Suara.com - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyebut situasi konsumsi rokok di Indonesia saat ini telah berada dalam kondisi darurat. Tak hanya menyebabkan kerugian ekonomi dan kesehatan yang besar, konsumsi rokok juga dinilai menjadi penghambat dalam pengentasan kemiskinan dan stunting di kalangan masyarakat miskin.
"Menurut saya kondisi Indonesia saat ini itu sangat tragis, sangat paradoks. Karena masalah tembakau ini kita sebenarnya levelnya sudah darurat, darurat dalam konsumsi," beber Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi dalam konferensi pers secara virtual di Kantor Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Jakarta, Senin (2/6/2025).
Tulus mengungkapkan bahwa lebih dari 32 persen masyarakat Indonesia saat ini termasuk perokok aktif. Yang lebih memprihatinkan, hampir 10 juta di antaranya adalah anak-anak. Angka prevalensinya mencapai sekitar 7,4 persen.
Menurutnya, dengan jumlah yang fantastis itu sebenarnya menimbulkan kerugian yang sangat masif, baik dari sisi ekonomi, kesehatan. Namun, hal itu tidak disadari publik juga negara yang dinilai kurang mengintervensi persoalannya.
"Kalau saat ini pemerintah misalnya teriak-teriak adanya pengentasan kemiskinan dan segala macam, tapi ternyata tidak menukik, bagaimana mengintervensi agar kemiskinan itu bisa dihilangkan dengan mengurangi konsumsi rokok. Karena justru rumah tangga miskin kita rata-rata menghabiskan 10-11 persen untuk konsumsi rokok," kritik Tulus.
Gambaran kondisi seperti itu yang seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah, terutama ketika berbicara soal pengentasan kemiskinan. Selain penyelesaian ekonomi, Tulus menyebutkan kalau penanganan serius terhadap rokok juga bisa berpengaruh untuk mengurangi stunting.
Dia menekankan kalau masalah stunting juga dikaitkan dengan tingginya konsumsi rokok di keluarga miskin. Sehingga, program pemerintah seperti Makanan Bergizi Gratis (MBG) tidak akan efektif jika tidak diiringi dengan upaya pengendalian konsumsi rokok.
"Kalau sekarang ada MBG, itu saya yakin tidak akan menyelesaikan persoalan kalau kemudian pemerintah tidak mengintervensi bagaimana rumah tangga miskin itu bisa mengurangi konsumsi rokok," ucapnya.
YLKI juga menyoroti bagaimana persepsi masyarakat terhadap industri rokok sering kali keliru. Industri ini dianggap sebagai penyumbang besar bagi ekonomi dan tenaga kerja, padahal menurut Tulus, kontribusi itu tidak sebanding dengan kerugian yang ditimbulkan.
Baca Juga: Dipuji-puji karena Dietnya Berhasil, Prabowo Pangling Lihat Megawati: Ibu Luar Biasa!
"Industri rokok itu diposisikan sebagai industri yang normal dan bahkan sering dipuja-puja, karena berkontribusi dari sisi ekonomi, berkontribusi dari sisi tenaga kerja dan lain sebagainya. Seolah-olah industri rokok itu industri yang perannya paling tinggi," tuturnya.
YLKI mendesak pemerintah untuk mengambil langkah konkret dalam menekan konsumsi rokok, mulai dari regulasi ketat, pelarangan iklan, hingga edukasi publik yang masif, terutama bagi rumah tangga berpenghasilan rendah.
MBG Diklaim Perbaiki Gizi Anak
Diberitakan sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, meyakini kalau program makan bergizi gratis (MBG) juga dapat memperbaiki kualitas fisik anak-anak Indonesia menjadi tumbuh lebuh tinggi. Dia mengklaim kalau anak-anak penerima manfaat MBG berpotensi tumbuh tinggi minimal hingga 180cm saat dewasa.
Dia menyebutkan bahwa anak usia 12 hingga 16 tahun merupakan second peak atau puncak kedua pertumbuhan fisik anak yang sangat menentukan tinggi badan dan kesehatan masa dewasa. Pada rentang usia itu pula MBG dibagikan kepada anak-anak di sekolah dan pesantren.
"Inilah saatnya kita harus intervensi dengan gizi seimbang. Kalau kita tidak intervensi sekarang, maka tubuhnya saya perkirakan rata-rata hanya 160-165 (cm). Tapi ketika ada makan bergizi, nanti tubuhnya minimal 180 cm," kata Dadan saat peluncuran 1.000 dapur MBG di pesantren secara virtual, Senin (26/5/2025).
Tag
Berita Terkait
-
Dipuji-puji karena Dietnya Berhasil, Prabowo Pangling Lihat Megawati: Ibu Luar Biasa!
-
Ngaku Tak Sudi Rakyat Ditipu, Prabowo: Pejabat dan Pemimpin yang Melanggar, Laporkan!
-
Klaim Tak Pandang Parpolnya, Prabowo Siap Pecat Pejabat Bobrok: Lebih Baik Mundur Ketimbang Dicopot!
-
Klaim Siswa Penerima MBG Bisa Tumbuh Tinggi 180 cm, Kepala BGN: Sudah Terbukti 2 Anak Saya di Rumah
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Kecelakaan Beruntun di Pasaman, Dua Penumpang Luka-luka dan Sejumlah Kendaraan Rusak
-
Tragedi Proyek Sekolah Rakyat, 3 Pekerja Hanyut di Sungai Ogan Saat Menyeberang
-
Anak Kembali Aktif Bersekolah, Jangan Lupakan Perlindungan dari Demam Berdarah Dengue
-
Bypass Jantung Kini Tak Perlu Belah Tulang Dada, Teknik Minimal Invasif Percepat Pemulihan
-
Polisi Ungkap Plot Twist Kasus Jesslyn Wijaya, Dugaan Penculikan Terpatahkan
-
IHSG Diproyeksi Menguat Besok, Ini Saham yang Bisa Dipantau
-
Produk RI Makin Dilirik Asing, UMKM Perak Lokal Tembus Tiga Negara
-
Lowongan 94 Nakes di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, Rekrutmen Dibuka Agustus
-
BNI Wujudkan Mimpi Pasangan Miliki Rumah Pertama Setelah 14 Tahun Menikah
-
Kevin Hardino dan Rachel Kesyah Aurellia Terpilih Jadi Bujang Gadis Palembang 2026