- Dinas KPKP DKI Jakarta memperingatkan keras penggunaan ikan sapu-sapu liar sebagai bahan makanan olahan karena risiko kesehatan.
- Ikan sapu-sapu liar dari perairan tercemar Jakarta berpotensi mengandung logam berat berbahaya dan kontaminan lainnya.
- KPKP mengedukasi publik agar tidak mengonsumsi ikan tangkapan liar yang tidak terjamin mutu serta keamanannya.
Suara.com - Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta memberikan peringatan keras terkait maraknya penggunaan ikan sapu-sapu liar sebagai bahan olahan makanan.
Isu ini kembali mencuat seiring kekhawatiran masyarakat terhadap oknum pedagang siomay kaki lima nakal yang diduga mencampur adonan dengan daging ikan yang hidup di perairan kotor.
"Yang pakai sapu-sapu biasanya yang pedagang curang tuh," kata Sule, salah satu penjual siomay kaki lima, kepada Suara.com di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026).
Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, dalam pernyataan tertulis menegaskan bahwa ikan yang hidup di sungai atau waduk tercemar sangat berisiko bagi kesehatan manusia.
"Ikan sapu-sapu secara biologis bisa dikonsumsi, jika berasal dari hasil budidaya yang terkontrol, bukan di sungai atau waduk yang tercemar," ujar Hasudungan.
Kondisi sungai di Jakarta yang terpapar polutan membuat ikan sapu-sapu liar berpotensi mengandung zat kimia berbahaya jika masuk ke tubuh manusia.
"Pada kali yang tercemar, risiko kontaminasi cemaran logam berat berbahaya sangat tinggi dan kontaminan lain seperti E. coli yang berbahaya jika dikonsumsi," lanjut Hasudungan.
Ikan hasil tangkapan liar dari perairan umum dipastikan tidak melalui sistem pengawasan ketat, sehingga mutunya tidak dapat dijamin.
"Sehingga ikan hasil tangkapan liar tidak dapat dipastikan aman untuk dikonsumsi, dan tidak memenuhi standar keamanan dan standar mutu pangan," jelas Hasudungan.
Baca Juga: Mau Cari Inspirasi Bisnis Kuliner? Pameran Makanan dan HoReCa Bakal Hadir Akhir 2026
Berdasarkan kajian instansi terkait, ikan yang diambil dari Sungai Ciliwung mengandung akumulasi berbagai jenis logam berat yang berbahaya bagi kesehatan.
"Dapat mengandung berbagai logam berat seperti arsen (As), kadmium (Cd), timbal (Pb), merkuri (Hg), dan lainnya," tutur Hasudungan.
Kandungan logam berat cenderung mengendap di dalam jaringan daging ikan dan dapat berpindah ke tubuh manusia saat dikonsumsi.
"Meningkatkan risiko keracunan kronis jika dikonsumsi rutin," tambah Hasudungan.
Selain ancaman logam berat, ikan dari perairan tercemar juga berpotensi membawa mikroplastik hingga bakteri patogen.
"Yang bisa menyebabkan gangguan pencernaan atau infeksi jika tidak dimasak dengan benar," kata Hasudungan.
Berita Terkait
-
Mau Cari Inspirasi Bisnis Kuliner? Pameran Makanan dan HoReCa Bakal Hadir Akhir 2026
-
Ketika Dapur Rumahan Ingin Naik Kelas: Cerita UMKM yang Siap Bertumbuh
-
Tren Steak Premium: Eksplorasi Rasa Daging Sapi Australia di Awal Tahun
-
Dari Minuman Kekinian hingga Dessert Estetik, Ini Dia Tren Kuliner Viral 2025
-
Mewah, SPPG Nganjuk Hadirkan MBG dengan Menu Kuliner Nusantara
Terpopuler
- Promo Indomaret 12-18 Maret: Sirup Mulai Rp7 Ribuan, Biskuit Kaleng Rp15 Ribuan Jelang Lebaran
- 5 Mobil Bekas Irit Bensin Pajak Murah dengan Mesin 1000cc: Masa Pakai Lama, Harga Mulai 50 Jutaan
- 45 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 Maret 2026: Kesempatan Raih ShopeePay dan Bundel Joker
- 26 Kode Redeem FF 13 Maret 2026: Bocoran Rilis SG2 Lumut, Garena Bagi Magic Cube Gratis
- Apa Varian Tertinggi Isuzu Panther? Begini Spesifikasinya
Pilihan
-
Kabar Duka, Jurgen Habermas Filsuf Terakhir Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia
-
Korut Tembakkan 10 Rudal Tak Dikenal ke Laut Jepang, Respons Provokasi Freedom Shield
-
Amukan Si Jago Merah Hanguskan 10 Rumah dan 2 Lapak di Bintaro
-
Teror Beruntun di AS: Sinagoge Diserang, Eks Tentara Garda Nasional Tembaki Kampus
-
KPK OTT Bupati Cilacap, Masih Berlangsung!
Terkini
-
Merengek Ketakutan Putra Benjamin Netanyahu Kabur ke AS saat Israel Dihujani Rudal Iran
-
Pramono Anung Siapkan 25 Ruang Terbuka Hijau Baru di Jakarta
-
Netanyahu Disalip Babi? Merlin Babi Pintar dengan Jutaan Followers di Instagram
-
Dompet Warga AS Tercekik, Harga BBM Meroket Cepat dalam Setahun, Trump Bisa Apa?
-
Kabar Duka, Jurgen Habermas Filsuf Terakhir Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia
-
Nyoman Parta: Serangan Air Keras ke Aktivis HAM Alarm Bahaya bagi Demokrasi
-
Korut Tembakkan 10 Rudal Tak Dikenal ke Laut Jepang, Respons Provokasi Freedom Shield
-
Resmikan Taman Bendera Pusaka, Pramono Anung Janjikan RTH Jakarta Akan Bening Seperti di Korea
-
Anies Baswedan Tulis Surat Menyentuh untuk Aktivis KontraS Korban Penyiraman Air Keras
-
Jelang Idulfitri, KPK Ingatkan ASN Tolak Gratifikasi dan Dilarang Mudik Pakai Mobil Dinas