Suara.com - Sebuah kelompok internasional memperingatkan pemerintah El Salvador akan adanya potensi krisis akibat tingginya jumlah narapidana di negara itu di tengah upaya Presiden Nayib Bukele memerangi geng-geng kriminal.
Kelompok Krisis Internasional (ICG) pada Selasa (5/10) menyebut dalam laporannya bahwa keinginan Presiden Bukele untuk memberantas kelompok kriminal di negara itu akan menimbulkan risiko penuhnya penjara dan memicu kekerasan balasan dari para pelaku.
Pada Maret, Bukele meminta Kongres untuk menyetujui pemberlakuan keadaan pengecualian (state of exception) yang memungkinkan negara bertindak tanpa dibatasi oleh hukum, usai angka pembunuhan mencetak rekor.
Pemberlakuan itu dipakai untuk menumpas geng-geng kejahatan yang telah meluas di negara Amerika Tengah itu dalam beberapa waktu terakhir, dang langkah tersebut didukung oleh mayoritas penduduk.
Sejak pemerintah menerapkan keputusan tersebut, polisi dan militer telah menangkap lebih dari 53.000 orang yang diduga anggota geng beserta kolaboratornya.
Tindakan itu memicu kecaman dari kelompok-kelompok pembela HAM karena dinilai telah membuat penjara kelebihan kapasitas, melanggar hak asasi seperti penyiksaan, dan kematian sekitar 80 orang dalam tahanan.
Bagi ICG, kebijakan tangan besi itu bisa menciptakan "efek bumerang".
Mereka mengatakan keadaan genting dan penangkapan tanpa aturan dapat memicu ketegangan, menimbulkan kerusuhan di penjara, pelarian, dan aksi balasan dari anggota geng lainnya.
"Di luar konsekuensi finansial, kemanusiaan dan reputasi karena populasi penjara meningkat lebih dari dua kali lipat, kebijakan itu dapat mendorong kebencian," kata ICG.
"Dan mungkin balasan dari geng kriminal yang tak melihat ada jalan lain untuk kembali ke masyarakat yang taat hukum," ujar lembaga swadaya masyarakat yang berpusat di Brussels itu, menambahkan.
Pemerintah El Salvador, yang sedang mendirikan sebuah penjara sangat besar untuk menampung 40.000 tahanan, belum menanggapi permintaan untuk berkomentar.
Sejak Bukele menjadi presiden pada Juni 2019, angka pembunuhan di negara itu berkurang lebih dari separuhnya.
Tahun lalu, media melaporkan bahwa penurunan itu tercapai sebagian karena pertemuan-pertemuan rahasia antara pemerintah dan kepala-kepala geng yang dipenjara.
Banyak geng kriminal di negara itu berasal dari Amerika Serikat. Mereka bermigrasi ke AS selama perang sipil El Salvador pada 1979-1992.
Deportasi massal di AS lalu membuat mereka kembali ke El Salvador dan negara lain di kawasan itu, wilayah tempat geng-geng mengendalikan perdagangan narkoba dan pemerasan.
Pemerintah El Salvador memperkirakan lebih dari 70.000 orang menjadi anggota kelompok Mara Salvatrucha dan pesaingnya, Barrio 18, serta geng-geng kriminal lain yang lebih kecil. [Antara]
Berita Terkait
-
Ngaku Kesepian di Penjara, Tahanan Ini Minta Dicariin Teman, Warganet: Si Rizky Billar
-
Ibu Kandung Tega Bunuh Anak Sendiri Karena Malu dengan Kelakuannya
-
Buat Konten Prank KDRT, Baim Wong dan Istrinya Dilaporkan ke Polisi: Siap-siap Diancam Penjara
-
Kerusuhan di Penjara Ekuador Tewaskan 15 Narapidana
-
10 Transformasi Lesti Kejora Sejak Menikah, Semakin Kurus Setelah Resmi Jadi Istri Rizky Billar
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan