Suara.com - Seorang anggota polisi, Brigadir Nurhadi, ditemukan tewas mengenaskan di kolam renang sebuah villa mewah di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Peristiwa tragis itu diduga terjadi saat pesta narkoba dan minuman keras (miras) bersama seorang wanita.
Peristiwa berdarah ini menyeret dua perwira polisi, bekas komandan Brigadir Nurhadi, yakni Kompol I Made Yogi Purusa Utama dan Ipda Haris Chandra. Kemudian juga seorang perempuan cantik bernama Misri Puspita Sari.
Berikut sejumlah fakta-fakta tewasnya Brigadir Nurhadi yang diolah dari berbagai sumber.
1. Pesta di Villa Mewah Lombok
Pesta di malam nahas yang terjadi April 2025 itu dihadiri lima orang. Mereka adalah Brigadir Nurhadi, Kompol I Made Yogi Purusa Utama, Ipda Haris Chandra, serta dua wanita muda bernama Misri Puspita Sari (23) dan Melanie Putri.
Kelimanya pesta dengan minuman keras (miras) dan diduga juga menggunakan narkoba. Mereka menikmati malam di kolam renang villa mewah tersebut.
2. Ciuman Terlarang Picu Tragedi
Menurut pengakuan Misri Puspita Sari yang telah ditetapkan sebagai tersangka, ketegangan dimulai saat Nurhadi mencium Melanie, wanita yang disewa oleh Ipda Haris.
“Misri sempat melihat Nurhadi menciumi Melanie di atas kolam. Misri menegur Nurhadi, ‘Jangan begitu, itu cewek abangmu’,” jelas pengacara Misri, Yan Mangandar Putra.
Baca Juga: Tahu Anaknya Terseret di Kematian Brigadir Nurhadi, Ibunda Misri Dilanda Nestapa
Tak lama setelah itu, Brigadir Nurhadi ditemukan tak bernyawa di kolam renang villa tersebut.
3. Cedera Cekik
Hasil autopsi mengungkap adanya patah pada tulang hyoid, yang mengindikasikan korban tewas akibat cekikan. Hal ini memperkuat dugaan pembunuhan dan bukan kecelakaan biasa saat berpesta.
4. Misri Dibayar Rp 10 Juta
Misri yang berasal dari Jambi, mengaku dibayar Rp 10 juta oleh Kompol Yogi untuk menemaninya selama di Lombok. Sementara Melanie disewa oleh Ipda Haris. “Nurhadi tidak menyewa perempuan, dia hanya jadi sopir,” kata pengacara Misri.
5. Misri Diganggu Arwah Nurhadi
Setelah ditetapkan sebagai tersangka, Misri mengalami gangguan psikologis berat. Ia bahkan mengaku kerasukan arwah Nurhadi yang membisikkan nama pelaku pembunuhan.
“Saat hipnosis, Misri menggambarkan sosok raksasa tanpa wajah yang melarangnya bicara,” kata Yan.
6. Motif Asmara Tapi Pelaku Belum Terungkap
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda NTB, Kombes Syarif Hidayat, membenarkan bahwa motif pembunuhan diduga karena rasa cemburu.
“Diduga korban mencoba merayu teman wanita salah satu tersangka, itu dibenarkan oleh saksi di TKP,” kata Syarif.
Polisi memperkirakan waktu kematian Nurhadi antara pukul 20.00–21.00 WITA, tak lama setelah ia terakhir terlihat terekam kamera. Namun, hingga kini belum ada satu pun dari kelima orang di tempat kejadian yang mengakui perbuatannya.
7. Polisi Kantongi Alat Bukti
Polisi telah mengantongi dua alat bukti terkait tewasnya Brigadir Muhammad Nurhadi di Gili Trawangan, Lombok Utara.
Direktur Reskrimum Polda NTB, Kombes Syarif Hidayat menyatakan bukti itu memperkuat dugaan penganiayaan dan kelalaian tiga tersangka hingga menyebabkan kematian.
"Bukti diperoleh dari pemeriksaan 18 saksi dan sejumlah ahli," ujarnya, Jumat (11/7/2025).
Hasil analisis forensik menyimpulkan Nurhadi meninggal akibat dicekik. Namun polisi belum mengungkap detail alat bukti dan pelaku eksekusi.
8. Dua Perwira Dipecat
Polda Nusa Tenggara Barat (NTB) telah memecat Kompol I Made Yogi Purusa Utama dan Ipda Haris Chandra melalui sidang etik. Keduanya menjadi tersangka kasus dugaan pembunuhan Brigadir Muhammad Nurhadi dan telah ditahan.
Kompol Yogi dan Ipda Haris merupakan atasan korban di Unit Propam Polda NTB. Peristiwa terjadi di kolam renang penginapan Gili Trawangan, Lombok Utara, pada 16 April 2025 saat mereka menghadiri pesta pribadi.
Kasus kematian Brigadir di villa Lombok ini masih menjadi misteri. Penyidik terus menggali informasi dan menunggu hasil forensik lanjutan untuk mengungkap siapa pelaku sebenarnya dalam tragedi yang mencoreng institusi kepolisian ini.
Tag
Berita Terkait
-
Skandal Narkoba Polres Bima: Kasatresnarkoba AKP Malaungi Diperiksa Terkait Jaringan Bripka Karol
-
3 Alasan Unai Emery Cocok Jadi Pelatih Baru Real Madrid
-
Krisis Lini Tengah, Aston Villa Pulangkan Douglas Luiz dari Juventus
-
Saham BUVA Masuk MSCI? Analis Ungkap Potensi Emiten Happy Hapsoro
-
Klasemen Liga Europa usai Pekan ke-7: Aston Villa dan Lyon Melangkah ke 16 Besar
Terpopuler
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
Pilihan
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
-
Mandiri Tunas Finance Terancam Sanksi OJK Buntut Debt Collector Tusuk Advokat
Terkini
-
Minta Maaf ke Publik, Kapolri: Anggota Cederai Keadilan Akan Kami Tindak Tegas!
-
Polisi Tahan Ayah dan Anak Penganiaya Tetangga di Cengkareng, Terancam 7 Tahun Penjara
-
Ugal-ugalan dan Lawan Arus, Mobil Calya Diamuk Massa di Gunung Sahari
-
Golkar Dukung Langkah Sufmi Dasco Tunda Impor 105 Ribu Mobil Niaga India
-
Pasca-kecelakaan Beruntun, DPRD DKI Minta Transjakarta Evaluasi Penempatan Depot dan Jam Kerja Sopir
-
Sulap Kawasan Padat Jadi Destinasi Kuliner, Pemprov DKI Dukung Gentengisasi Menteng Tenggulun
-
Kemensos Gelar Operasi Katarak Gratis di Bekasi
-
Jelang Mudik Lebaran, Kapolri Minta Jajaran Maksimalkan Pengamanan Nasional
-
Polisi Turun Tangan Dalami Kasus Relawan Diteror Bangkai Anjing Tanpa Kepala di Aceh Tamiang
-
Adian Napitupulu Murka Ketua BEM UGM Diteror: Ini Kemunduran Demokrasi!