- Menteri Kesehatan memproyeksikan defisit JKN BPJS Kesehatan mencapai Rp20–30 triliun, ditutup APBN pusat.
- Tekanan keuangan ini berpotensi menyebabkan keterlambatan pembayaran klaim kepada fasilitas kesehatan operasional.
- Penyesuaian iuran struktural didorong, berdampak utama pada kelompok masyarakat menengah ke atas melalui subsidi silang.
Suara.com - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap kondisi keuangan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS Kesehatan berpotensi mengalami defisit besar. Situasi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong penyesuaian iuran sebagai langkah menjaga keberlanjutan program.
Budi menyebut BPJS saat ini diproyeksikan menghadapi defisit hingga puluhan triliun rupiah. Kekurangan tersebut selama ini terus ditutup melalui dukungan anggaran pemerintah pusat.
“BPJS sekarang kondisinya itu akan defisit Rp20 sampai Rp30 triliun. Nah, itu sudah akan ditutup tahun ini dari anggaran pemerintah pusat sebesar Rp20 triliun. Tapi itu akan terjadi setiap tahun,” kata Budi ditemui di kantornya, Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Ia menjelaskan, tekanan keuangan yang berulang berisiko menimbulkan dampak langsung terhadap layanan kesehatan, terutama keterlambatan pembayaran klaim kepada fasilitas kesehatan.
“Itu akan terasa dengan penundaan pembayaran ke rumah sakit-rumah sakit. Jadi rumah sakit-rumah sakit alami kesulitan untuk operasionalnya,” imbuhnya.
Menurut Budi, kondisi tersebut menunjukkan perlunya perubahan yang bersifat struktural dalam sistem pembiayaan JKN, termasuk melalui penyesuaian iuran peserta.
“Itu sebabnya harus ada perubahan yang struktural. Dan teman-teman mesti tahu ya, kalau tarif dinaikkan untuk orang-orang miskin, desil 1 sampai 5, itu kan nggak ada pengaruh. Karena orang-orang miskin itu kan dibayari oleh pemerintah,” katanya.
Budi menegaskan, dampak penyesuaian iuran terutama akan dirasakan kelompok masyarakat menengah ke atas. Ia menyebut konsep asuransi sosial dalam BPJS memang menekankan prinsip subsidi silang antar peserta.
“Yang nanti akan ada pengaruh adalah orang-orang yang menengah ke atas sebenarnya. Yang konsepnya asuransi sosial BPJS memang ada orang yang kaya itu mensubsidi yang miskin, sama seperti pajak. Pajak kan orang kaya bayaran lebih, tapi dia dapat akses jalan sama dengan orang yang miskin. Jadi ada prinsip pro-subsidi seperti itu,” ujar Budi.
Baca Juga: Menkes Budi: Iuran BPJS Naik 2026 Tidak Lebih Mahal dari Beli Rokok, Warga Miskin Aman
Saat rapat dengan DPR pada Senin (17/2) lalu, Menkes Budi mengakui bahwa kebijakan tersebut memang tidak populer, namun dinilai tetap harus dilakukan.
Budi juga menyebut bahwa belanja kesehatan nasional telah melampaui pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang rata-rata hanya 5 persen dalam satu dekade terakhir.
Pada 2023, total belanja kesehatan mencapai Rp614,5 triliun, naik 8,2 persen dari Rp567,7 triliun pada 2022. Kondisi ini dianggap tidak sehat bagi keberlanjutan sistem kesehatan nasional.
Berita Terkait
-
Menkes Budi: Iuran BPJS Naik 2026 Tidak Lebih Mahal dari Beli Rokok, Warga Miskin Aman
-
BPJS Kesehatan untuk Korban Pelanggaran HAM Berat, Rieke: Jaminan Sosial Hak Konstitusi
-
Ketua IDAI Yakin Mutasi dari RSCM ke RS Fatmawati adalah Hukuman karena Kritis ke Pemerintah?
-
Cak Imin Pastikan Bantuan BPJS Tepat Sasaran, Masyarakat Miskin Tetap Bisa Berobat
-
Waspada! WNA Australia Positif Campak Usai dari Bandung, Kemenkes Perketat Surveilans
Terpopuler
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- 6 HP Snapdragon Paling Murah RAM 8 GB untuk Investasi Gadget Jangka Panjang
- Sabun Cuci Muka Apa yang Bagus untuk Atasi Kulit Kusam? Ini 5 Pilihan agar Wajah Cerah
- 5 HP Infinix Termurah dengan Fitur NFC yang Canggih, Mulai Rp1 Jutaan
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Pesan Menohok Foke soal Beasiswa LPDP: Anak Betawi Nilainya Harus 11 untuk Bisa Jadi Tuan di Jakarta
-
Ratusan Dapur MBG Di-Suspend! BGN Temukan Masalah Serius dari Menu hingga Higiene
-
Lebaran Betawi 2026 Meriah di Lapangan Banteng, Pramono: Ini Identitas Asli Jakarta
-
Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus, Komnas HAM Tunggu Izin Panglima TNI Periksa 4 Prajurit
-
Fakta Baru OTT di Tulungagung: Adik Bupati Juga Ikut Diamankan KPK
-
Proyek Dikebut! Stasiun JIS Siap Beroperasi Juni 2026, Warga Bisa Naik KRL Langsung ke Stadion
-
Terungkap! OTT KPK di Tulungagung Diduga Terkait Skema Pemerasan
-
OTT KPK Tulungagung: 13 Orang Dibawa ke Jakarta, Bupati Ikut Diperiksa
-
Bupati Tulungagung Kena OTT KPK, Uang Ratusan Juta Ikut Disita
-
Kasus Pegawai KPK Gadungan Peras Sahroni, Ketua KPK Minta Tunggu Hasil Pemeriksaan Polisi