Suara.com - Para dokter mulai melihat peningkatan tajam dalam jumlah kelahiran prematur di sejumlah wilayah Ukraina, saat konflik memasuki bulan kedua.
Klinik-klinik pralahir di Kharkiv dan Lviv mengatakan kepada BBC bahwa tingkat kelahiran prematur meningkat dua atau tiga kali lipat dalam beberapa pekan terakhir, akibat tres dan persoalan medis terkait perang.
Polina lahir di klinik perinatal regional Kharkiv dengan berat hanya 630g. Sementara, berat rata-rata bayi perempuan yang lahir normal adalah lima kali lipat.
Viktoria, yang memiliki berat 800g, lahir di rumah sakit perinatal Lviv pada awal Maret bersama dengan saudara kembarnya, Veronika, setelah ibunya kabur dari Kyiv.
Dua gadis kecil ini, satu adalah pengungsi, dan lainnya berjuang untuk bertahan hidup di sebuah kota yang dibombardir pasukan Rusia, mengungkapkan pilihan melelahkan yang dihadapi ibu-ibu dan tim dokter di sini.
Iryna Kondratova, direktur medis yang bertanggung jawab atas perawatan Polina, mengatakan kepada saya bahwa kelahiran prematur melonjak tiga kali lipat dari angka normal di kliniknya, dan saat ini merupakan 50% dari semua persalinan.
"Infeksi, kurangnya bantuan medis, gizi buruk: perang telah menciptakan risiko kelahiran prematur," kata Dr Kondratova.
"Angka kelahiran prematur kami sudah tinggi, karena kami memiliki banyak pasien dari Donetsk dan Luhansk.
"Di zona konflik, kaum perempuan menghabiskan banyak waktu di ruang bawah tanah yang hiruk-pikuk, di mana terjadi infeksi aktif. Dan juga lebih sulit bagi perempuan untuk mendapatkan bantuan medis jika mereka membutuhkannya."
Baca Juga: Presiden Ukraina: Negara Penghasil Migas Bertanggung Jawab Atas Serangan Rusia
Baca juga:
- 'Kemo, serangan udara, dan stres', perjuangan anak-anak kanker Ukraina mencari pengobatan di tengah perang
- 'Cucu perempuan saya, kepalanya benar-benar hancur' - Anak-anak Ukraina turut jadi korban serangan Rusia di Mariupol
- Kisah dokter asal India bertahan hidup di bungker Ukraina bersama macan kumbang dan jaguar
Sementara persentase kelahiran prematur di kliniknya telah meningkat, Iryna mengatakan jumlah total pasiennya menyusut draktis, lantaran para perempuan melarikan diri dari pertempuran di Kharkiv.
Di kawasan pedesaan di Lviv, jauh dari garis depan, mereka melihat gelombang pengungsi.
Ibu Viktoria, Iryna Zelena, melarikan diri ke Lviv dari Kyiv tepat sebelum dia melahirkan.
"Kami pergi karena ada penembakan massal," katanya. "Kami sudah berada di tempat penampungan selama ini."
Dia meyakini stres akibat menghabiskan hari-hari pertama perang di dalam bunker berpengaruh pada kelahiran Viktoria - dan saudara kembarnya Veronika - lebih dari tujuh minggu lebih awal.
Di bagian koridor bangunan klinik, di unit pra-kelahiran, Olga Bogadiza tengah hamil enam bulan dan juga mengharapkan anak kembar.
Dia juga melarikan diri dari Kyiv, dan didera frustasi saat mencari tempat aman untuk melahirkan bayinya, jauh dari penembakan dan jam malam.
Butuh tiga hari untuk mencapai Lviv, katanya, dan selama itu dia tidak bisa makan atau minum karena takut.
"Pernahkah Anda mendengar pepatah, 'ketakutan terhadap binatang'?" dia bertanya padaku.
"Ini tidak seperti takut atas rasa sakit, atau melahirkan - ketakutan yang membuat kulit Anda sakit.
"Anda sangat takut tidak bisa makan atau berpikir. Ketika saya tiba di Lviv, dokter mengatakan saya telah kehilangan 3,5 kg, dan kehidupan bayi saya dalam bahaya karena perkembangan mereka berhenti."
Baca juga:
- Penghuni kebun binatang terperangkap perang Ukraina, ada yang stres bahkan bunuh diri
- Perempuan yang menolak menelantarkan anjingnya di zona perang Ukraina
- Perang di Ukraina: Kisah keluarga yang terpaksa menyeret nenek mereka dari serangan mortir
Anak kembarnya sekarang sudah mulai tumbuh lagi. Putranya yang berusia lima tahun bertanya padanya di setiap kunjungan kapan saudara laki-lakinya akan datang.
Olga adalah orang Rusia, suaminya orang Ukraina. Anak-anak mereka adalah simbol perlindungan cinta ketika negara mereka saling berperang.
Tetapi ketika rudal-rudal Rusia menghantam sasarannya di Lviv, muncul tantangan untuk merawat bayi-bayi yang rapuh seperti Viktoria dan Polina yang dibawa pulang.
Di Kharkiv, Dr Kondratova mengatakan para staf kesehatan telah memutuskan untuk tinggal di bangsal perawatan intensif dengan bayi-bayi yang lahir prematur, bahkan setelah ada peringatan serangan udara.
"Anda tidak bisa membawa anak seberat 600 gram ke ruang bawah tanah," katanya.
"Itu akan menjadi perjalanan satu arah. Jadi kami tinggal bersama anak-anak dan hidup bersama mereka selama serangan bom."
Bagi ibu Viktoria, Iryna, raungan sirene serangan udara menimbulkan dilema yang sulit.
Adik Viktoria, Veronika, telah meninggalkan perawatan intensif dan tinggal bersama ibunya di bangsal umum.
Ketika sirene berbunyi, Iryna membawanya ke tempat perlindungan bom - tetapi harus meninggalkan Viktoria di inkubatornya, karena dia terlalu rapuh untuk bergerak.
"Secara emosional, itu sangat sulit," kata Iryna. "Ini seperti merobek hatiku menjadi dua. Satu bayi datang bersamaku, yang lain dirawat oleh dokter.
"Aku selalu berpikir, 'apakah semuanya baik-baik saja? Bagaimana perasaannya?' Tetapi dalam situasi ini, kami hanya harus kuat."
Rumah sakit di Lviv - kota yang pernah dilihat sebagai tempat berlindung yang aman dari konflik - telah menutup beberapa jendela, tetapi sekarang juga membangun bunker bawah tanah khusus untuk menampung para pasien yang paling rapuh di inkubator.
Berbagai rumah sakit telah menjadi target serangan dalam perang ini, dan staf di sini khawatir.
Dalam konflik yang mencengkeram dunia ini, bayi seperti Viktoria dan Polina berjuang sendiri untuk bertahan hidup.
Iryna membelai tangan putrinya di dalam inkubator.
"Dia orang Ukraina," kata Iryna, "dan dia akan menang."
Berita Terkait
-
6 Solusi Baru Shopee untuk Jaga Momentum Pertumbuhan Produk Lokal
-
Bagaimana Jadinya Jika Domba Menjadi Detektif?
-
Sempat Rendahkan Timnas Indonesia, Sergio Aguero Ngamuk Usai Media Vietnam Sebut Malaysia Tim C
-
Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Bright Gas per 15 Agustus 2026
-
Bobby Nasution Jenguk Murid Korban Keracunan MBG Karo di RS Haji, Pastikan Penanganan hingga Pulih
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
Terkini
-
Alarm Keamanan Digital, Indonesia Dihantam 15 Ribu Serangan Seluler di Kuartal I 2026
-
Gempa NTT Tewaskan 14 Orang, Puluhan Rumah Rusak hingga Warga Butuh Makanan
-
8 Benda di Kamar Tidur yang Bisa Menghalangi Datangnya Jodoh Menurut Feng Shui
-
Bukan Sekadar Dayang: Genduk Duku dan Perempuan yang Melawan Kuasa
-
HUT ke-81 RI, Saatnya Berburu Promo Spesial dari BRI
-
Profil Putri Juficha: Runner Up Miss Grand Indonesia 2025 yang Meninggal Dunia saat Ulang Tahun
-
Diperiksa KPK, Ketua DPRD Kuansing Ngaku Tak Tahu Uang untuk Raja Juli
-
10 Mobil Terlaris 2026: Juli BYD Atto 1 Kudeta Innova, Mobil Niaga Laku Keras
-
Serba Hemat di Bulan Kemerdekaan, Cek Promo BRI
-
Miss Earth Indonesia 2025 Putri Andriani Juficha Meninggal Dunia Tepat di Hari Ulang Tahunnya