Suara.com - Politikus dari PDIP Gilbert Simanjuntak mendesak Anies Baswedan meminta maaf terkait pernyataannya yang membandingkan pembangunan jalan di era Presiden Joko Widodo dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pasalnya menurut Gilbert, pernyataan itu tidak sesuai dengan data dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
“Heboh soal salah data tentang panjang jalan yang dibangun era Presiden SBY yang dikatakan Anies Baswedan lebih panjang dari yang dibangun Presiden Jokowi tidak diikuti permintaan maaf Anies maupun timnya,” ucapnya saat dikonfirmasi, Sabtu (27/5/2023).
Anies mengatakan hal tersebut di acara hari ulang tahun (HUT) ke-21 PKS pada sabtu (20/5/23). Anies menyebut pembangunan di zaman Presiden SBY lebih panjang dibanding era Jokowi.
Anies mengungkapkan pembangunan di era Jokowi sepanjang 1.569 km dari total jalan tol kini yakni 2.499 km. Pada zaman SBY, Anies mengatakan terdapat 144.000 km atau 7,5 kali lipat dari masa Jokowi.
Pihak Anies Salahkan Media
Pihak Anies menyalahkan salah satu media yang datanya dikutip oleh Anies Baswedan. Analis Komunikasi Politik yang mendampingi calon presiden dai Koalisi Perubahan untuk Persatuan Anies Baswedan, Hendri Satrio mengatakan Kementerian PUPR sebaiknya mengklarifikasi data ke salah satu media online saja.
Baginya, Anies hanya membaca data dari media saat membandingkan pembangunan tersebut. Kemudian Hendri juga mengatakan seharusnya pemerintah berterima kasih ke media karena pemerintah jadi melakukan pengecekan data.
Namun, Gilbert PDIP tetap pada pendapatnya karena Anies juga berkecimpung di bidang penelitian. Baginya, seharusnya Anies memvalidasi data terlebih dahulu sebelum diungkapkan ke publik.
Balasan Deputi Bappilu Partai Demokrat
Baca Juga: CEK FAKTA: Gibran Mundur dari Wali Kota Solo Demi Dampingi Anies Baswedan di Pilpres 2024, Benarkah?
Deputi Bappilu DPP Partai Demokrat Kamhar Lakumani menyampaikan bahwa data yang disebutkan oleh Anies Baswedan tidak ada yang salah karena ia menyajikan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
Kamhar menilai data BPS memperlihatkan keberpihakan pemerintah. Baginya, terlihat pada masa SBY lebih pro rakyat daripada masa kini.
"Terlepas dari motif pihak-pihak yang menjadikan ini polemik, terang benderang bahwa data BPS ini menegaskan prioritas dan bentuk keberpihakan pemerintah. Kebijakan pemerintahan Pak SBY termasuk dalam pembangunan infrastrukturnya napas dan jiwanya pro rakyat, sementara pemerintahan Pak Jokowi terbaca lebih berorientasi proyek dan tidak pro rakyat," tambahnya.
Selain itu, Kamhar memandang PDIP yang seharusnya meminta maaf ke masyarakat karena mendorong kader yang penuh gimmick dalam pemilu.
"Mereka yang mesti minta maaf kepada rakyat karena sejak awal kader yang didorong dan dipromosikan menjadi pemimpin di tingkat nasional dipenuhi rekayasa dan gimik," ujarnya.
Kamhar juga menyinggung model pemimpin yang hanya bisa mengumbar janji tetapi tidak ada kapasitas untuk memenuhi janji-janji tersebut.
Kontributor : Annisa Fianni Sisma
Berita Terkait
-
CEK FAKTA: Gibran Mundur dari Wali Kota Solo Demi Dampingi Anies Baswedan di Pilpres 2024, Benarkah?
-
Denny Siregar Puji Ganjar Pranowo sebagai Pemimpin yang Tidak Terpengaruh Bahasa Elit
-
Maju Jadi Capres 2024, Ganjar Pranowo Temui ulama Banten Abuya Muhtadi
-
Cocoklogi Aldi Taher Jadi Presiden ke-8 RI Pengganti Jokowi, Mengaku Kembaran Bung Karno
-
Balas Sindiran Anies, Ganjar: Kalau Kamu Olahraga Maka Kamu Sehat, Kalau Tidak Olahraga Maka Chuaks
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Didampingi Haris Azhar, Anggota Ombudsman Yeka Hendra Fatika Diperiksa Kejagung Soal Skandal Migor
-
Kucurkan Rp100,1 Triliun untuk Rehab-Rekon Sumatera Pasca Bencana, Mendagri: Target Rampung 2028
-
Mafia Proyek Dapur MBG Gentayangan di Jabar, Duit Rp1,9 Miliar Melayang
-
Gagal Massal di SNBT 2026: 600 Ribu Peserta Gugur, UI dan UNS Masih Tak Terkalahkan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Mencetak 3 Presiden dan 3 Wapres, Rahasia di Balik Museum Seskoad yang Diresmikan Prabowo
-
Kasus Penipuan Dapur MBG Makin Banyak! Modus Catut Pejabat hingga Jual Titik SPPG
-
Jemaat Dibubarkan Saat Ibadah, Bantul Telusuri Legalitas Gedung Sewa Gereja Misi Sejahtera
-
Cuma Jeda 24 Menit! Dua KRL Rangkasbitung Diteror Pelemparan Batu, Pelaku Masih Misterius
-
Guru dan Kaposyandu Kini Jadi 'Mata-mata' BGN, Pantau Langsung Kualitas MBG