News / Metropolitan
Rabu, 25 Februari 2026 | 20:48 WIB
Anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta dari Fraksi PSI Francine Widjojo. (Foto: Dok PSI)
Baca 10 detik
  • PSI desak Pemprov DKI benahi manajemen Transjakarta usai kecelakaan Koridor tiga belas.
  • Francine Widjojo soroti kelelahan pengemudi dan optimalisasi teknologi keselamatan Transjakarta.
  • Transjakarta diminta evaluasi sistem penugasan pramudi guna cegah kecelakaan akibat mengantuk.

Suara.com - Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Francine Widjojo, melayangkan desakan keras kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk segera membenahi manajemen Transjakarta. Langkah ini diambil menyusul insiden kecelakaan maut yang melibatkan dua bus Transjakarta di Koridor 13 awal pekan lalu.

"Kecelakaan bus Transjakarta yang terjadi belum lama ini sangat disayangkan," ujar Francine.

Peristiwa tersebut menyebabkan sedikitnya 24 penumpang mengalami luka-luka akibat benturan keras antar-armada.

Berdasarkan investigasi awal, seorang pramudi berinisial Y diduga kehilangan konsentrasi karena mengantuk. Akibatnya, bus masuk ke lajur berlawanan dan menabrak bus lain dari arah depan.

"Pramudi dilarang keras mengemudi dalam kondisi mengantuk. Transjakarta wajib memastikan seluruh pengemudinya berada dalam kondisi prima saat bertugas," tegas anggota Komisi B tersebut.

Francine mensinyalir kelelahan fisik yang dialami pengemudi sering kali disebabkan oleh jarak tempuh yang jauh antara rumah tinggal dan depot pengambilan armada.

"Banyak pengemudi tinggal jauh dari depot, sehingga mereka sudah mengalami kelelahan sebelum mulai berkendara di jalan," jelasnya.

Ia pun mengusulkan perbaikan sistem penugasan agar pengemudi dapat mengambil bus dari depot terdekat dengan lokasi tempat tinggal mereka.

"Waktu kerja, jam istirahat, serta pengaturan shift harus dievaluasi guna menjaga kondisi fisik dan mental pengendara Transjakarta," tambah Francine.

Baca Juga: Ketua DPRD DKI Soroti Pengangguran Tembus 6 Persen, Dinilai Picu Kriminalitas

Selain masalah manajemen SDM, Francine turut menyoroti efektivitas penggunaan teknologi canggih pada armada bus. Ia mempertanyakan fungsi sistem pengawas pengemudi seperti Advanced Driver Assistance System (ADAS) dan Driver Monitoring System (DMS) yang dinilainya belum bekerja optimal.

"Peralatan mahal tersebut dibeli menggunakan uang pajak rakyat dan pendapatan tarif masyarakat. Seharusnya alat ini mampu menjamin keselamatan penumpang," tekannya.

Transjakarta didesak untuk memastikan alat deteksi dini tersebut terpasang dan berfungsi baik di seluruh unit, termasuk pada angkutan Mikrotrans atau Jaklingko.

"Perlu ada pengecekan menyeluruh apakah bus Transjakarta dan Mikrotrans sudah dilengkapi ADAS/DMS yang terhubung langsung ke command center," pungkas Francine.

Load More