Suara.com - Komunitas ilmuwan iklim sudah lama mengetahui bahaya “polutan super” seperti metana dan karbon hitam. Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) bahkan sudah bertahun-tahun memperingatkan potensi pemanasan yang ditimbulkannya.
Namun, perhatian global terhadap isu ini baru benar-benar menguat belakangan. Salah satu penyebabnya adalah daya pemanasan metana yang 86 kali lebih tinggi dibanding CO dalam jangka waktu 20 tahun.
Meski begitu, dampak polutan super terhadap kesehatan manusia masih kerap diabaikan. Metana, misalnya, tidak langsung membahayakan saat dihirup, sehingga jarang masuk dalam diskusi kualitas udara. Padahal, zat ini memicu pembentukan ozon troposfer yang berbahaya bagi kesehatan.
Karbon hitam lebih dikenal oleh komunitas kesehatan, tetapi efeknya masih belum sepenuhnya dipahami. Ozon troposfer sendiri sudah diatur selama beberapa dekade, namun pembentukannya yang kompleks membuat pemantauannya tidak optimal.
Di sinilah persoalan besar bermula. Komunitas iklim dan kesehatan masih bekerja secara terpisah, meskipun polutan super berdampak pada keduanya.
Organisasi seperti Climate and Clean Air Coalition kini mendorong pendekatan baru: “satu atmosfer”—yakni mengintegrasikan kebijakan iklim dan udara bersih dalam satu kerangka terpadu.
“Menargetkan polutan super adalah peluang unik dan bisa menjadi rem darurat yang kita butuhkan untuk memperlambat pemanasan global.”
Dampaknya Bisa Cepat Terasa
Polutan super berumur pendek. Artinya, jika dikurangi sekarang, hasilnya bisa langsung dirasakan.
Baca Juga: Mengapa Ekowisata dan Pariwisata Berkelanjutan Penting untuk Masa Depan?
Berbeda dengan CO yang bertahan di atmosfer selama ratusan tahun, mengurangi metana atau karbon hitam bisa memperlambat pemanasan dalam jangka waktu dekat.
Bagi sektor kesehatan, ini kabar baik. Udara yang lebih bersih berarti penurunan penyakit pernapasan dan kardiovaskular, serta menurunnya risiko kematian dini.
“Mengurangi karbon hitam dan ozon meningkatkan kualitas udara, yang berarti lebih sedikit penyakit pernapasan, kondisi jantung, dan kematian dini.”
Enam Cara Mengambil Tindakan
Berbagai aktor—pemerintah, pembuat kebijakan, sektor swasta, hingga masyarakat—bisa ikut serta dalam upaya ini. Berikut enam langkah konkret yang bisa dilakukan:
1. Meningkatkan Kesadaran
Masih banyak pembuat kebijakan yang belum memahami isu polutan super. Padahal, dampaknya luas dan lintas sektor. Edukasi perlu ditingkatkan di bidang pertanian, transportasi, energi, hingga kesehatan masyarakat.
“Apakah Anda bekerja di bidang pertanian, transportasi, energi, atau kesehatan masyarakat—polutan ini relevan dengan bidang Anda.”
2. Memperkuat Pengukuran
Tanpa data, tidak ada intervensi yang tepat. Pemantauan dengan satelit, sensor, dan jaringan lokal sangat dibutuhkan untuk mengetahui sumber dan besaran emisi.
“Kita tidak dapat mengelola apa yang tidak kita ukur.”
3. Mengintegrasikan Kebijakan
Kebijakan udara bersih dan iklim tidak bisa lagi berjalan terpisah. Contoh suksesnya adalah Program Udara Bersih Afrika yang mendukung aksi lintas sektor di berbagai negara.
“Kebijakan iklim dan kualitas udara harus dirancang bersama.”
4. Mendukung Penelitian
Masih banyak pertanyaan belum terjawab. Seperti, seberapa beracun karbon hitam dibanding PM2.5? Atau, bagaimana membedakan dampak ozon dari efek gelombang panas?
“Mengisi celah ini akan membantu kita menargetkan intervensi dengan lebih efektif.”
5. Menanamkan dalam Rencana Nasional
Polutan super perlu dimasukkan ke dalam Nationally Determined Contributions (NDC) atau rencana iklim nasional yang akan diperbarui tahun ini.
“Dimasukkannya polutan super dalam beberapa rencana aksi nasional merupakan tanda positif.”
6. Melibatkan Sektor Swasta
Perusahaan memiliki peran strategis. Mereka bisa mulai dari hal sederhana: mengukur dan melaporkan emisi non-CO.
“IKEA, misalnya, telah mengambil langkah-langkah ke arah ini.”
Peluang Ekonomi dan Keadilan Sosial
Selain manfaat lingkungan dan kesehatan, pengurangan polutan super juga mendatangkan keuntungan ekonomi. Udara bersih mengurangi beban layanan kesehatan dan meningkatkan produktivitas.
“Udara yang lebih bersih berarti biaya perawatan kesehatan yang lebih rendah dan produktivitas yang lebih tinggi.”
Di kawasan seperti Asia Tenggara, kerja sama lintas negara bisa mengubah masa depan. Sebab polusi udara tak mengenal batas wilayah.
“Di wilayah seperti Asia Tenggara, tindakan terkoordinasi dapat mengubah hasil kesehatan masyarakat.”
Koalisi Iklim dan Udara Bersih akan segera merilis laporan terbaru yang memperkirakan besarnya kerugian ekonomi bila tidak ada tindakan cepat terhadap polutan super.
“Ini bukan sekadar masalah iklim. Ini masalah kesehatan. Ini masalah kesetaraan. Dan ini adalah kesempatan yang tidak boleh kita lewatkan.”
Langkah-langkah untuk mengatasi polutan super kini semakin jelas. Waktunya bukan hanya menyadari ancaman, tapi juga menjalankan solusi—sebelum terlambat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- 7 Bedak Wardah yang Tahan Lama Seharian, Makeup Flawless dari Pagi sampai Malam
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
Pilihan
-
Tak Ganggu Umat Muslim, Pihak Yayasan Pastikan Rumah Doa Jemaat POUK Tesalonika Jauh dari Masjid
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
Terkini
-
Innova Venturer Ringsek Tak Berbentuk Dihantam KRL di Bogor, Sopir Raib Misterius Usai Tabrakan
-
Perombakan Besar Militer AS, Pete Hegseth Pecat Jenderal Randy George di Tengah Perang Iran
-
Bahas Isu Terkini, Seskab Teddy Bertemu Wapres Gibran 1,5 Jam di Istana Sambil Bawa Catatan
-
Misi Gelap WNA Rusia Selundupkan 202 Reptil Digagalkan Gakkum Kemenhut! Pelaku Terancam 10 Tahun Bui
-
Rudal Ghadr Hantam Kapal Induk AS, Balas Dendam Iran Atas Gugurnya Khamenei Benar-Benar Pecah
-
Dukcapil: Hampir 35 Persen Pendatang ke Jakarta Cari Kerja, Didominasi Usia Produktif
-
Godzilla El Nino Ancam Ketahanan Pangan, Padi dan Jagung Paling Rentan Gagal Panen
-
Radar THAAD Senilai Rp2 Triliun Hancur Total Diserang Iran Bikin Hubungan AS dan NATO Kini Memanas
-
Kayu Hanyutan Banjir di Aceh dan Sumut Dimanfaatkan Warga jadi Material Huntara
-
Sopir Taksi Online Cabul Ditangkap di Depok: Polisi Temukan Sabu, Kondom, hingga Obat Kuat!