Suara.com - Mantan Penyidik KPK, Novel Baswedan mengungkap soal ucapan Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto yang menyebut nama mantan Presiden Jokowi sebagai dalang di balik upaya pelemahan terhadap KPK. Ucapan Hasto itu diungkap oleh Novel Baswedan dalam siniar yang tayang di akun Youtube pribadinya, belum lama ini.
Dalam siniar tersebut, Novel juga kembali memutar rekaman video Hasto yang menyebut nama Jokowi sebagai inisiator di balik upaya pelemahan KPK lewat revisi Undang-Undang (RUU) KPK.
Lewat rekaman video itu, Hasto pun menyebut jika upaya pelemahan terhadap KPK disebut dirancang oleh Jokowi saat menjelang putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka dan sang menantu Bobby Nasution maju di Pilkada Serentak 2020 lalu.
Hasto juga menyebut jika Jokowi membutuhkan dana sebesar 3 juta USD agar bisa memuluskan upaya membonsai kewenangan lembaga antirasuah itu.
"Mengapa berjalan mulus, karena Presiden Jokowi punya kepentingan untuk melindungi Mas Gibran dan Mas Bobby, maka sejarah mencatat bahwa revisi undang-undang KPK ini dilaksanakan sebelum pelaksanaan Pilkada serentak, di mana Mas Gibran dan Mas Bobi berproses menjadi wali kota, maka ketika terpilih menjadi wali kota amanlah dari berbagai persoalan hukum karena KPK sudah dilemahkan," ujar Hasto dalam rekaman yang diputar di akun Youtube pribadi Novel Baswedan.
"Dari keterangan saya yang saya pertanggungjawabkan secara hukum secara politik yang saya pertanggungjawabkan di atas Tuhan yang maha kuasa tentang kebenaran pernyataan saya ini meskipun tanpa bukti. Rakyat Indonesia bisa mengetahui bahwa pelemahan KPK dilakukan oleh Presiden Jokowi kemudian dampaknya dituduhkan kepada PDI Perjuangan. Ini jawaban buat Mas Novel Baswedan," beber Hasto dalam video itu.
Dalam siniar tersebut, Novel pun mengakui pernah bertemu dengan Hasto dalam sebuah forum diskusi yang digelar di Universitas Indonesia pada 3 Juni 2024 lalu. Menurutnya, memang benar Hasto menyebut nama Jokowi yang diduga merancang pelemahan KPK. Dia pun menyampaikan jika ucapan Hasto sama persis dengan rekaman dalam video tersebut.
"Tapi pada dasarnya memang Hasto bilang sebetulnya yang melemahkan KPK itu Pak Jokowi gitu, sama persis seperti yang dikatakan (Hasto dalam video), menarik sekali ya soal itu," ujar Novel dilihat Suara.com pada Kamis (26/2/2025).
Guna menanggapi soal ucapan Hasto dalam video itu, Novel juga turut mengundang mantan Ketua Wadah KPK, Yudi Purnomo Harahap.
Menurut Yudi, ucapan Hasto dalam video itu seolah ada upaya untuk 'mencuci tangan' dari kubu PDIP. Terlebih, tudingan Hasto kepada Jokowi yang disebut merancang pelemahan KPK tanpa ada bukti-bukti yang kuat.
Yudi pun menganggap jika saat itu banyak pihak yang ikut terlibat dalam upaya mengerdilkan kewenangan KPK lewat revisi UU yang akhirnya disahkan di DPR pada 2019 lalu.
"Dalam hal ini, khusus (revisi UU KPK) ini ya saya pikir semuanya terlibat. Tidak ada satu pihak yang mengatakan, nunjuk sana pihak sini, tunjuk lagi gitu kan ya. Kalau misalnya apa yang disampaikan Pak Hasto kan versi dia, dan walaupun dia mengatakan di akhir (video) tidak ada buktinya," ujar Yudi.
"Kemudian kedua ya kita belum tahu nih versi dari Presiden Jokowi kayak apa? Namun Bang bagi saya apapun versinya saat itu undang-undang KPK yang melemahkan sudah diketok dan berlaku sampai saat ini," lanjut Yudi.
Menyambung ucapan Yudi, Novel lalu mengungkit soal Hasto yang kekinian telah ditahan KPK setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus suap Harun Masiku yang kini masih buron.
Novel pun mencurigai ada skandal besar yang diduga berkaitan dengan kasus yang kini menjerat Hasto.
Berita Terkait
-
Nyelekit! Sindiran Rocky Gerung soal Janji Prabowo Indonesia Terang Benderang: Terangnya 2050, Bukan Sekarang
-
Curhat Dikasih Kopi dan Teh di Rutan KPK, Hasto PDIP Ajari Tahanan Lain Olahraga Sambil Nyanyi Lagu Wajib
-
Curhatan Hasto PDIP Selama jadi Tahanan KPK: Saya Baik-baik Saja
-
Berdamai Dulu? Rocky Gerung soal Kader PDIP Diizinkan Ikut Retret Magelang: Jokowi Ingin Mega Tunduk ke Prabowo
Terpopuler
- 4 Mobil Bekas 50 Jutaan dari Suzuki, Ideal untuk Harian karena Fungsional
- Dua Tahun Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Pilih Hengkang dari Pasar Sentul
- Apakah Habis Pakai Cushion Perlu Pakai Bedak? Ini 5 Rekomendasi Cushion SPF 50
- 5 Rekomendasi HP RAM 8GB Rp1 Juta Terbaik yang Bisa Jadi Andalan di 2026
- 34 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 20 Januari: Sikat TOTY 115-117 dan 20.000 Gems
Pilihan
-
Rebut Hadiah Berlimpah! Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel Jadi Penggerak Potensi Daerah
-
ASEAN Para Games 2025: Nurfendi Persembahkan Emas Pertama untuk Indonesia
-
Perbedaan Jaring-jaring Kubus dan Balok, Lengkap dengan Gambar
-
Rupiah Loyo, Modal Asing Kabur Rp 27 Triliun Sejak Awal Tahun
-
Izin Tambang Emas Martabe Dicabut, Agincourt Resources Belum Terima Surat Resmi dari Pemerintah
Terkini
-
Antisipasi Puncak Cuaca Ekstrem, BPBD Tebar 2,4 Ton Bahan Semai di Hari Keenam OMC
-
Wacana Polri di Bawah Kementerian Mengemuka, Yusril Tegaskan Masih Tahap Opsi Reformasi
-
Ratusan Warga Serang Masih Mengungsi, Banjir Dominasi Bencana Hidrometeorologi
-
Drama Sidang Korupsi: Hakim Ad Hoc Walkout Tuntut Gaji, Kini Diperiksa KY
-
Antisipasi Jalan Rusak akibat Banjir, Dinas Bina Marga DKI Lirik Aspal 'Sakti' yang Bisa Serap Air
-
Pascabencana Bireuen, Mendagri Tito Tinjau Infrastruktur Jembatan
-
Keterlibatan TNI-Polri Jadi Petugas Haji 2026 Melonjak Drastis, Menhaj: Naik Hampir 100 Persen Lebih
-
Konflik Agraria Belum Usai, Legislator Gerindra Minta Pemerintah Buang Ego Sektoral demi Keadilan
-
Tunjangan Panitera Cuma Rp400 Ribu, DPR Peringatkan Bahaya: Kualitas Pengadilan Taruhannya!
-
MBG Bertransformasi: dari Piring Makan ke Jaring Pengaman Sosial