- KPK telah menaikkan status kasus dugaan korupsi proyek Kereta Cepat Whoosh ke tahap penyelidikan dan membuka peluang memanggil pihak PT KCIC
- Mantan Menko Polhukam Mahfud MD menjadi pemicu utama penyelidikan setelah mengungkap dugaan penggelembungan biaya proyek hingga tiga kali lipat, dari 17-18 juta dolar AS per kilometer di China menjadi 52 juta dolar AS di Indonesia
- Penyelidikan KPK akan berfokus untuk menelusuri siapa pihak yang menaikkan anggaran dan ke mana saja aliran dana dari dugaan penggelembungan biaya tersebut
Suara.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memberi sinyal kuat akan memanggil jajaran PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) terkait penyelidikan dugaan korupsi megaproyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Whoosh.[1] Kasus ini meledak setelah mantan Menko Polhukam, Mahfud MD, mengungkap adanya potensi penggelembungan anggaran (mark up) yang fantastis.
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menyatakan bahwa pemanggilan para pihak yang diduga mengetahui seluk-beluk proyek strategis nasional ini adalah sebuah keniscayaan dalam proses penyelidikan.
Meskipun ia belum merinci siapa saja yang akan diperiksa, sinyal ini mengarah pada pihak-pihak yang terlibat langsung dalam perencanaan dan eksekusi proyek.
“Terkait dengan pihak-pihak yang nanti akan diminta keterangan, tentu karena ini masih di tahap penyelidikan, kami belum bisa menyampaikan secara detail pihak-pihak tersebut,” ujar Budi Prasetyo di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, dilansir Antara, Rabu (29/10).
KPK memastikan tidak akan pandang bulu. Menurut Budi, setiap informasi dan data yang relevan akan digali untuk membuat terang perkara yang menyedot perhatian publik ini.
“Karena setiap informasi, data, dan keterangan dari pihak-pihak tersebut akan membantu dalam proses penyelidikan perkara ini,” tegasnya.
Dugaan korupsi ini pertama kali dilempar ke publik oleh Mahfud MD melalui kanal YouTube pribadinya pada 14 Oktober 2025.
Ia membeberkan data mencengangkan mengenai biaya pembangunan Whoosh yang membengkak hingga tiga kali lipat dibandingkan proyek serupa di China.
"Menurut perhitungan pihak Indonesia, biaya per satu kilometer kereta Whoosh itu 52 juta dolar Amerika Serikat. Akan tetapi, di China sendiri, hitungannya 17-18 juta dolar AS. Naik tiga kali lipat," ungkap Mahfud.
Mahfud secara terbuka mempertanyakan siapa yang bertanggung jawab atas lonjakan biaya yang tidak masuk akal tersebut dan ke mana aliran dananya.
Baca Juga: KCIC Pastikan Isu Dugaan Korupsi Whoosh Tak Pengaruhi Jumlah Penumpang
Ia melanjutkan, "Ini siapa yang menaikkan? Uangnya ke mana? Naik tiga kali lipat. 17 juta dolar AS ya, dolar Amerika nih, bukan rupiah, per kilometernya menjadi 52 juta dolar AS di Indonesia. Nah itu mark up. Harus diteliti siapa yang dulu melakukan ini."
Menyusul kegaduhan ini, KPK secara resmi mengumumkan pada 27 Oktober 2025, bahwa kasus dugaan korupsi proyek Whoosh telah naik ke tahap penyelidikan sejak awal tahun 2025.
Mahfud MD pun telah menyatakan kesiapannya untuk dipanggil dan memberikan keterangan kepada KPK guna membantu proses pengusutan.
Berita Terkait
-
Skandal Korupsi Whoosh: KPK Usut Mark Up Gila-gilaan, Tapi Ajak Publik Tetap Naik Kereta
-
Dugaan Kerugian Negara Rp75 T di Proyek KCJB, Pemufakatan Jahat Pemilihan Penawar China Jadi Sorotan
-
KCIC Pastikan Isu Dugaan Korupsi Whoosh Tak Pengaruhi Jumlah Penumpang
-
Whoosh Mau Dijual ke Publik? Ketua Projo Dorong IPO Atasi Utang Kereta Cepat
-
Penyelidikan Hampir Setahun, KPK Klaim Masih Cari Peristiwa Pidana dalam Kasus Pengadaan Whoosh
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Henri Curiga Kasus Roy Suryo Dikebut, Sebut Ada Upaya Cegah Ijazah Jokowi Diuji di Pengadilan
-
Di Tengah Sorotan Ekonomi, Prabowo Minta Rosan Buka Data Masuknya Investasi Asing ke Indonesia
-
Sentil Polri di Kasus Roy Suryo, Henri Subiakto Sebut UU ITE Dipakai Tutupi Isu Ijazah Jokowi
-
Di Tengah Gelombang Kritik, Prabowo Sebut Investasi Asing ke Indonesia Terus Mengalir
-
Henri Subiakto Sebut Pasal yang Menjerat Roy Suryo Tak Masuk Akal, Status P21 Dipertanyakan
-
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Segera Ditandatangani, Teheran Beri Sinyal Berbeda
-
Apa Itu Restitusi? Wamen PPPA Tegaskan Korban Bullying Berhak Dapat Ganti Rugi
-
Bangun Spiritualitas Warga Jawa Barat, KDM Prioritaskan Bangun Tajuk di Lingkungan
-
Kejahatan Digital Kian Mengintai, Pemerintah Minta Anak Muda Hati-hati di Internet
-
Veronica Tan Soroti Pemberdayaan Perempuan di NTT: Kunci Putus Rantai Kemiskinan dan Kekerasan