Suara.com - Suara.com bersama International Media Support (IMS) menggelar Local Media Summit (LMS), wadah berdiskusi dan berjejaring bagi pengelola media lokal dan skala kecil se-Indonesia, juga media berbasis platform (medsos), bersama stakeholder dari platform internet, agensi periklanan, lembaga donor, penyedia teknologi, juga pemerintah maupun swasta.
Berlangsung di Ballroom Hotel JW Marriott, Jakarta, dengan tema "Digital Media Sustainability for a Healthy Information Ecosystem", dalam topik "Beyond Headlines: Building Peace & Inclusion Through Constructive Journalism", hadir sebagai salah satu pembicara Prof. Drs. Adrianus Eliasta Meliala, M.Si., M.Sc, Ph.D., Pok Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.
Menurutnya, kompetisi dalam perusahaan-perusahaan pers menjadikan informasi atau berita yang disajikan kepada masyarakat menjadi memiliki nilai atau value lebih besar.
"Kompetisi menjadi hal yang baik untuk menjadi lebih produktif," jelas Prof Adrianus yang memiliki latar belakang jurnalis.
Menyimak perkembangan dunia jurnalistik Tanah Air, disebutkannya bahwa para pewarta atau reporter dalam situasi dunia jurnalistik baru ini sudah keluar dari beberapa indikator.
"Bila tadinya mendorong clickbait, mendorong content yang banyak, juga mendorong banyaknya views, kini sudah bergeser. Kita sudah berada di level agak beda, yaitu memperhitungkan makna," tandas Adrianus Meliala.
"Sebuah artikel dianggap bermakna bila mengarah kepada hal yang ideal. Jadi ada media dengan viewers tidak banyak akan tetapi menjadi rujukan bagi banyak pihak. Ini akan menjadi "call" bagi para investor, saat ia placement dagangannya, komoditinya tidak hanya bersandar kepada viewers, namun magnitude yang bisa ia peroleh ketika ia menumpangkan komoditinya kepada media," lanjutnya.
Berikut 10 tips yang dibagikan Prof Adrianus agar kegiatan menulis di dunia jurnalistik tidak terjebak konflik, baik bersifat lokal, maupun nasional, dan menghadirkan demands bagi masyarakat:
1. Peace, kedamaian yang diharapkan
"Ini adalah hal abstrak. Inilah konsensus. Tidak ada damai yang vivid, kita semua punya gambaran berbeda-beda. Dengan melihat dokumen dasar seperti Pancasila: apa sih damai yang kita perlukan? Setiap masa ada bayangan tentang damai, hal ini perlu terus diasah," urai Adrianus Meliala.
Baca Juga: Strategi Holding BUMN Danareksa Perluas Akses Pasar UMKM
2. Kondisi damai adalah konstruksi harus terus dirawat sehingga tidak runtuh
"Jangan lupa, ada debat di dalam sebuah isu liputan. Melalui konteks politik, melalui substansi, contohnya partai. Untuk mencapai perdamaian harus lewat konflik, atau dalam dunia demokrasi sebaliknya: sampai tercapai konsensus," ungkapnya.
3. Konflik dalam berbagai bentuknya, horizontal antara elemen masyarakat, vertikal antara kita dengan negara, adalah sesuatu yang mudah tumpah, susah untuk dihentikan
"Konflik sesuatu yang menyenangkan bagi seseorang, seperti menyusun permainan rumah dari kartu yang disusun. Hanya dengan embusan angin sudah runtuh," jelas Adrianus Meliala tentang cara berimbang dalam menulis.
4. Ada kepentingan. Sekali konflik terjadi, upaya menjahitnya kembali dipenuhi scepticism
"Pernah dengar kata "cair" yang menunjukkan artikel ditunggangi atau memiliki kepentingan? Jadilah jurnalis yang strategis, pahami waktu dan taktis," Prof Adrianus mengingatkan.
5. Melalui jurnalisme yang kita bangun, damai, kita usahakan dan pihak yang kita tuju juga ikut berpartisipasi
"Jurnalis mengajak pembaca membawa damai dan inklusi. Praktisi media didorong konstruktif," imbau Adrianus Meliala.
6. Mendorong peace
"Ada pihak-pihak yang mencari celah, senang intoleransi, posisi radikal, intoleransi. Jadikan berita yang disampaikan memiliki nilai inklusif," lanjutnya.
7. Common enemy
"Pemerintah dengan anggaran cekak, dengan mudah media didukung pembaca menjadikan pemerintah common enemy. Jurnalis ada di posisi merdeka, merangkul pemerintah, berkontribusi, untuk memilih yang terbaik. Posisi untuk mendorong ke posisi lebih baik harus diupayakan," saran Adrianus Meliala.
Berita Terkait
-
Strategi Holding BUMN Danareksa Perluas Akses Pasar UMKM
-
Bukan Sekadar Bazaar, PNM Hadirkan Ruang Tumbuh dan Silaturahmi UMKM di PFL 2025
-
BRI Dorong UMKM Kuliner Padang Perkuat Branding dan Tembus Pasar Global Lewat Program Pengusaha Muda
-
1.300 UMKM Antusias Ikuti Kompetisi Perdana 'Shopee Jagoan UMKM Naik Kelas'
-
Didukung Ekosistem Digital Telkom, UMKM Pekalongan Tembus Pasar Global
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
Nasib Pandji Pragiwaksono di Tangan Polisi, Penyelidik Mulai Analisis Barang Bukti Materi Mens Rea
-
Aksi Ekstrem Pasutri Pakistan di Soetta: Sembunyikan 1,6 Kg Sabu di Lambung dan Usus
-
60 Ton Sampah Menggunung, Pemprov DKI Janji Pasar Induk Kramat Jati Bersih dalam 5 Hari
-
Sinyal Bahaya Demokrasi, Lakso Anindito Sebut KUHP Baru Berpotensi Hidupkan Rezim Otoritarian Orba
-
KPK Sempat Terbelah dan Ragu Jadikan Yaqut Tersangka Korupsi Haji?
-
Lakso Anindito Prediksi Gelombang Praperadilan Koruptor Akibat KUHP Baru
-
Rumah Yaqut 'Dikepung' Aparat, Tamu Diperiksa Ketat Usai Jadi Tersangka Korupsi Haji
-
BNI Hadirkan agen46 hingga Pelosok Kota Bima, Perluas Inklusi Keuangan
-
Indonesia Terpilih jadi Presiden Dewan HAM PBB, Amnesty International Indonesia: Kebanggaan Semu!
-
KPK Bongkar Alasan Jerat Eks Menag Yaqut: 'Permainan' Kuota Haji Tambahan Jadi Pemicu