- WHO ungkap dana fantastis Rp116,3 triliun wajib ada demi pulihkan kesehatan Gaza.
- Kondisi miris: Nol rumah sakit berfungsi normal, 15 ribu warga antre evakuasi medis.
- Gencatan senjata Trump disepakati, namun krisis medis Gaza masih sangat mencekam.
Suara.com - Di tengah sorotan dunia terhadap kesepakatan gencatan senjata baru, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis fakta yang mencengangkan mengenai harga yang harus dibayar untuk memulihkan sektor vital di Palestina.
Kehancuran infrastruktur medis di Jalur Gaza telah mencapai titik di mana biaya pemulihannya menembus angka yang sangat fantastis.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan bahwa "pembangunan kembali sistem layanan kesehatan di Jalur Gaza, Palestina, membutuhkan sedikitnya 7 miliar dolar AS (sekitar Rp116,3 triliun)".
Angka Rp116,3 triliun ini bukan sekadar statistik, melainkan gambaran nyata dari tingkat kerusakan absolut akibat konflik berkepanjangan.
Dana sebesar itu diperlukan karena saat ini infrastruktur kesehatan di wilayah kantong tersebut praktis lumpuh.
Tedros memaparkan kondisi lapangan yang sangat memprihatinkan, di mana "tidak ada satu pun rumah sakit di Gaza yang berfungsi secara normal dan hanya 14 rumah sakit yang masih beroperasi" dengan kapasitas yang sangat minim dan serba kekurangan.
Krisis ini semakin dalam dengan lenyapnya pasokan obat-obatan esensial, rusaknya peralatan medis, serta kurangnya tenaga kesehatan yang tersisa.
Dampak kemanusiaannya sangat fatal; WHO mencatat sekitar 15.000 warga Gaza kini dalam kondisi kritis menunggu evakuasi medis, termasuk di antaranya 4.000 anak-anak.
Tragisnya, birokrasi dan situasi keamanan yang buruk telah menyebabkan 700 orang meninggal dunia hanya karena menunggu antrean evakuasi yang tak kunjung tiba.
Baca Juga: WHO Apresiasi Kemajuan Indonesia dalam Pengembangan Obat Herbal Modern
Kebutuhan dana fantastis ini mencuat beriringan dengan momentum politik baru yang dibawa oleh mantan Presiden AS, Donald Trump.
Pada 13 Oktober, sebuah deklarasi gencatan senjata ditandatangani oleh Trump bersama para pemimpin Mesir, Qatar, dan Turki, menyusul kesepakatan awal antara Israel dan Hamas pada 9 Oktober untuk melaksanakan tahap pertama rencana perdamaian.
Rencana perdamaian 20 poin yang diusulkan Trump pada akhir September lalu tidak hanya menargetkan penghentian tembakan dan pertukaran sandera—di mana 20 sandera Israel ditukar dengan hampir 2.000 tahanan Palestina—tetapi juga mencakup restrukturisasi pemerintahan Gaza.
Dalam proposal tersebut, ditekankan agar "Hamas atau kelompok bersenjata Palestina lainnya tidak disertakan dalam pemerintahan baru" di Jalur Gaza.
Kendali wilayah nantinya akan diserahkan kepada komite teknokrat di bawah pengawasan badan internasional yang dipimpin Trump.
Badan inilah yang kemungkinan besar akan menghadapi tantangan raksasa dalam mengelola dana ratusan triliun rupiah untuk membangun kembali puing-puing fasilitas kesehatan di Gaza agar kembali layak digunakan oleh jutaan warganya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Apresiasi Daerah Berprestasi 2026 Digelar, Mendagri Dorong Iklim Kompetitif Antardaerah
-
APPMBGI Ingatkan Potensi Tekanan Pasokan Pangan Imbas Program MBG
-
Presiden Iran Tolak Negosiasi di Bawah Tekanan dan Blokade
-
Bantah Isu Bansos Dipotong, Gus Ipul: Itu Narasi Menyesatkan dan Potensi Penipuan!
-
Donald Trump Klaim Terima Usulan Baru dari Iran usai Batalkan Misi Perundingan ke Pakistan
-
Donald Trump Batalkan Keberangkatan Utusan ke Pakistan, Negosiasi Iran AS Kembali Buntu
-
Motif Konyol 'Prank' Damkar Semarang Terungkap: Kesal Debitur Susah Ditagih Utang Rp2 Juta!
-
WHO Sebut Butuh Rp172 Triliun untuk Pulihkan Sistem Kesehatan Gaza dalam 5 Tahun
-
Kekerasan Anak di Little Aresha, Pengurus Hingga Pemilik Terancam Hukuman Berat
-
Bidik Top 50 Kota Global, Jakarta Resmi Jalin Kerja Sama Sister City dengan Jeju Korsel