Suara.com - Seruan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, kepada khalayak internasional untuk datang ke Ukraina dan angkat senjata melawan pasukan Rusia telah menarik minat "ribuan" orang dari berbagai negara dan latar belakang, mulai dari veteran hingga koki restoran.
Dalam pidatonya hari Minggu (27/02), Zelensky mengumumkan pembentukan legiun relawan internasional seraya mengajak masyarakat internasional bergabung.
"Ini adalah bukti utama dukungan Anda kepada negara kami," katanya.
Keesokan harinya, Hanna Maliar selaku Deputi Menteri Pertahanan Ukraina, mengklaim bahwa pihaknya telah menerima "ribuan" permintaan dari calon relawan di berbagai negara.
https://twitter.com/DefenceU/status/1498260544733724674
Sejumlah relawan telah menuju Ukraina untuk mendaftar secara langsung. Lainnya mendaftar di kedutaan dan konsulat Ukraina yang tersebar di banyak negara.
Mobilisasi ini berlangsung ketika pasukan Rusia membombardir serta mengepung sejumlah wilayah dan kota-kota kunci di Ukraina.
'Putin harus dihentikan'
Ada berbagai macam alasan para relawan untuk angkat senjata di Ukraina.
Joseph, misalnya. Pria berusia 32 tahun ini datang ke pusat komunitas Ukraina di Holland Park, London barat, yang didirikan untuk menerima sumbangan. Dia ke sana untuk mencari orang-orang Ukraina yang bisa memberinya informasi tentang cara mendaftar menjadi relawan tempur.
Baca Juga: Mengaku Hancur Lihat Kekerasan di Ukraina, Petenis Belarus Azarenka Inginkan Perdamaian
Padahal, Joseph tidak punya pengalaman militer dan nihil keterkaitan dengan Ukraina selain seorang teman asal Ukraina semasa kuliah.
"Saya paham bagaimana tegangnya situasi di sana dan saya paham apa yang kita coba hindari, [tapi] saya pikir kita harus menghentikan langkah [Putin]. Jika kita tidak membantu Ukraina dengan layak, maka khalayak bisa menjadi relawan. Saya harap kami bisa berdampak walau kecil," papar Joseph kepada BBC.
Baca juga:
- Mengapa Indonesia tidak menyebut 'invasi dan Rusia' dalam perang di Ukraina?
- Pasukan Rusia kepung kota-kota kunci Ukraina, investigasi kejahatan perang dimulai
- Ukraina diserang: Hari ketujuh invasi Rusia dalam peta
Menteri Luar Negeri Inggris, Liz Truss, menuturkan saat diwawancarai BBC bahwa dirinya akan mendukung orang-orang Inggris yang ingin angkat senjata di Ukraina, walau pemerintah telah menegaskan bahwa itu bukan kebijakan resmi negara Inggris
Kementerian Luar Negeri Inggris bahkan "menentang semua perjalanan ke Ukraina" dan "cara terbaik dalam membantu Ukraina saat ini adalah memastikan Putin gagal".
Sikap itu serupa dengan anggota parlemen Inggris, Tobias Ellwood. Pria yang menjabat Ketua Komite Pertahanan Majelis Rendah dan pernah berdinas di kemiliteran ini menulis di Twitter:
"Mohon JANGAN pergi jika Anda tidak punya pengalaman tempur. Anda dan orang lain yang mengurus Anda bisa tewas terbunuh."
Akan tetapi, Joseph tidak gentar. Dia berkeras menuju Ukraina dan melawan pasukan Rusia.
"Saya punya teman-teman yang pernah menjalani dinas militer sehingga saya punya gambaran apa yang bakal terjadi. Saya sudah paham peringatan-peringatannya," kata Joseph.
Dia mengaku reaksi dari keluarganya cukup beragam, tapi mereka bisa memahami alasannya untuk menjadi relawan tempur.
"Pada pokoknya adalah, jika Anda meyakini sesuatu, jika Anda secara tulus meyakini sesuatu—seperti kemerdekaan, sistem demokrasi—Anda harus bersedia untuk mati untuk mencapainya.
"Hidup kita singkat, maka jadikan itu bermakna."
Baca juga:
- Mengapa Putin menyerbu Ukraina?
- 'Perang ekonomi' terhadap Rusia: 'Tiada dollar, saya tidak tahu harus berbuat apa!'
- Apa itu NATO dan mengapa Putin dan Rusia tidak mempercayainya?
Kedutaan Besar Ukraina di Inggris mengatakan kepada BBC bahwa pemerintah Ukraina mendukung "semua orang yang ingin menyokong negara kami dan melawan agresi Rusia". Namun, pihak kedutaan tidak berperan membantu orang-orang untuk menjadi relawan.
Alih-alih jalur resmi, jaringan informal telah bermunculan untuk membantu warga Inggris bertempur di Ukraina.
Dari veteran hingga koki restoran
Selain punya beragam alasan untuk memerangi Rusia di Ukraina, para relawan memiliki latar belakang yang bervariasi.
Dax, misalnya, adalah mantan serdadu infantri dari Divisi Penerjun Payung ke-82 Amerika Serikat. Pria berumur 26 tahun itu berencana menuju Ukraina bersama mantan serdadu AS lainnya.
"Saya merasa bersalah jika tidak pergi," ujarnya.
Baca juga:
- Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky: Dari komedian menjadi pemimpin perang melawan Putin
- Puluhan WNI dievakuasi dari Kyiv di Ukraina ke Romania
- Apa dan siapa oligarki, kelompok super kaya yang juga terkena sanksi Barat
Contoh berikutnya adalah Bryson Woolsey. Pria asal Kanada itu berhenti dari pekerjaannya sebagai koki restoran demi bertempur di Ukraina, walau tidak punya pengalaman atau latihan tempur.
Dia berencana membeli tiket pesawat ke Polandia, kemudian menyeberang ke Ukraina.
"Saya merasa harus melakukan sesuatu," kata pria berusia 33 tahun tersebut kepada kantor berita Reuters.
Dia mengaku gusar setelah melihat tayangan para perempuan dan anak-anak terluka di Ukraina.
Di grup-grup daring, sejumlah veteran militer sudah mewanti-wanti relawan tanpa pengalaman tempur bahwa mereka akan menuju zona konflik. Ketiadaan pengalaman akan menjadi beban bagi diri mereka dan orang lain.
Tapi itu tidak menghentikan Tai B, mahasiswa jurusan jurnalistik di New York.
"Saya tidak ingin menjadi pahlawan atau martir, saya hanya ingin melakukan yang benar," kata Tai, yang mengaku bisa memasak, dasar-dasar mekanik, dan cara memegang senjata api.
Bagaimanapun, tidak semua calon relawan ingin bertempur.
Di Quebec, Kanada, seorang dokter bernama Julien Auger bersiap meninggalkan keluarga kecilnya untuk menjadi tenaga medis guna membantu Kementerian Kesehatan Ukraina. Dia akan memberikan bantuan kemanusiaan secara "netral".
"Opini global dan sokongan saat ini adalah kunci untuk menyelesaikan konflik," kata bapak dua anak itu.
Menteri Luar Negeri Kanada, Melanie Joly, berkata kepada wartawan bahwa menjadi relawan brigade internasional Ukraina adalah hak setiap warga Kanada. Adapun Departemen Luar Negeri AS tidak merespons saat dimintai kesempatan wawancara mengenai topik ini.
Berita Terkait
-
Ogah Balik ke Real Madrid, Jacobo Ramon Ungkap Alasan Bertahan di Como
-
Krisis Ekonomi Ubah Tradisi Idul Adha di Negara Ini, Harga Kurban Gila-Gilaan
-
Niat Baik Berujung Petaka! Melerai Cekcok Sopir Taksi, Pemuda di Kemayoran Malah Dikeroyok Pemabuk
-
AS Serang Iran Saat Negosiasi Damai Berjalan, Timur Tengah di Ambang Ledakan
-
10 Serangan dalam 30 Menit! Rudal-rudal Israel Tewaskan 11 Warga Lebanon
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
Terkini
-
Lawan Impunitas, Nasib Kasus Air Keras Andrie Yunus Ditentukan 2 Juni
-
Kementerian PANRB dan Kemenkes Perkuat SDM Kesehatan Dukung Program Prioritas Presiden
-
Bocoran Der Spiegel: AS Berencana Pangkas Drastis Kontribusi Militer untuk NATO
-
Misteri CCTV 'Gaib' di Kasus Andrie Yunus: Muncul Saat Rilis, Lenyap di Meja Hijau
-
Fleksibilitas Kerja ASN Perkuat Budaya Kerja Profesional dan Berbasis Kinerja
-
Gagah! Sapi Kurban 'Kelas Berat' 1 Ton Milik Prabowo Tiba di Masjid Istiqlal
-
Siapa Prihatini Cs? Peneliti yang Diduga Tipu Pakar Dunia di Denmark Ternyata Bukan Dosen Lokal
-
Skandal Riset Palsu Demi Travel Grant, UNY Benarkan Rivaldy dan Prihantini Adalah Alumni
-
Pemkab Mojokerto Kucurkan Dana Rp7,5 Miliar untuk Insentif 6 Ribu Guru TPQ
-
Jalur KRL Tangerang Kembali Normal Setelah Tiga Jam Gangguan