Suara.com - Proyek penelitian sejarah di Belanda menyimpulkan, tentara Belanda yang dikirim ke Indonesia tahun 1940-an melakukan kekerasan ekstrem secara struktural, termasuk eksekusi illegal.
Menghadapi perlawanan dari pihak Indonesia yang menuntut kemerdekaan, pasukan Belanda di Indonesia selama periode 1940-an telah menggunakan "kekerasan ekstrem, sering secara sengaja,” demikian kesimpulan proyek penelitian sejarah di Belanda yang hasilnya dirilis hari Kamis (17/2).
Di Amsterdam saat ini sedang berlangsung pameran tentang Revolusi Kemerdekaan Indonesia di Rijksmuseum, yang digagas bersama kurator dan museum dari Indonesia.
Penelitian itu adalah sebuah proyek jangka Panjang yang berlangsung selama 4 1/2 tahun dan dilakukan oleh para ahli dari tiga lembaga penelitian sejarah.
Hasil penelitian mereka bertentangan dengan pandangan lama pemerintah Belanda, bahwa pasukannya hanya terlibat dalam kekerasan ekstrim secara sporadis ketika mereka memerangi pasukan pro-kemerdekaan di Hindia Belanda.
Dalam sebuah pernyataan, para peneliti mengatakan, sumber yang mereka konsultasikan menunjukkan bahwa penggunaan kekerasan ekstrem oleh angkatan bersenjata Belanda tidak hanya meluas, tetapi juga sering disengaja.
Tindakan itu juga "dimaafkan di setiap tingkatan: politik, militer dan hukum.''
Pemimpin Belanda sudah minta maaf atas beberapa peristiwa
Pada tahun 2013, pemerintah Belanda telah meminta maaf atas beberapa kekejaman yang dilakukan pasukannya antara tahun 1945 sampai 1949, ketika Belanda akhirnya mengakui kemerdekaan Indonesia.
Baca Juga: Akui Kekerasan Militer Saat Perang Kemerdekaan Indonesia, PM Belanda Minta Maaf
Raja Belanda saat ini, Willem-Alexander, juga secara resmi telah meminta maaf selama kunjungan kenegaraan ke Indonesia tahun 2020 atas agresi negaranya di masa lalu. Sebelumnya sebuah laporan Belanda dari tahun 1969 telah mengakui adanya "ekses-ekses kekerasan” di Indonesia, tetapi berpendapat bahwa pasukan Belanda ketika itu melakukan "aksi polisi” yang dipicu oleh perang gerilya dan aksi teror.
Temuan para peneliti sejarah yang dirilis hari Kamis ini memberikan gambaran yang jauh lebih suram tentang tindakan pasukan Belanda.
"Selama perang, angkatan bersenjata Belanda menggunakan kekerasan ekstrem secara rutin dan struktural, dalam bentuk eksekusi di luar hukum, perlakuan buruk dan penyiksaan, penahanan di bawah kondisi yang tidak manusiawi, pembakaran rumah dan desa, pencurian dan perusakan properti dan persediaan makanan, serangan udara yang tidak proporsional dan penembakan artileri, dan apa yang seringkali merupakan penangkapan massal secara acak dan penahanan massal,'' kata proyek penelitian itu dalam pernyataannya.
Angkatan bersenjata dan pemerintah Belanda bertanggung jawab Selanjutnya para peneliti menulis: "Angkatan bersenjata Belanda sebagai institusi bertanggung jawab atas kekerasan yang digunakan itu, termasuk kekerasan ekstrem. Namun mereka beroperasi dalam konsultasi erat dengan dan di bawah tanggung jawab pemerintah Belanda.''
Seorang perwakilan dari Institut Veteran Belanda mengkritik temuan tersebut.
"Hasil penyidikan menimbulkan rasa tidak nyaman dan kekhawatiran dalam diri saya, karena para veteran yang bertugas di bekas Hindia Belanda itu secara kolektif ditempatkan sebagai tersangka berkat kesimpulan yang tidak berdasar," kata direktur lembaga itu, Paul Hoefsloot, dalam sebuah pernyataan tertulis.
Berita Terkait
-
Panas Lagi! AS Luncurkan Serangan Balasan ke Iran Usai Insiden di Selat Hormuz
-
Dari Pupuk ke Klinik Desa, KDMP Tamanmartani Buktikan Koperasi Mampu Tingkatkan Kesejahteraan Warga
-
Jokowi Mulai Safari Politik, PAN Merasa Tak Terancam: Kami Tunggu PSI Lolos ke Senayan
-
Dibalik Angkernya Tanah Sengketa: Benarkah Terinspirasi dari Tragedi Nyata yang Ditutupi?
-
Zico Ingatkan Timnas Brasil Waspadai Kekuatan Jepang di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Mahfud MD Soroti Kemunduran Demokrasi, Sebut Politik Uang Gerus Penegakan Hukum
-
Panas Lagi! AS Luncurkan Serangan Balasan ke Iran Usai Insiden di Selat Hormuz
-
Jokowi Mulai Safari Politik, PAN Merasa Tak Terancam: Kami Tunggu PSI Lolos ke Senayan
-
Batas Penghasilan MBR Rp8 Juta Tak Cukup, Pemerintah Harus Tekan Biaya Hidup
-
Ucapan 'Adikku Sayang' Berujung Penganiayaan Caddy Golf, Pelaku Dibekuk di Lampung
-
Open House Sekolah Rakyat Surabaya, Orang Tua Terharu Lihat Perkembangan Siswa
-
1 Tahun Sekolah Rakyat, Wamensos: Alhamdulillah Cukup Berhasil
-
Bukan Sekadar Kunjungan Biasa, Jokowi Ungkap Alasan Hadiri Rakorda PSI di Lampung
-
Penandaan APBD 2027: Langkah Strategis Kemendagri Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
-
Mendagri: Parade Tenun Belu Jaga Warisan Budaya dan Gerakkan Ekonomi Daerah