Kini ia sepenuhnya bekerja online dengan memproduksi podcast meditasi di Genesis dan video yoga untuk penonton di luar negeri.
"Waktu pandemi terjadi, saya langsung tersadar dan berpikir, 'Saya sudah hampir 38 tahun. Apa yang saya inginkan dalam hidup ini?'" ujarnya.
Dalam seminggu, Phoebe hanya bekerja lima sampai 10 jam, namun menurutnya penghasilannya masih lebih banyak dibanding ketika masih bekerja penuh waktu di Australia.
"[Pengalaman] datang ke Bali dan bertemu dengan orang-orang dengan gaya hidup seperti ini menunjukkan bahwa ini adalah sesuatu yang mungkin dilakukan," katanya.
"Keseimbangan waktu bekerja dengan kehidupan pribadi di sini bagus sekali."
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sandiaga Uno percaya dengan mengubah izin tinggal wisatawan dan memberikan kemudahan bekerja dari Indonesia akan berdampak positif pada perekonomian Bali, di samping membantu menciptakan 4,4 juta pekerjaan baru hingga tahun 2024.
"Dengan visa yang berlaku selama 2 bulan dan dapat diperpanjang selama 6 bulan, saya semakin yakin kalau jumlah wisatawan asing yang tertarik untuk menetap di Indonesia akan meningkat dan otomatis akan berdampak pada kebangkitan ekonomi," katanya.
Terhitung Januari tahun ini, lebih dari 3.000 WNA sudah menggunakan visa B221 A untuk bekerja sebagai 'digital nomad'.
Negara penyumbang pengguna visa terbesar antara lain adalah Rusia, Inggris dan Jerman.
Baca Juga: Bukan Cuma Tujuan Wisata, Bali Juga Siap Jadi Pusat Industri Kesehatan Kelas Dunia
Menurut Sandiaga Uno, Indonesia juga berencana untuk mempromosikan skema terbaru ini ke Australia, Malaysia dan Singapura.
Mengubah Bali dan kebudayaannya
Bisnis penyewaan tempat tinggal di Bali juga turut mengalami keuntungan dari fenomena tersebut.
Tobi Konopka, sorang manajer properti kelahiran Jerman di Canggu, mengatakan semakin banyak orang di Bali mulai menjual lahan atau properti mereka ke 'developer' properti untuk dijadikan villa, namun kebanyakan untuk membangun akomodasi 'digital nomad'.
"Pasar permintaan villa meledak selama lima hingga tujuh tahun terakhir, terutama sebelum COVID," katanya.
Buruknya, Tobi mengatakan sawah dan pemandangan hijau Bali yang ikonik akan cepat menghilang.
"Dua tahun yang lalu ketika kami pindah, ini hanyalah sawah," katanya sambil menunjuk lahan besar di belakang rumahnya sendiri di Canggu.
"Kalau Anda melihat sekeliling, semuanya sudah jadi villa."
Namun menurutnya tidak hanya sawah yang terancam keberadaannya di Bali.
"Kebudayaan Bali dan kepercayaannya serta semua agama yang dianut warganya, yang di Bali sangatlah kuat sudah menghilang sejak villa ini dibangun," ujarnya.
"Tanah suci dan pohon suci pun sudah mulai diganti atau ditebang."
Kekhawatiran ini juga dirasakan oleh warga Bali sendiri, I Wayan Suarsana misalnya, yang merupakan Bendesa Adat Canggu.
"Saya khawatir kebudayaan kita akan terkikis," katanya.
"Masyarakat kami sudah sangat terekspos dengan pengaruh luar dan kami khawatir anak-anak kami akan terlepas dari kebudayaannya sendiri."
Namun Wayan mengatakan pembangunan tidak dapat dihindari dan ingin menangani masalah ini dengan menjalankan program kebudayaan mereka.
Petisi memperketat aturan bagi bar malam di Bali
Sekelompok warga Bali menolak kedatangan 'digital nomad', termasuk beberapa di antaranya pemilik hotel di Canggu.
Lebih dari 7.000 orang juga telah menandatangani petisi yang mengeluhkan perilaku tidak hormat dan berisik yang dikaitkan dengan semakin banyaknya bar malam baru yang banyak diminati turis.
Pembuat petisi tersebut meminta agar Pemerintah Bali, juga Presiden Jokowi dan Menparekraf Sandiaga Uno mengambil langkah untuk menjaga warisan kebudayaan setempat.
Selain itu, mereka juga meminta agar sebuah aturan yang melarang keributan di atas jam 10 malam dan denda bagi mereka yang bertindak sewenang-wenang.
Diproduksi oleh Natasya Salim dari laporan ABC News dalam bahasa Inggris
Berita Terkait
-
Denyut Tradisi Bali dalam Bait-Bait 'Saiban' Karya Oka Rusmini
-
Desa Les, Astra dan Pendidikan: Ngupapira Kearifan Lokal hingga Aksi Nyata yang Selangkah Mendahului
-
Desa Les: Fondasi Kolaboratif bagi Ketahanan Desa Berkelanjutan
-
Desa Sejahtera Astra Les Bali: Garam, Laut, dan Masa Depan Berkelanjutan
-
Garam Palungan Desa Les: Menjaga Warisan Leluhur di Bawah Matahari Bali Utara
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
Terkini
-
Basarnas Evakuasi 3 Korban Reruntuhan Bangunan Akibat Gempa Bumi NTT di Maumere
-
Bukannya Jarah Isi Rumah, Pria di Bandar Lampung Ini Malah Angkut Pagar Milik Warga
-
Chiikawa The Movie Sukses Raup 6 Miliar Yen, Tayang di Indonesia 28 Agustus
-
HUT ke-81 RI dan Merdeka dari FOMO: Saatnya Berhenti Mengikuti Semua Tren!
-
Muhammad Kiandra Ramadhipa Berbagi Inspirasi di Purwokerto Jelang AHDC 2026
-
Peringatan Dini Tsunami Gempa Bumi NTT M 7,7 Dicabut
-
Legislator PDIP Tantang Calon Hakim Agung Bereskan Kasus Terbengkalai dan Pangkas Birokrasi MA
-
2 Orang Meninggal usai Gempa Bumi NTT di Pelabuhan El Say Sikka
-
Dinding Gudang Bulog Jebol Akibat Gempa M 7,7 Nagekeo NTT, Stok Beras di Bima Berhamburan
-
Rakyat sebagai Tameng Kebijakan: Menutupi Cacat Program Lewat Narasi Mulia