News / Nasional
Senin, 12 Januari 2026 | 23:25 WIB
Ilustrasi ruas jalan di Jakarta terendam banjir. (Suara.com)
Baca 10 detik
  • Jakarta dilanda banjir besar pada Senin pagi (12/1/2026) akibat hujan deras yang menyebabkan sistem drainase kewalahan, berdampak pada transportasi umum.
  • Tanggul baru di Cilandak Timur tidak sepenuhnya efektif mencegah banjir, bahkan diduga memperlambat laju surut air di permukiman sekitar Kali Krukut.
  • Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) tidak dilaksanakan karena Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tidak memberikan rekomendasi pelaksanaannya saat itu.

Mereka tidak hanya bicara soal pompa air atau pengerukan sungai, kali ini mereka bicara sains, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Sebuah istilah yang terdengar futuristik, canggih, dan seolah memberi jaminan bahwa manusia akhirnya memegang kendali atas awan.

Bayangkan pesawat-pesawat Casa yang membelah langit, menaburkan ribuan kilogram garam ke perut awan kumulonimbus. Skenarionya terdengar sempurna, hujan akan "dipaksa" turun di laut sebelum sempat menyentuh aspal Jakarta.

Ancaman cuaca ekstrem awal tahun akan dijinakkan oleh rekayasa manusia. Kita pun sedikit bernapas lega, menyimpan payung di sudut lemari, percaya bahwa "tameng langit" itu benar-benar ada.

Namun, hari ini, langit Jakarta seolah tidak pernah membaca memo dinas tersebut. Pagi tidak dimulai dengan matahari yang malu-malu, melainkan dengan gemuruh yang merobek angkasa. Awan hitam menggantung rendah, tebal dan pekat, seolah menantang segala upaya modifikasi yang digembar-gemborkan.

Dan ketika tirai air itu akhirnya tumpah, ia tidak turun sebagai gerimis yang sopan. Ia turun layaknya air bah dari langit.

Di mana ribuan ton garam itu sekarang? Apakah mereka larut tanpa arti di angkasa, ataukah awan-awan ini terlalu keras kepala untuk tunduk pada rekayasa anggaran daerah?

"Tidak ada rekomendasi (modifikasi cuaca) dari BMKG," kata Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI Jakarta, Mohamad Yohan usai meninjau salah satu titik banjir di Jakarta Selatan.

Kenapa "Tameng Langit" Jakarta Tanggal?

Hari ini, Jakarta tidak terlihat seperti kota yang dilindungi oleh teknologi canggih. Ia kembali ke wujud aslinya yang rapuh, sebuah kota yang pasrah, di mana warganya kembali harus mengangkat celana setinggi lutut.

Baca Juga: Hujan Lebat dan Rob Sebabkan Banjir 50 Cm di Tanjung Priok

Seperti yang sudah diperkirakan, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) memang tidak dilakukan di Jakarta hari ini.

Memang betul, Pemprov DKI punya modal sendiri untuk memodifikasi cuaca. Anggaran khusus bahkan sudah dipersiapkan untuk itu.

Namun, wewenang tertinggi tetap di tangan BMKG, yang hari ini tidak memberikan rekomendasi untuk Pemprov DKI Jakarta "menghalau" awan hujan.

BMKG sendiri sudah sejak 8 Januari lalu mengeluarkan peringatan untuk Jakarta bersiaga menghadapi kenaikan intensitas hujan berskala sedang hingga sangat lebat hingga 13 Januari besok.

Lalu, mengapa "tameng langit" Jakarta ditanggalkan? Kata pengamat tata kota, Yayat Supriatna, ketiadaan TMC di Jakarta kali ini tentu erat kaitannya dengan ketersediaan anggaran baru selepas tahun berganti.

Petugas memasang pembatas jalan di gerbang tol yang terendam banjir di Jalan Tol Sedyatmo, Cengkareng, Jakarta, Senin (12/1/2026). [ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/nz]

Kalaupun memang rincian dana untuk modifikasi cuaca sudah dipersiapkan Pemprov DKI, masa transisi ke anggaran baru tetap diyakini Yayat sebagai salah satu batu sandungan.

Load More