Suara.com - Badan-badan kemanusiaan PBB sedang berusaha mendapatkan jaminan keselamatan dari Israel, mengingat eskalasi konflik dan pemblokiran bantuan yang telah mengganggu pengiriman bantuan ke Gaza secara signifikan.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada Jumat (21/3) menyatakan bahwa PBB sedang mencari jaminan nyata mengenai keselamatan staf dan operasi di Gaza, menyusul kematian enam personelnya dan beberapa lainnya yang terluka pekan ini, termasuk dalam serangan yang jelas-jelas menargetkan kompleks PBB.
"Kami meminta penjelasan demi para personel tersebut dan bagi mereka yang tetap menjalankan tugas," ujar Tom Fletcher, wakil sekretaris jenderal untuk urusan kemanusiaan PBB, pada Rabu (19/3).
OCHA melaporkan bahwa penutupan perbatasan Gaza selama 20 hari untuk memblokir bantuan berdampak sangat buruk pada orang-orang yang sudah menderita akibat kehancuran.
Mitra kemanusiaan PBB memperkirakan bahwa lebih dari 120.000 warga Palestina terpaksa kembali mengungsi pekan ini akibat peningkatan serangan dan perintah evakuasi baru dari Israel di seluruh Gaza, yang setara dengan sekitar 6 persen dari populasi yang tersisa.
"Setiap hari yang berlalu semakin mengikis kemajuan yang telah dicapai oleh PBB dan mitra kemanusiaan kami selama enam minggu pertama gencatan senjata," tambah OCHA.
"OCHA memperingatkan bahwa operasional kemanusiaan kini sangat terhambat oleh konflik. Warga sipil, termasuk pekerja kemanusiaan dan aset sipil, telah menjadi korban serangan."
OCHA juga mengingatkan bahwa dengan terus berlanjutnya serangan di seluruh Jalur Gaza, jumlah korban yang mengalami cedera trauma menambah tekanan pada sistem kesehatan yang sudah kekurangan.
"Dalam tiga bulan terakhir, lebih dari tiga puluh hambatan baru telah dibangun, sebagian besar setelah pengumuman gencatan senjata Gaza pada pertengahan Januari," kata OCHA.
Baca Juga: Israel Habisi Kepala Intelijen Hamas di Gaza Selatan: Eskalasi Perang Tak Terhindarkan?
"Gerbang jalan menyumbang sepertiga dari seluruh hambatan, dan banyak di antaranya sering ditutup."
Perintah evakuasi baru yang mencakup sejumlah area di Gaza utara dikeluarkan pada Jumat setelah laporan peluncuran roket oleh kelompok bersenjata Palestina.
Di Tepi Barat, OCHA menyampaikan bahwa survei cepat tentang hambatan-hambatan pergerakan di wilayah tersebut menunjukkan hampir 850 pos pemeriksaan, gerbang, dan penghalang fisik lainnya, yang merupakan jumlah tertinggi yang pernah ditemukan dalam dua dekade terakhir.
Philippe Lazzarini, komisaris jenderal Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina di Kawasan Timur Dekat (UNRWA), mencatat bahwa Jumat menandai 60 hari sejak Israel melaksanakan operasi militer di Kamp Jenin di Tepi Barat.
Dia menegaskan bahwa operasi militer berskala besar seperti itu tidak boleh menjadi norma baru di Tepi Barat, dan tren meningkatnya kekerasan yang dimulai sebelum 7 Oktober 2023 harus segera dihentikan.
Warga Gaza kembali dilanda "ketakutan yang mendalam", kata seorang direktur kemanusiaan PBB pada hari Selasa, setelah serangan Israel yang gencar kembali terjadi di wilayah Palestina.
Berita Terkait
-
Lebanon Selatan Memanas! Israel Serang Balik Setelah Roket Ditembakkan
-
ICC Bisa Batalkan Penangkapan Netanyahu? Mantan Hakim Agung Israel Ungkap Syaratnya
-
Dirasa Sudah Gawat, Jerman, Prancis, Inggris Kompak Desak Israel Lakukan Ini di Gaza
-
"Penggembalaan Mematikan", Bagaimana Pemukim Israel Merebut Tepi Barat dengan Kedok Ternak
-
Israel Habisi Kepala Intelijen Hamas di Gaza Selatan: Eskalasi Perang Tak Terhindarkan?
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- Kasat Narkoba Tangsel Ditangkap! Diduga Edarkan Narkoba Bersama Enam Anak Buah
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
Pilihan
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
-
Bupati Pemalang Anom Widiyantoro Terjaring OTT KPK, Ulangi Jejak Kelam Pendahulu
-
Ledakan Dahsyat Guncang Mall AEON Dua Orang Tewas, Diduga Akibat Kebocoran Gas
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
Terkini
-
Anggota DPRD Medan Jadi Tersangka Kasus Dugaan Pengeroyokan
-
Memanas! Tiga Anggota DPRD Kota Madiun Walk Out dari Paripurna KUA-PPAS 2027
-
Belanja Auto Dicap Boros? Perempuan dan Dilema Nikmati Hasil Kerja Sendiri
-
Mitsubishi Xforce Apakah Pakai Sunroof? Ini Perbandingannya dengan Versi Lawas
-
Jelang Lawan Vietnam, Media Tetangga Sindir Timnas Indonesia dengan Bendera Belanda dan Australia
-
Tawarkan Bunga Ringan, Penyaluran KUR Perumahan dan FLPP BRI Dominasi Kuota Nasional
-
Tegas! 17 SPPG di DIY Ditutup, Buntut Kasus Keracunan hingga Masalah Izin
-
Klaim Dikriminalisasi Febrie Adriansyah Dipertanyakan, Jangan Semua Tersangka Mengaku Jadi Korban
-
Akhirnya PWI Resmi Cabut Laporan Polisi terhadap Hotman Paris
-
Anggota DPRD DKI Bongkar Dugaan Praktik Culas Trayek Mikrotrans: Saya Pernah Ditawari Rp4 Miliar