- Wacana Pilkada melalui DPRD picu perdebatan mengenai biaya politik dan kualitas demokrasi.
- Pengamat soroti mahalnya biaya Pilkada langsung serta risiko korupsi dan polarisasi.
- Efisiensi anggaran dan penguatan sistem perwakilan jadi dasar wacana Pilkada tidak langsung.
Suara.com - Wacana Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) melalui DPRD kini menjadi sorotan tajam publik. Hal ini memicu pro dan kontra terkait masa depan demokrasi di Indonesia, terutama mengenai efektivitas dan dampak sosialnya.
Pengamat politik dari Citra Institute, Yusak Farchan, menilai bahwa biaya politik dalam sistem Pilkada langsung saat ini sangatlah tinggi.
Menurutnya, besarnya ongkos politik tersebut telah menjadi persoalan serius bagi kualitas demokrasi Indonesia. Yusak menjelaskan bahwa beban finansial bagi para kandidat sudah muncul sejak tahap pencalonan.
“Perjalanan Pilkada langsung sejak 2005 hingga kini menunjukkan biaya politik yang sangat tinggi. Ada empat tahap krusial yang memaksa kandidat mengeluarkan biaya besar,” ujar Yusak di Jakarta, Minggu (15/2/2026).
Beban tersebut dimulai dari proses kandidasi di internal partai politik. Kandidat harus menyiapkan dana besar untuk mendapatkan dukungan, apalagi jika harus membangun koalisi dengan banyak partai.
“Satu partai saja standarnya bisa Rp300 juta hingga Rp500 juta. Jika banyak partai, nilainya sangat besar. Tahap berikutnya adalah kampanye; luasnya wilayah membuat kandidat sulit menjangkau konstituen secara manual, sehingga muncul praktik politik uang,” jelasnya.
Yusak menambahkan, berdasarkan survei lembaganya, masyarakat paling menyukai metode kampanye di mana kandidat 'datang langsung'. Namun, keterbatasan waktu sering kali membuat kandidat mengambil jalan pintas dengan membeli suara.
“Di beberapa daerah, satu suara bisa sangat mahal. Jika ditotal, biaya untuk menjadi wali kota atau bupati bisa mencapai puluhan miliar rupiah,” ungkapnya.
Di sisi lain, Direktur Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan, melihat wacana Pilkada tidak langsung sebagai upaya efisiensi anggaran. Menurutnya, sistem ini dapat memangkas banyak tahapan proses pemilihan sehingga lebih hemat secara finansial.
Baca Juga: Ungkap Bobroknya Pilkada Langsung, Pengamat Singgung Perbaikan Sistem Pemilu
“Jika bicara efisiensi, keunggulan Pilkada melalui DPRD adalah memotong banyak proses, terutama biaya penyelenggaraan pemilihan langsung,” ujar Iwan.
Ia menyebutkan anggaran Pilkada langsung sangat besar karena melibatkan seluruh rakyat sebagai pemilih. Berdasarkan alokasi anggaran tahun 2024, dana yang disiapkan mencapai puluhan triliun rupiah.
“Ada sekitar Rp38,2 triliun yang dianggarkan untuk Pilkada langsung,” tambahnya.
Meski demikian, Iwan mengingatkan bahwa jika Pilkada dikembalikan ke DPRD, demokrasi berpotensi mundur ke pola lama yang elitis dan rawan transaksi politik. Baginya, Pilkada langsung tetap lebih sejalan dengan semangat reformasi.
Sementara itu, Direktur Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, berpendapat bahwa demokrasi tidak bisa disempitkan maknanya hanya pada pemilihan langsung. Ia menegaskan tidak ada norma eksplisit dalam konstitusi yang mewajibkan kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat.
“Undang-undang menyebutkan pemilihan kepala daerah dilaksanakan secara demokratis. Demokratis itu tidak identik dan tidak selalu berarti pemilihan langsung,” kata Dedi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
Pilihan
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Balas Dendam Politik
-
Kompak Turun: Ini Harga BBM di Pertamina hingga Shell
-
Hakim Andi Sebut Nadiem Makarim Seharusnya Dibebaskan
-
Selain 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Wajib Bayar Uang Pengganti Rp809,59 Miliar
Terkini
-
Kronologi Terungkapnya Korupsi Penjualan BBM PT PPN, Negara Rugi Rp486 Miliar
-
Awkarin Kembalikan Uang Saku Hanania Travel, Polisi Himpun Rp110 Juta dari Para Influencer
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Tegas! Prabowo Minta Polri Menjadi Penjaga Demokrasi yang Dewasa
-
Mahasiswa Viral Masuk Toilet Cewek? Unisa Yogyakarta: Investigasi Awal Belum Temukan Faktanya
-
Viral Gunungan Sampah di Cakung Barat, Kelurahan Kerahkan Petugas dan Tutup TPS Liar
-
Habiburokhman: HUT ke-80 Harus Jadi Momentum Polri Perkuat Kepercayaan Rakyat
-
Pasar Baru Bakal Dijadikan Myeongdong Versi Jakarta
-
Gelombang Panas Eropa Makin Mematikan: Krisis Kesehatan Hingga Ancam Ketahanan Energi Nasional
-
Prabowo: Kita Butuh Kritik, Tapi Jangan Biarkan Demokrasi Dibajak Pemilik Modal!