Suara.com - Spyware dari perusahaan pengawasan Israel NSO Group terdeteksi di gawai enam aktivis hak asasi manusia Palestina, menjadi kejadian pertama aktivis Palestina yang diketahui menjadi sasaran spyware Pegasus tingkat militer.
Mengutip dari laporan Al Jazeera, Selasa (9/11/2021), organisasi nirlaba Frontline Defenders mengungkapkan temuannya pada Senin (8/11/2021) dalam laporan teknis bersama bersama dengan Amnesty International dan Citizen Lab Universitas Toronto.
Tidak jelas siapa yang menempatkan spyware buatan NSO yang secara diam-diam memberikan penyusup akses penyimpanan dan aktivitas di gawai, termasuk akses komunikasi real-time.
Frontline Defenders mengatakan tiga dari warga Palestina yang diretas bekerja untuk kelompok masyarakat sipil. Sisanya tidak bekerja untuk kelompok masyarakat sipil dan tidak ingin disebutkan identitasnya.
Di antara mereka yang diretas adalah Ubai Aboudi, seorang ekonom berusia 37 tahun dan warga negara AS yang menjalankan Pusat Penelitian dan Pengembangan Bisan di Ramallah, di Tepi Barat yang diduduki.
Aboudi mengatakan dia kehilangan rasa aman melalui peretasan telepon yang tidak manusiawi. Dia mengatakan istrinya pada tiga malam pertama setelah mengetahui peretasan tersebut menjadi tidak bisa tidur karena merasa privasi mereka terganggu.
Aboudi terutama khawatir tentang penyadap yang mengetahui rahasia komunikasinya dengan diplomat asing. Pemeriksaan para peneliti terhadap gawai Aboudi menemukan bahwa gawai miliknya terinfeksi oleh Pegasus pada Februari 2021.
Frontline Defenders yang berbasis di Irlandia menganggap Israel sebagai tersangka utama penyadapan tersebut.
Dua penyusupan pertama diidentifikasi pada Selasa (19/10/2021) dan tiga hari setelah Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz menuduh enam kelompok masyarakat sipil Palestina sebagai organisasi teroris.
Baca Juga: Ngeri! Remaja 13 Tahun Asal Palestina Tewas Ditembak Mati Pasukan Israel
Koresponden Al Jazeera Harry Fawcett melaporkan dari Ramallah bahwa Frontline Defenders tidak sepenuhnya menuduh bahwa Israel berada di balik ini, tetapi timing dari semua ini sangat menarik.
Dua warga Palestina lainnya yang diretas yang bersedia disebutkan namanya adalah peneliti bernama Ghassan Halaika dari kelompok hak asasi Al-Haq dan pengacara bernama Salah Hammouri dari organisasi Addameer.
Peneliti hukum di Al-Haq, Tahseen Elayyan, mengungkapkan bahwa kelompoknya telah mendesak PBB untuk menyelidiki penyadapan tersebut.
“Kami menyerukan PBB untuk meluncurkan penyelidikan untuk mengungkap pihak dibalik layar yang menggunakan program ini di telepon aktivis hak asasi manusia, sebuah langkah yang membahayakan hidup mereka,” kata Elayyan kepada Reuters.
NSO Group telah memicu kemarahan dari kelompok hak asasi manusia awal tahun ini setelah penyelidikan oleh media internasional mengungkapkan spyware Pegasus perusahaan tersebut digunakan oleh pasukan keamanan dan pemerintah otoriter di beberapa negara.
Pemerintahan Presiden AS Joe Biden pekan lalu memasukkan NSO Group dan pesaing Israel yang kurang dikenal, Candiru, ke dalam daftar hitam karena mengembangkan dan memasok spyware ke pemerintah asing yang menggunakan alat ini untuk tujuan jahat.
Teknologi tersebut telah digunakan untuk meretas dan menyadap jurnalis, aktivis hak, dan pembangkang politik, mulai dari Meksiko hingga Arab Saudi sejak 2015.
(Jacinta Aura Maharani)
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Kebakaran Empat Lawang, 20 Rumah Terdampak dan Kerugian Tembus Rp5,2 Miliar
-
3 Pelaku Begal Polisi di Palembang Ternyata Ayah, Anak dan Seorang Perempuan
-
Jadi Ojek Pangkalan, Polisi di Palembang Ditusuk 4 Kali dan Motornya Dibawa Kabur Begal
-
Kemiskinan Sumsel Turun, Garis Kemiskinan Naik 3,15 Persen Jadi Rp628 Ribu Per Bulan
-
Kasus Iklan BJB, Ada Dugaan Aliran Dana ke Lisa Mariana Lewat Pihak Nominee
-
KPK Tahan Bos-Bos Iklan Bank BJB, Dirut Yuddy Renaldi Mendadak Sakit Saat Akan Dibui
-
BRI Beri Diskon Spesial Seminar Johnny Andrean Lewat Aplikasi BRImo
-
Menuju IFRC 2026, ERT NHM Perdalam Teknik dan Strategi Penyelamatan
-
Gelar Dicopot! Profil Menantu Sultan Brunei yang Bikin Penasaran Publik, Ternyata Ini Kasusnya
-
PSSI Murka! Justin Hubner dan Keluarga Jadi Sasaran Ancaman, Publik Diminta Hentikan Serangan