensinya.
Besarnya wilayah kekuasaan Kerajaan Kediri membuat banyak sekali asumsi yang menyebutkan bahwa kerajaan ini lebih berpengaruh dibandingkan dengan Kerajaan Sriwijaya. Beberapa daerah yang pernah diduduki oleh Kerajaan Kediri diantaranya adalah seluruh pulau Jawa, sebagian Sumatera, pantai Kalimantan dan Kerajaan Terntate.
Faktanya eksistensi Kerajaan Kediri tidak hanya santer terdengar di Nusantara. Hal ini dibuktikan dengan salah satu tulisan yang ditulis oleh seseorang bernaman Khou Ku Fei yang juga seorang saudagar dari Tiongkok. Di dalam tulisannya ia menceritakan tentang karakteristika masyarakat Indonesia pada masa Kerajaan Kediri.
Nama Sri Jayabaya tertera dalam Kitab Baratayudha dan hingga sampai saat ini dikenal tentang ramalannya tentang Indonesia dalam Jangka Jayabaya.
Karya Sastra Peninggalan Kerajaan Kediri
Berikut adalah beberapa bukti peninggalan Kerajaan Kediri yang berupa karya sastra:
- Kitab Bharatayudha karangan Mpu Tantular dan Mpu Panuluh
- Kitab Kresnayana karangan Mpu Tanakung
- Kitab Smaradahana karangan Mpu Monaguna
- Kitab Lubdaka karangan Mpu Tanakung
Selain berupa karya sastra kerajaan Kediri juga meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti yang tersebar di sekitaran pulau Jawa, diantaranya adalah:
- Prasasti Sirah Keting
- Prasasti Ngantang
- Prasasti Jaring
- Prasasti Kamulan
- Prasasti Jepun
- Candi Penataran
- Candi Tondowongso
- Candi Gurah
Demikian adalah ulasan tentang sejarah Kerajaan Kediri dan bukti peninggalannya. Semoga dapat memberikan wawasan pengetahuan sejarah bagi anda sekalian.
Kontributor : Dhea Alif Fatikha
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- PLTS 100 GW Diproyeksikan Serap 1,4 Juta Green Jobs, Energi Surya Jadi Mesin Ekonomi Baru
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
Pilihan
-
Wafat di Usia 74 Tahun, Ini 7 Kontroversi Alex Noerdin: Kasus Korupsi hingga Dana Bagi Hasil Migas
-
Sadis! Pria di Bantul Tewas Ditebas Parang di Depan Anak Istri Saat Tertidur
-
Minta Restu Jokowi, Mantan Bupati Indramayu Nina Agustina Bachtiar Gabung PSI
-
Sumsel Berduka, Mantan Gubernur Alex Noerdin Meninggal Dunia
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
Terkini
-
Adian Napitupulu Murka Ketua BEM UGM Diteror: Ini Kemunduran Demokrasi!
-
Dari BoP sampai Perjanjian Dagang: Lawatan Prabowo ke AS Dianggap Tabrak Konstitusi, Ini Alasannya
-
Anggota Denintel Kodam XVII/Cendrawasih Gugur Diserang KKB di Nabire
-
Redefinisi Peran Pemuda Betawi di Tengah Transformasi Jakarta Menjadi Kota Global
-
Ketua Banggar DPR Kritisi Impor 105.000 Mobil Niaga dari India: Ancaman bagi Industri Dalam Negeri
-
PSI Gelar Mudik Gratis 2026: Siapkan 100 Bus untuk 5.000 Penumpang, Ini Cara Daftarnya!
-
Soal PT 7 Persen, Titi Anggraini: Ambang Batas Fraksi Lebih Adil Bagi Suara Rakyat
-
Menag Tegaskan Zakat Tak Boleh untuk MBG, Penyaluran Wajib Sesuai 8 Asnaf
-
KPK Kembali Panggil Eks Menhub Budi Karya Sumadi Jadi Saksi Dugaan Suap Proyek DJKA
-
Maidi Diduga Terima Upeti 10 Persen Proyek PUPR Kota Madiun, KPK Cecar 6 Anak Buah