Suara.com - Selama ini, pemanasan global kerap diasumsikan mampu memperpanjang musim tanam dan memperbesar hasil panen. Namun, studi terbaru yang dirilis jurnal Nature justru menunjukkan sebaliknya.
Setiap kenaikan suhu global sebesar 1 derajat Celsius berpotensi menurunkan kemampuan produksi pangan dunia setara 120 kalori per orang per hari atau 4,4% dari konsumsi rata-rata harian saat ini.
Temuan ini penting di tengah tren populasi global yang terus meningkat dan angka kelaparan yang belum teratasi. Lebih dari 800 juta orang di dunia masih kerap melewatkan hari tanpa asupan makanan memadai.
“Bila suhu naik 3 derajat Celsius, itu setara dengan semua orang di planet ini melewatkan sarapan," ujar Solomon Hsiang, profesor ilmu sosial lingkungan di Stanford Doerr School of Sustainability dan penulis senior studi ini, melansir EurekAlert! Selasa, (24/6/2025).
Dari Corn Belt ke Climate Bust: Petani Amerika Kian Tertekan
Studi ini dilakukan oleh Climate Impact Lab, konsorsium riset lintas universitas ternama seperti Stanford, University of Chicago, dan Rutgers, yang menganalisis data dari lebih dari 12.000 wilayah di 55 negara. Fokus utamanya adalah enam tanaman utama penyumbang dua pertiga kalori manusia: gandum, jagung, padi, kedelai, jelai, dan singkong.
“Wilayah Corn Belt di Midwest Amerika yang saat ini sangat cocok untuk jagung dan kedelai akan mengalami pukulan besar dalam skenario pemanasan tinggi,” ujar Andrew Hultgren, asisten profesor ekonomi pertanian di University of Illinois Urbana-Champaign.
Data menunjukkan bahwa pada tahun 2100, dengan emisi tetap tinggi, hasil panen global bisa turun 24%. Bahkan dalam skenario optimis di mana emisi ditekan drastis, penurunan tetap terjadi—sekitar 11%. Dalam jangka pendek, penurunan 8% diperkirakan terjadi pada 2050, tak peduli seberapa besar upaya mitigasi yang dilakukan. Efek gas rumah kaca bertahan ratusan tahun di atmosfer.
Bayangkan sebuah sawah yang biasanya menghasilkan lima karung padi per musim panen. Dalam skenario pemanasan global, hanya empat karung yang bisa dipanen, meskipun pupuk dan irigasi telah dimaksimalkan.
Baca Juga: Kantongi Pendapatan Rp81 T, BUMN Pupuk RI Duduki Peringkat 69 di Asia Tenggara
Dalam skenario ekstrem, bahkan petani hanya bisa memanen separuhnya. Inilah dampak dari suhu tinggi yang memperpendek musim tanam, meningkatkan stres tanaman, dan memicu penyakit.
Adaptasi oleh petani—seperti mengganti varietas, mengatur ulang jadwal tanam, dan penyesuaian pupuk—memang membantu. Namun, studi menunjukkan strategi ini hanya bisa menutupi sepertiga dari kerugian akibat iklim.
Saat Sawah Subur Menjadi Ladang Kosong
Bagaimana dengan Indonesia? Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada 2023, produksi padi nasional turun 2,22% dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu penyebab utama: musim kemarau yang lebih panjang akibat El Nino.
Pemerintah sendiri menargetkan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia melalui program food estate. Namun, tanpa perencanaan berbasis iklim, kebijakan ini bisa menjadi kontra produktif.
Krisis pangan akibat iklim tak bisa diselesaikan dengan satu pendekatan. Di satu sisi, petani perlu akses terhadap teknologi adaptif—seperti varietas tahan panas dan sistem irigasi presisi. Di sisi lain, kebijakan publik perlu mengarahkan insentif ke wilayah yang paling terdampak.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi