Suara.com - Setidaknya 14 warga Palestina, termasuk sebuah keluarga yang terdiri dari lima orang, tewas dalam tiga serangan udara Israel yang terpisah pada hari Senin di Jalur Gaza utara, kata petugas medis Palestina.
Satu serangan menghantam sekelompok orang di lingkungan Daraj di Kota Gaza, menewaskan sedikitnya tujuh orang termasuk dua anak-anak, kata layanan darurat kementerian kesehatan.
Dua orang lagi tewas di daerah Jabaliya al-Balad di Gaza utara, katanya. Lima orang lainnya terluka dalam serangan itu, katanya.
Serangan ketiga menghantam sekolah Salaheddin, yang menampung keluarga-keluarga yang mengungsi di bagian barat Kota Gaza. Serangan itu menewaskan dua orang tua dan tiga anak mereka, menurut rumah sakit Al-Ahly yang menerima korban.
Militer Israel tidak segera berkomentar tentang serangan itu tetapi menyalahkan Hamas atas jatuhnya korban sipil, dengan mengatakan bahwa para pejuang beroperasi di daerah permukiman atau lokasi sipil lainnya.
Ironisnya, serangan mematikan ini dilancarkan Israel di tengah proses persiapan gencatan senjata yang sedang dibahas dan dikabarkan akan segera diterapkan.
Para negosiator hampir menyelesaikan kesepakatan gencatan senjata, yang akan membuat Hamas menyerahkan 33 sandera Israel pada minggu terakhir pemerintahan Biden sebelum Senin depan, sebagai sinyal terbaru bahwa kesepakatan bisa segera tercapai.
Pemerintah Israel yakin bahwa Hamas dan sekutunya masih menahan 94 sandera yang diambil dari Israel selama serangan 7 Oktober 2023, sedikitnya 34 di antaranya tewas.
Kesepakatan dengan Hamas akan membebaskan 33 sandera, beberapa di antaranya mungkin sudah meninggal, selama gencatan senjata awal 42 hari, Bloomberg melaporkan mengutip pejabat senior Israel.
Kesepakatan Gencatan Senjata Dalam Tahap Akhir
Presiden terpilih AS Donald Trump pada hari Senin mengatakan bahwa ia yakin kesepakatan gencatan senjata dapat diselesaikan sebelum pelantikannya Senin depan.
"Kami sangat dekat untuk menyelesaikannya," katanya dalam sebuah wawancara dengan Newsmax.
Berita Terkait
-
Gencatan Senjata Israel-Hamas: 33 Sandera Dibebaskan Minggu Ini?
-
Amerika Bahas Gencatan Senjata Israel-Hizbullah di Tengah Kebakaran Besar Los Angeles
-
Eksklusif: Bocoran Isi Draft Gencatan Senjata Hamas-Israel, Nasib Gaza Ditentukan!
-
Heboh 2 Tentara Israel Ditangkap di Meksiko, Ada Apa?
-
Desak Netanyahu, Joe Biden Ingin Perundingan Gencatan Senjata Gaza Tercapai Sebelum Masa Jabatan Berakhir
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Sadis! Pria di Bantul Tewas Ditebas Parang di Depan Anak Istri Saat Tertidur
-
Minta Restu Jokowi, Mantan Bupati Indramayu Nina Agustina Bachtiar Gabung PSI
-
Sumsel Berduka, Mantan Gubernur Alex Noerdin Meninggal Dunia
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
Terkini
-
Terdampak Krisis Iklim: Bagaimana Panas Ekstrem Membuat Harga Kopi Makin Melejit?
-
Harga Pangan Jakarta Mulai Merangkak Naik di Awal Ramadan
-
KPK Periksa Mantan Wakil Bupati Pati hingga Sejumlah Kepala Desa Terkait Dugaan Pemeresan Sudewo Cs
-
Suami Dwi Sasetyaningtyas Kena Sanksi LPDP, Mahfud MD Bongkar Alasan Ngeri WNI Benci RI
-
Kemenkes Reformasi Skema PPDS, Utamakan Putra Daerah untuk Atasi Krisis Dokter Spesialis
-
Kasus Korupsi Eks Dirjen Kominfo Semuel Abrijani: Apa Alasan Jaksa Menunda Pembacaan Tuntutan?
-
Sadis! Pria di Bantul Tewas Ditebas Parang di Depan Anak Istri Saat Tertidur
-
Mahfud MD Geram Pernyataan Dwi Sasetyaningtyas Soal Anak WNA, Setuju Sanksi Cabut Beasiswa
-
Jaksa Tetap Tuntut Marcella Santoso 17 Tahun Penjara Terkait Kasus Suap Minyak Goreng
-
Menkes Akui Pendidikan Dokter Spesialis di Indonesia Super Mahal, Sebut di Luar Negeri Justru Digaji