Suara.com - Sebuah studi terbaru menunjukkan dampak sampah plastik terhadap burung-burung di berbagai belahan dunia, diperburuk dengan limbah medis akibat pandemi Covid-19.
Para peneliti di Inggris mengumpulkan foto burung-burung dari seluruh benua, kecuali Antartika, yang bersarang atau terjerat limbah pastik.
Seperempat di antara foto-foto itu menunjukkan bahwa burung-burung tersebut terjerat limbah masker sekali pakai yang banyak digunakan selama pandemi.
Foto-foto itu dikirimkan oleh orang-orang dari berbagai negara melalui sebuah proyek yang diberi nama burung dan serpihan.
Selain terbelit sampah masker medis, para peneliti yang menjalankan proyek itu juga melihat burung-burung terjerat atau bersarang di tali, benang pancing, pita, balon, hingga sendal jepit.
Pada dasarnya, kalau seekor burung membuat sarang dengan bahan berserat panjang seperti rumput laut, ranting, atau alang-alang, kemungkinan besar ada sampah manusia di sarang itu, kata Dr Alex Bond dari Museum Sejarah Alam di London yang terlibat dalam proyek ini.
Baca juga:
- 'Kumpulan plastik raksasa' jadi rumah berbagai spesies laut di Samudera Pasifik, apa sebabnya?
- 'Mengerikan', sampah plastik sebanyak 1,3 miliar ton akan mencemari lingkungan pada 2040
- 'Cacing super' pemakan plastik beri harapan untuk masa depan daur ulang
Proyek ini dijalankan selama empat tahun demi menunjukkan betapa buruknya dampak limbah, terutama limbah plastik, terhadap unggas, sekaligus meningkatkan kesadaran dan perhatian publik.
Ketika mengulik persoalan ini, Anda akan menemukan masalah yang sama di mana-mana, tutur Dr Alex.
Baca Juga: Masyarakat Desa Jaten Karanganyar dan Problematika Pengelolaan Sampah Plastik
Temuan kami benar-benar menggambarkan cakupan geografis yang luas. Kami menerima laporan dari Jepang, Australia, Sri Lanka, Inggris, Amerika Utara. Jadi ini benar-benar persoalan global.
Para peneliti ini melihat begitu banyak foto yang menunjukkan alat pelindung diri (APD) yang banyak digunakan selama pandemi.
Hampir semuanya menunjukkan ada masker, kata Bond.
Bayangkan berbagai bahan yang ada di satu masker bedah, kami melihat ada burung yang kakinya terjerat tali masker kusut, atau burung yang terluka karena mencoba menelan kain maupun potongan plastik keras yang biasanya menahan posisi masker di atas hidung Anda.
Jadi meskipun kami menggunakan istilah plastik karena lebih umum, tapi sebenarnya ada berbagai material yang berbeda, seperti yang terlihat dari masker.
Melalui proyek ini, para peneliti ingin menyoroti masalah sistemik yang menyebabkan begitu banyak sampah berakhir di lingkungan.
Peneliti utama dari Universitas Dalhousie di Kanada, Justine Ammendolia, mengatakan kepada BBC News bahwa dampak dari sampah-sampah plastik terhadap spesies di seluruh dunia sangat menghancurkan.
"Pada April 2020, untuk pertama kalinya muncul gambaran seekor burung yang tergantung di masker di pohon di Kanada. Setelah itu, gambaran serupa muncul dari berbagai negara, kata dia.
Ini benar-benar menunjukkan bahaya yang ditimbulkan oleh manusia terhadap lingkungan dalam waktu yang sangat singkat di berbagai belahan dunia.
Mengganti sikat gigi bambu atau tas belanja kanvas tidak akan menyelamatkan bumi, [karena] sebagian besar produksi plastik skala besar saat ini justru berasal dari industri, ujar Dr Bond.
Jadi perlu perpaduan kebijakan dari atas ke bawah sekaligus tekanan dari bawah ke atas untuk menyatakan cukup sudah.
Menurut dia, perlu aksi global untuk mengatasi polusi plastik yang serupa dengan Protokol Montreal.
Protokol Montreal merupakan sebuah perjanjian yang melarang penggunaan bahan kimia perusak ozon dan dianggap sebagai salah satu perjanjian global paling sukses yang pernah ditandatangani.
Berita Terkait
-
Bukan Sekadar Ikut Tren: Memaknai Kemerdekaan Digital Gen Z di Tengah Gempuran FOMO
-
Pemerintah Masih Pelajari Mekanisme Refund untuk Konsumen Beras Fortifikasi
-
BTN Gandeng Universitas Negeri Semarang Hadirkan KTM Co-Branding untuk 12.000 Mahasiswa Baru
-
Bunga PNM Mekaar Dipangkas dari 20% Jadi 8%, Berlaku September 2026
-
Negosiasi dengan AS Masih Berlangsung, Indonesia Minta Tarif Lebih Kecil
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Petani Tebu Tetap Raih Cuan, Hasil Panennya Diserap Pabrik Gula
-
BGN: Makanan MBG Tak Layak Jangan Dimakan
-
Viral Gegara Natalius Pigai, Ini 5 Buku Tipis Wajib Baca untuk Anak Muda yang Malas Baca Buku Tebal
-
Jogja Fashion Week 2026: Panggung Kreativitas dan Regenerasi Desainer Muda
-
Terungkap! Ini Cara Polda Jatim Bongkar Kasus Penipuan Berkedok Arisan Bodong
-
Fenomena Lipstick Effect, Kaburkan Kondisi Daya Beli Lemah
-
4 Tablet Xiaomi 8/256 GB Murah Mulai Rp2 Jutaan, Cek Spesifikasinya
-
Pertamina Lubricants Berharap Harga Oli Tak Naik Lagi
-
Apa itu Tinted Sunscreen? Mengenal Kandungan dan Cara Kerjanya
-
Berlatih 2 Kali Sehari, Shin Tae-yong Pakai Metode Timnas Indonesia di Persija