Para pengamat keamanan juga berpandangan bahwa Cina menyadari perbedaan logistik antara invasi Moskow ke Ukraina dan kemungkinan serangannya ke Taiwan.
Sementara militer Rusia dapat menyeberang ke Ukraina, Cina tidak dapat melakukan hal yang sama dalam potensi konflik dengan Taiwan, demikian menurut Chen Fang-Yu, seorang profesor ilmu politik di Universitas Soochow di Taiwan.
"China akan menilai di mana peluangnya, dan apa yang bisa mereka ambil dari krisis Ukraina," kata Chen kepada DW.
Lev Nachman, seorang peneliti pascadoktoral di Pusat Studi Cina Fairbank Universitas Harvard, mengatakan bahwa Cina sedang mencoba untuk menyeimbangkan tindakannya dalam menghadapi konflik Ukraina.
"Cina ingin memberi diri mereka ruang diplomatik sehingga orang tidak perlu mengharapkan Cina untuk berperilaku agresif seperti yang dilakukan Rusia, setidaknya dalam jangka pendek," katanya kepada DW.
"Jika ini adalah momen Cina untuk merebut kembali Taiwan, mereka tidak akan bertindak dengan cara yang sama seperti Rusia," tambahnya.
Bagaimana Barat akan menanggapi potensi serangan Cina?
Para pengamat mengatakan bahwa tanggapan Barat terhadap potensi konflik antara Cina dan Taiwan kemungkinan akan berbeda dari bagaimana mereka menanggapi perang di Ukraina.
Sejauh ini, negara-negara Barat telah memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Moskow dan memasok peralatan militer sebagai cara mereka mendukung Ukraina.
Baca Juga: Bagaimana Warga Taiwan Tanggapi Invasi terhadap Ukraina?
Nachman pun mengatakan tanggapan AS akan berbeda dengan potensi agresi Cina terhadap Taiwan.
"AS kemungkinan akan melakukan intervensi jika Taiwan diserang oleh Cina," katanya.
"Jika Taiwan terlalu provokatif, yang sangat kecil kemungkinannya, maka kemungkinan dukungan militer AS akan berkurang. Taiwan tidak serta merta memiliki cek kosong untuk berasumsi bahwa ia dapat melakukan apa pun yang diinginkannya dan AS akan mempertahankannya," tegas Nachman.
Selain itu, Glaser mengatakan bahwa AS kemungkinan akan melakukan intervensi militer jika Cina menyerang Taiwan tanpa alasan. Sementara AS telah lama menjunjung tinggi konsep "ambiguitas strategis" vis-a-vis Taipei, Chen percaya ada tanda-tanda bahwa kebijakan Washington terhadap Taiwan menjadi lebih lugas dari hari ke hari.
"Sejak Biden menjabat, pemerintah AS telah menyoroti pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan dalam banyak pernyataan diplomatik yang dikeluarkannya dengan sekutu," katanya kepada DW.
"Ini menunjukkan bahwa Washington sangat peduli dengan situasi di seberang Selat Taiwan. Sebaliknya, AS tidak pernah membuat pernyataan serupa tentang Ukraina, dan tetap mempertahankan bahwa mereka tidak akan mengirim pasukan ke Ukraina," tambahnya.
Dalam pernyataan publiknya pada hari Jumat (25/02), Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengatakan bahwa Taipei terus memperkuat pertahanan sipil dan kemampuannya untuk melawan perang kognitif, yang dapat mencegah kekuatan eksternal menggunakan situasi di Ukraina untuk membuat dan menyebarkan disinformasi yang bertujuan merusak moral di kalangan rakyat Taiwan. Ed: rap/hp
Berita Terkait
-
Prahara Internal PBNU, Menakar Jejak Konflik KH Miftahul Akhyar dari Surabaya hingga Pusat
-
5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
-
Dari Tulus hingga Hindia, Sunset di Kebun Tawarkan Pengalaman Festival Musik di Tengah Ruang Hijau
-
Resmi! Zulhas Lantik Uya Kuya Pimpin PAN Jakarta Gantikan Eko Patrio
-
100 Ribu Buruh Perusahaan Otomotif "V" Terancam PHK
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
Resmi! Zulhas Lantik Uya Kuya Pimpin PAN Jakarta Gantikan Eko Patrio
-
GMNI Desak Pemerintah Hentikan Total Program Kopdes Merah Putih: Jangan Boroskan APBN
-
Kemenhan Akui 32 Peserta Hamil Sempat Ikut Latsarmil SPPI, Akhirnya Dipulangkan
-
Gempa Pacitan Terasa hingga Yogyakarta, KAI Sempat Hentikan Perjalanan Kereta
-
Jangan Lewatkan Keseruan Belanja di Alfamidi Akhir Pekan Ini: Bonus Spesial Sudah Menanti
-
5 Peserta SPPI Tewas, TB Hasanuddin Desak Latihan Militer Calon Manajer Koperasi Dihentikan
-
Warga Keluhkan Dentuman Kembang Api di Prambanan, Kades Sebut Acara Pre-Wedding Sespri Prabowo
-
5 Peserta SPPI Tewas, Kemhan Evaluasi Total Program Latsarmil
-
Bukan Untuk Cetak Tentara, Kemhan Ungkap Misi Utama Latsarmil Calon Manajer Kopdes
-
Prahara Internal PBNU, Menakar Jejak Konflik KH Miftahul Akhyar dari Surabaya hingga Pusat