News / Nasional
Kamis, 22 Januari 2026 | 14:09 WIB
Ilustrasi flu.(Freepik/poravute)
Baca 10 detik
  • Super Flu adalah mutasi Influenza A H3N2 subclade K, bukan virus baru, dengan penularan lebih cepat dan gejala demam ekstrem hingga 41 derajat Celsius.
  • Penyebaran awal fenomena ini dipicu cuaca ekstrem awal tahun dengan kelembapan tinggi yang memudahkan virus bertahan lama di udara.
  • Data Kemenkes menunjukkan 13 provinsi terjangkit, mayoritas kasus dialami perempuan dan anak-anak, namun tren kasus menunjukkan penurunan signifikan.

Kerentanan tinggi juga terlihat pada kelompok usia anak-anak 1 hingga 10 tahun, yang mencakup 35 persen dari total kasus. Kondisi ini mengindikasikan perlunya pengawasan protokol kesehatan yang lebih ketat di lingkungan sekolah dan tempat bermain.

Selain perempuan dan anak-anak, lansia serta penderita penyakit penyerta juga termasuk kelompok berisiko tinggi. Data ini menjadi peringatan bagi masyarakat untuk memberikan perlindungan ekstra bagi anggota keluarga yang rentan guna mencegah pemburukan gejala.

6. Sebaran di Beberapa Provinsi Indonesia

Data Kemenkes untuk periode 1 Januari 2025 hingga 10 Januari 2026 mengungkap persebaran Influenza A(H3N2) subclade K di Indonesia. Dari 204 spesimen Influenza A(H3N2) yang diuji di laboratorium, sebanyak 74 kasus dikonfirmasi sebagai varian subclade K.

Virus ini dilaporkan telah menyebar di 13 provinsi, dengan episentrum kasus terbanyak berada di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan.

Meski mayoritas kasus tercatat pada perempuan dan anak-anak, para epidemiolog mengingatkan adanya “fenomena gunung es”. Angka yang tercatat diyakini belum mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan, mengingat keterbatasan surveilans genomik nasional.

7. Tren Kasus Justru Sedang Menurun

Meski gejalanya tergolong berat, Kemenkes RI menyampaikan kabar yang menenangkan. Berdasarkan analisis, puncak penularan super flu di Indonesia telah terlewati pada minggu ke-40 tahun 2025.

Tren penurunan kasus mulai terlihat sejak minggu ke-44 dan terus berlanjut hingga akhir tahun. Memasuki Januari 2026, data nasional mengonfirmasi penurunan angka infeksi yang signifikan.

Pemerintah menyatakan situasi saat ini berada dalam kondisi terkendali. Meski demikian, masyarakat tetap diimbau menjaga pola hidup sehat dan kewaspadaan, tanpa perlu diliputi kepanikan berlebihan.

Reporter: Tsabita Aulia

Baca Juga: Ramadan dan Tubuh yang Beradaptasi: Mengapa Keluhan Kesehatan Selalu Datang di Awal Puasa?

Load More