Suara.com - Asia kini menjadi pusat krisis iklim global. Laporan terbaru dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menunjukkan bahwa benua ini memanas dua kali lebih cepat dari rata-rata global.
Melansir UN News, Rabu (25/6/2025), temuan ini bukan sekadar angka, melainkan peringatan dini atas dampak nyata dan mendesak yang telah dan akan terus terjadi di kawasan dengan populasi terpadat di dunia ini—termasuk Indonesia.
Paradoks iklim kini menjadi fenomena yang makin sering ditemui. Dalam tahun 2024, wilayah Kerala di India dilanda hujan ekstrem hingga longsor mematikan. Di Kazakhstan, pencairan gletser akibat suhu tinggi berujung pada banjir terburuk dalam 70 tahun.
Sebaliknya, musim kemarau di China justru ditandai dengan kekeringan parah yang berdampak pada hampir 5 juta orang dan merusak ratusan ribu hektare lahan pertanian.
Asia, sebagai daratan luas yang didominasi kawasan tropis dan subtropis, memang lebih rentan terhadap lonjakan suhu. Pemanasan daratan berlangsung lebih cepat dibanding lautan, sehingga kawasan seperti Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Asia Timur mengalami beban iklim ganda: gelombang panas, kekeringan, banjir, hingga kenaikan permukaan laut.
Indonesia sebagai negara kepulauan juga tidak kebal terhadap fenomena ini. Kenaikan muka laut telah berdampak di berbagai wilayah pesisir, sementara intensitas dan frekuensi hujan ekstrem semakin sulit diprediksi, menambah kompleksitas tantangan pengelolaan bencana.
Namun di balik kabar buruk ini, laporan WMO juga memberi secercah harapan. Nepal, negara dengan topografi kompleks dan keterbatasan infrastruktur, berhasil mengurangi korban jiwa secara signifikan berkat sistem peringatan dini banjir yang efektif.
Ketika hujan ekstrem melanda akhir September 2024, banjir dan tanah longsor menewaskan ratusan orang. Namun di wilayah seperti Barahakshetra, yang terdampak langsung, tidak ada korban jiwa berkat protokol evakuasi yang cepat dan koordinasi respons darurat yang sigap.
Keberhasilan ini bukan hasil kebetulan. Sistem peringatan dini berbasis komunitas, pendanaan darurat yang tertata, serta pelibatan masyarakat dalam pelatihan kesiapsiagaan telah menjadi fondasi tangguh dalam menghadapi bencana. Nepal juga terus memperkuat kerja sama dengan lembaga internasional seperti WMO untuk menyempurnakan sistem mitigasi dan adaptasinya.
Baca Juga: Studi: Anak Muda dan Perempuan Paling Rentan Alami Kecemasan Iklim, Mengapa?
Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, menegaskan bahwa kerja Layanan Meteorologi dan Hidrologi Nasional kini lebih krusial dari sebelumnya. Ini bukan hanya soal menyelamatkan nyawa, tetapi juga mata pencaharian, ekosistem, dan keberlanjutan pembangunan.
Membangun Kesiapsiagaan Iklim di Indonesia
Kisah Nepal menyiratkan bahwa solusi lokal yang terukur dan adaptif dapat menyelamatkan nyawa—bahkan ketika menghadapi peristiwa iklim yang ekstrem. Bagi Indonesia, ini menjadi refleksi penting.
Negara kita memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi bencana alam, namun sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan masih perlu diperluas dan disempurnakan, terutama di daerah terpencil dan rawan.
Dalam konteks perubahan iklim yang tidak lagi bisa dihindari, langkah-langkah strategis perlu dipercepat, antara lain:
- Investasi dalam teknologi meteorologi dan hidrologi untuk prediksi cuaca yang lebih akurat.
- Pembangunan infrastruktur tahan bencana, terutama di wilayah pesisir dan dataran rendah.
- Pelatihan dan edukasi komunitas lokal agar lebih tangguh dan responsif dalam situasi darurat.
- Penguatan pendanaan darurat dan mekanisme distribusinya agar bantuan cepat sampai ke lapangan saat dibutuhkan.
Pemanasan yang dua kali lipat lebih cepat di Asia adalah cerminan bahwa waktu semakin sempit. Indonesia tidak bisa menunggu sampai bencana besar berikutnya untuk bertindak. Pengalaman global membuktikan: negara yang siap akan lebih mampu mengurangi dampak dan pulih lebih cepat.
Melalui komitmen nasional terhadap iklim dan aksi lokal yang konkret, Indonesia dapat menjawab tantangan ini dengan harapan. Perubahan iklim adalah kenyataan, tetapi respons kita dapat menentukan seberapa besar dampaknya. Saatnya memperkuat kesiapsiagaan bukan hanya sebagai respons darurat, tetapi sebagai bagian dari strategi pembangunan jangka panjang.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
Terkini
-
Taruna Akmil akan Dampingi Siswa Sekolah Rakyat Belajar Mandiri di Asrama Selama 5 Hari
-
Tak Lagi 'Macan Ompong', RUU HAM Beri Komnas HAM Kewenangan Penyidikan
-
Menuju Kota Global, Jakarta Kejar Target Bebas Buang Air Sembarangan
-
Jangan Terkecoh! Pendakian Gunung Merapi Masih Ditutup, Abaikan Ajakan di Medsos
-
Jadi Otak Penyekapan, Bos Percetakan di Senen Perintahkan Anak Buah Pasung Kaki Korban
-
Bertemu Dony Oskaria, KPK Minta Pejabat BUMN Bandel Tak Lapor LHKPN Disanksi
-
Gelar Budaya Jokowi Disorot, Dinilai Jadi 'Senjata' Politik Incar Masyarakat Paternalistik
-
Satu Tahun Menuju 5 Abad, Apakah Jakarta Sudah Layak Kota Global?
-
Sekjen Golkar: Pasar Tak akan Goyang Hanya Karena Gaya Pidato Prabowo
-
Rp1,1 Triliun Anggaran Pendidikan Jakarta Tak Terserap, DPRD: Harusnya Bisa untuk Sekolah Gratis