News / Internasional
Kamis, 03 Maret 2022 | 11:59 WIB
DW

Bank Eropa Societe Generale dan Credit Suisse dilaporkan telah berhenti mendanai pembelian semua komoditas dari Rusia.

Keadaan ini membuat banyak orang di Eropa merasa cemas karena sepertiga pasokan gas ke Eropa dan sekitar seperempat minyak berasal dari Rusia.

Gangguan apa pun dalam pasokan gas membuat orang-orang di Eropa tidak punya cukup gas untuk memanaskan rumah mereka.

Tagihan listrik pun akan sangat tinggi karena terbatasnya bahan bakar. Harga pangan melonjak

Krisis ini juga telah meningkatkan kekhawatiran akan kelancaran pasokan biji-bijian seperti gandum dan jagung, dan minyak sayur.

Harga gandum di pasar berjangka di Chicago telah melonjak setelah menyentuh tertinggi dalam sekitar 13 tahun terakhir pada hari Jumat (25/02), jagung juga diperdagangkan pada level harga yang tinggi.

Rusia dan Ukraina bersama-sama menyumbang sekitar 30% dari ekspor gandum global, menyumbang hampir seperlima perdagangan jagung, dan sekitar 80% dari ekspor minyak bunga matahari internasional.

Kedua negara ini adalah merupakan pemasok utama gandum ke Timur Tengah dan Eropa, dengan Turki dan Mesir menjadi importir gandum terbesar dari Rusia.

Para ahli khawatir bahwa operasi militer Rusia akan semakin meningkatkan harga pangan di negara-negara konflik seperti Libya, Yaman, dan Lebanon, dan memperdalam krisis pangan di negara-negara tersebut.

Baca Juga: Klaim Presiden Ukraina: 9.000 Tentara Rusia Tewas Dalam Sepekan

Konflik tersebut telah mengganggu ekspor dari pelabuhan Laut Hitam, yang digunakan untuk mengirim biji-bijian ke Asia, Afrika, dan Uni Eropa.

Pada hari Senin (28/02), Mesir terpaksa membatalkan tender pengadaan gandum setelah hanya menerima beberapa penawaran dengan harga yang sangat tinggi.

Inflasi diperkirakan tetap tinggi

Bagi kebanyakan orang di seluruh dunia, dampak ekonomi dari konflik Ukraina dan sanksi akan dirasakan dalam bentuk inflasi yang lebih tinggi yang terutama disebabkan oleh harga energi, logam dan pangan yang lebih tinggi.

Harga aluminium telah melonjak ke rekor tertinggi, melampaui puncaknya pada tahun 2008 saat krisis keuangan global.

Pedagang khawatir bahwa gabungan sanksi terhadap Rusia dan kebijakan ritel dari Moskow dapat mengganggu pasokan aluminium global. Rusia memproduksi sekitar 6% dari aluminium dunia.

Sementara pasokan logam yang padat energi dalam proses produksinya juga akan terpukul oleh harga energi yang lebih tinggi.

Kekurangan daya juga dapat menyebabkan lebih banyak pabrik ditutup akibat tidak bisa berproduksi.

"Adanya gangguan baru dalam rantai pasokan global adalah risiko utama dan, paling tidak, harga komoditas ini kemungkinan akan tetap tinggi untuk beberapa waktu, ini membuat inflasi global lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama," kata Jason Tuvey analis dari Capital Economics.

Dengan demikian, invasi tersebut berisiko menggagalkan pemulihan ekonomi global akibat pandemi COVID-19.

Ketidakpastian seputar pemulihan ekonomi pada akhirnya dapat menunda rencana bank-bank sentral di seluruh dunia untuk menaikkan suku bunga.

Ini berarti sejumlah pihak bisa sedikit bernapas lega karena adanya bunga hipotek murah dan bunga rendah untuk pinjaman pribadi. ae/

Load More