Suara.com - Ancaman pasal makar dari Menteri HAM Natalius Pigai terhadap pengibar bendera One Piece dinilai sebagai puncak dari pola reaktif pemerintah yang anti-kritik. Pakar komunikasi massa dari Universitas Jenderal Soedirman, Edi Santoso, menyebut ini bukan kali pertama Istana 'baperan' dalam menanggapi ekspresi kekecewaan publik.
Menurutnya, pemerintah cenderung menyerang balik simbol-simbol kritik, alih-alih mencoba memahami pesan yang ingin disampaikan oleh masyarakat.
Edi Santoso melihat ada sebuah pola yang konsisten dari para pejabat dalam merespons suara-suara sumbang dari publik. Sikap keras terhadap pengibar bendera One Piece hanyalah contoh terbaru.
- Bendera One Piece: Menteri HAM Natalius Pigai menyebutnya bisa dianggap tindakan makar.
- Tagar 'Indonesia Gelap': Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menyerang balik dengan mengatakan, "Jadi kalau ada yang bilang itu Indonesia gelap, yang gelap kau! Bukan Indonesia."
- Tagar 'Kabur Aja Dulu': Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer merespons dengan ketus, "Mau kabur, kabur aja lah. Kalau perlu jangan balik lagi."
Pola reaktif ini, menurut Edi, menunjukkan ketidaksiapan pemerintah dalam menghadapi budaya kritik.
Edi Santoso menilai pemerintah terlalu terburu-buru dan gagal paham konteks di balik berbagai ekspresi publik tersebut. Alih-alih dianggap sebagai ancaman, seharusnya ini menjadi masukan berharga.
"Saya kira memang kita tidak terbiasa dengan budaya kritik. Kemudian kita juga cenderung reaksioner. Padahal kalau kita lihat dalam kacamata yang positif dan konstruktif, itu hal yang biasa," kata Edi saat dihubungi Suara.com, Selasa (5/8/2025).
Ia mencontohkan fenomena bendera One Piece yang seharusnya bisa dilihat sebagai dinamika penyampaian protes yang kreatif.
"Termasuk ya pengibaran bendera ini kan. Kalau kita lihat itu sebagai dinamika, sebagai cara penyampaian protes yang lucu karena ini seperti budaya pop sebetulnya," ujar Edi.
Lebih jauh, Edi menyebut pelabelan makar adalah kesimpulan yang terburu-buru dan bisa memicu kegaduhan yang tidak perlu. Menurutnya, jika pun ada masyarakat yang tidak puas, pemerintah seharusnya meresponsnya dengan membuka ruang dialog.
Baca Juga: Skenario Anies Baswedan Jika Gabung Kabinet Prabowo, Refly Harun Ungkap Misi Gantikan Gibran
"Faktanya, barangkali memang ada masyarakat yang tidak puas, kecewa dengan kondisi negara. Dan itu faktual dan mestinya ditanggapi secara positif," tegasnya.
Sikap reaktif pemerintah ini juga dinilai tidak sejalan dengan semangat rekonsiliasi yang sedang digaungkan Presiden Prabowo Subianto, yang bahkan memberikan amnesti dan abolisi untuk merangkul semua pihak.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
CV Joint Lepas L8 Patah saat Pengujian: 'Definisi Nama Adalah Doa'
-
Ustaz JM Diduga Cabuli 4 Santriwati, Modus Setor Hafalan
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
-
Misi Juara Piala AFF: Boyongan Pemain Keturunan di Super League Kunci Kekuatan Timnas Indonesia?
-
Bukan Ragnar Oratmangoen! Persib Rekrut Striker Asal Spanyol, Siapa Dia?
Terkini
-
OTT Beruntun di Kemenkeu, KPK Sita 3 Kg Emas dan Duit Miliaran dari Penangkapan Pejabat Bea Cukai
-
Edit Logo NU dan Disamakan dengan Simbol Yahudi, Warga Laporkan Akun X ke Polda Metro Jaya
-
Mensesneg Bocorkan Jadwal Pelantikan Hakim MK Baru Adies Kadir
-
PM Australia Anthony Albanese ke Jakarta Besok, Cek 8 Ruas Jalan yang Kena Rekayasa Lalin
-
BPJS PBI Dinonaktifkan Tanpa Pemberitahuan, Puluhan Pasien Cuci Darah Jadi Korban Ditolak RS
-
Bocah 10 Tahun di Ngada Bunuh Diri, Menteri PPPA Sentil Kerapuhan Sistem Perlindungan Anak Daerah
-
Istana Buka Suara soal Siswa SD Akhiri Hidup di NTT
-
Momen Langka di Abu Dhabi, Kala Prananda Prabowo Jadi Fotografer Dadakan Megawati
-
Haris Rusly Moti: Strategi Multi-alignment, Manuver Cerdas Prabowo untuk Palestina Merdeka
-
Anak Buah Terjaring OTT KPK, Menkeu Purbaya: Kenapa Terpukul? Ini Titik Masuk Perbaikan