- Idrus Marham (Golkar/IKA UIN Alauddin) meminta pemerintah bersikap tegas menanggapi serangan AS dan Israel terhadap Iran.
- Ia menekankan pentingnya pernyataan resmi ketidaksetujuan demi konsistensi politik luar negeri bebas aktif Indonesia.
- Idrus menyarankan Indonesia tetap di forum Board of Peace untuk memengaruhi penyelesaian konflik secara diplomatik.
Suara.com - Wakil Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Ketua Umum IKA UIN Alauddin Makassar, Idrus Marham, meminta pemerintah Indonesia mengambil sikap tegas atas memanasnya konflik di Timur Tengah.
Hal ini menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Menurutnya, langkah awal yang krusial adalah penyampaian pernyataan resmi pemerintah yang menegaskan ketidaksetujuan terhadap aksi militer tersebut.
Ia menilai hal ini merupakan bentuk konsistensi Indonesia dalam memegang teguh prinsip politik luar negeri bebas aktif.
"Ini prinsip!” tegas Idrus dalam keterangannya, Selasa (3/3/2026).
Idrus berpendapat bahwa pernyataan tegas tersebut menjadi "warning" diplomatik bagi keterlibatan Indonesia dalam forum Board of Peace (BoP).
Namun, ia memiliki pandangan berbeda dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait keberadaan Indonesia di dalam forum tersebut. Jika MUI mendesak Indonesia keluar, Idrus menilai Indonesia justru harus tetap berada di dalam untuk memberikan pengaruh.
"Pernyataan tegas tidak setuju atas penyerangan tersebut penting, sebagai peneguhan prinsip politik luar negeri kita. Namun, ketidaksepakatan itu tidak serta-merta harus dimaknai dengan keluar dari forum internasional," ujar Idrus.
Idrus menambahkan bahwa strategi politik luar negeri Indonesia harus tetap berpijak pada nilai konstitusi, Pembukaan UUD 1945, serta prinsip Dasasila Bandung.
Baca Juga: 5 Fakta Hubungan Megawati dengan Ali Khamenei, Kini Kirim Surat Duka Cita
Menurutnya, keluar dari BoP bukan perkara sulit, namun tidak akan memberi dampak kondusif bagi penyelesaian konflik.
“Kalau orientasinya penyelesaian secara diplomatik, maka cara-cara militer jelas bertolak belakang. Justru karena kita ada di dalam, kita bisa menunjukkan sikap tegas, menyatakan tidak setuju berdasarkan nilai dasar Dasa sila Bandung, konstitusi, dan prinsip dasar politik luar negeri,” katanya.
Idrus memahami bahwa desakan MUI untuk keluar dari BoP lahir dari semangat moral. Namun, ia menekankan bahwa keputusan diplomatik membutuhkan "kalkulasi dingin" agar Indonesia tidak kehilangan kursi di meja perundingan.
Ia mendorong agar Indonesia tidak pasif dan justru mengambil peran sebagai mediator yang kredibel.
Lebih lanjut, Idrus mendorong agar perjuangan diplomasi ini juga diefektifkan melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan merujuk pada Pasal 2 Ayat (4) Piagam PBB yang melarang penggunaan kekuatan terhadap kedaulatan negara lain.
Secara khusus, Idrus mendorong Presiden Prabowo Subianto untuk mengambil kepeloporan sebagai pemimpin dunia Islam.
Berita Terkait
-
Amerika Serikat Siap Tempur, Israel Justru Kelelahan Dibombardir Iran
-
Banyak yang Mundur, Hamish Daud Tetap Berangkat Umrah di Tengah Konflik Timur Tengah
-
5 Fakta Hubungan Megawati dengan Ali Khamenei, Kini Kirim Surat Duka Cita
-
Konflik Timur Tengah Picu Efek Domino: Waspada Inflasi Impor hingga ke Pedagang Kecil
-
Surya Paloh: Indonesia Tetap di Board of Peace, Kecuali Ada Evaluasi Bersama
Terpopuler
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp20 Ribu Terdekat di Jakarta
- Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
- Terjaring OTT KPK, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Langsung Dibawa ke Jakarta
- Prabowo-Gibran Beri Penghormatan Terakhir di Pemakaman Try Sutrisno: Momen Khidmat di TMP Kalibata
- 8 Sepatu Lari On Cloud Diskon di Planet Sports, Hemat Jutaan Rupiah
Pilihan
-
Detik-detik Remaja di Makassar Tewas Tertembak, Perwira Polisi Jadi Tersangka
-
100 Hari Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Belum Kantongi Izin dari Dewan Kota
-
Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC
-
Dua Kapal Tanker Pertamina Masih di Selat Hormuz, Begini Nasib Awaknya
Terkini
-
OTT Bupati Pekalongan: Fadia Arafiq Diduga Atur Proyek Pemkab untuk Perusahaan Keluarga
-
Amerika Serikat Siap Tempur, Israel Justru Kelelahan Dibombardir Iran
-
Lulusan SD Bisa Jadi PPSU, Pramono Anung Pangkas Syarat Kerja Demi Tekan Jumlah Pengemis Jakarta
-
BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal dan Lebih Kering
-
KPK Ungkap Kerugian Negara Kasus Korupsi Haji yang Seret Eks Menag Yaqut Tembus Rp622 Miliar
-
Kementerian PPPA: Fenomena Baby Blues Benar Ada, Minim Dukungan Keluarga Jadi Faktor
-
Tersangka Dulu Baru Hitung Kerugian Negara? Kubu Gus Yaqut Sebut KPK Salah Prosedur
-
Polda Metro Kerahkan Tim Elite, Buru Pelaku Pembunuhan Pensiunan JICT Ermanto Usman
-
KPK Minta Hakim Tolak Praperadilan Eks Menteri Agama Yaqut Terkait Kasus Korupsi Haji
-
Ambisi Transisi Energi Bersih Indonesia, Seberapa Siapkah SDM Industri Surya?