Suara.com - Kasus kekerasan seksual yang melibatkan seorang pria berusia 26 tahun, Daniel Hancox, membawa peringatan keras tentang betapa seriusnya dampak dari pelecehan seksual terhadap anak. Pada usia 11 tahun, Hancox melakukan pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap seorang anak laki-laki yang masih berusia di bawah 13 tahun. Kejadian itu, meskipun terjadi lebih dari satu dekade lalu, terus meninggalkan bekas yang mendalam dalam kehidupan korban.
Hancox, yang berasal dari Merthyr Tydfil, Wales, membawa korban ke sebuah hutan terpencil dan melakukan tindakan keji terhadapnya. Tidak hanya melakukan pemerkosaan dua kali, Hancox juga memperlihatkan konten pornografi kepada korban, dengan tujuan meyakinkannya bahwa perilaku tersebut adalah hal yang "normal."
Tindakannya ini menyebabkan korban, yang saat itu masih anak-anak, merasa bingung tentang tubuh dan orientasi seksualnya, serta memperburuk kondisi emosionalnya selama bertahun-tahun.
Korban, yang akhirnya berani melaporkan perbuatan Hancox setelah bertahun-tahun menyimpan penderitaannya dalam diam, mengungkapkan perasaan kebingungannya yang mendalam dalam sebuah pernyataan.
"Sebagai anak, kebingungan adalah hal besar bagi saya. Saya merasa bahwa perbuatan itu adalah sesuatu yang normal, dan tidak tahu bahwa saya tidak setuju dengan apa yang terjadi," ujarnya.
Baru ketika ia mendapatkan pendidikan seks yang lebih baik, korban mulai menyadari bahwa perbuatan tersebut adalah pelecehan yang tak seharusnya terjadi pada dirinya.
Dalam pernyataan pribadinya yang dibacakan di pengadilan, korban mengungkapkan bagaimana perbuatan tersebut merusak masa kecilnya.
"Saya merasa terisolasi dan tidak percaya diri. Saya merasa tidak dihargai dan diperlakukan seperti objek. Saya menjadi bingung tentang siapa saya sebenarnya, dan ini berlanjut hingga saya dewasa," ungkapnya dengan penuh kesedihan.
Dampak psikologis yang ditinggalkan oleh pelecehan ini menyebabkan korban mengalami gangguan mental yang serius, termasuk perasaan jijik terhadap dirinya sendiri dan masalah kesehatan mental yang berkelanjutan.
Dalam sidang yang digelar di Pengadilan Cardiff, Hakim Paul Hobson menegaskan bahwa perbuatan Hancox memiliki dampak yang sangat besar terhadap korban.
Baca Juga: Ending Drama Korea Trauma Code: Heroes on Call Versus Webtoon Trauma Center
"Tindakannya memiliki konsekuensi yang menghancurkan bagi kesejahteraan emosional korban selama bertahun-tahun," kata Hakim Hobson.
Sementara itu, pembela Hancox berargumen bahwa terdakwa hanya berusia 11 tahun saat perbuatannya terjadi, dan sejak itu ia tidak pernah melakukan pelanggaran serupa. Namun, Hakim Hobson menegaskan bahwa meskipun ia masih anak-anak saat itu, perbuatannya tetap memberikan dampak besar yang tidak dapat diabaikan.
Dalam keputusan pengadilan, Hancox dijatuhi hukuman penjara selama dua tahun, kewajiban untuk mengikuti program rehabilitasi selama 40 hari, serta pemberitahuan sebagai pelaku kejahatan seksual selama lima tahun. Selain itu, ia juga dikenakan perintah larangan kontak dengan korban secara permanen.
Berita Terkait
-
Ending Drama Korea Trauma Code: Heroes on Call Versus Webtoon Trauma Center
-
Review Serial Drama The Trauma Code, Drama Medis Terealistis dan Kocak Abis
-
The Trauma Code: Heroes on Call, Drama Medis Terbaik di Awal Tahun 2025
-
Beda Trauma Code: Heroes on Call versi Drama Korea dan Webtoon
-
Link Nonton The Trauma Code Sub Indo: Ju Ji Hoon Jadi Dokter Jenius!
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Safari Ramadan ke Ponpes di Klender, Kaesang Pangarep Didoakan Jadi Presiden
-
Demo Mahasiswa Jadi Berkah Ramadan, Pedagang Starling Raup Cuan 3 Kali Lipat
-
Lalai Awasi Kasus Hogi Minaya, Mantan Kapolresta Sleman Dicopot dari Jabatan
-
Demo Mahasiswa di Bulan Ramadan, Polisi Turunkan Tim Sholawat untuk Pengamanan
-
Polemik Akses Musala di Cluster, Pengembang Buka Suara Usai Diusir Komisi III DPR
-
Negosiasi AS-Iran Gagal! Ancaman Perang Bisa Terjadi dalam 15 Hari ke Depan
-
AS Evakuasi Staf dan Warganya dari Israel, Isu Perang dengan Iran Memanas
-
Mengurai Krisis Dokter Spesialis di Indonesia: Di Mana Letak Masalahnya?
-
Sekolah Swasta Gratis di Semarang Bertambah Jadi 133, Jangkau Lebih Banyak Siswa
-
Anies Baswedan Soroti Dinasti Politik: Pemerintah Harusnya Bekerja untuk Rakyat, Bukan Keluarga!