- Meskipun AS siap mendukung perang jangka panjang, Israel menghadapi risiko kebangkrutan energi dan ekonomi akibat akumulasi konflik sebelumnya.
- Masyarakat Israel kini mulai merasakan dampak langsung perang di kota-kota besar, namun justru memicu gelombang militerisme yang lebih kuat.
- Ketidakpastian politik dan ekonomi akibat perang mulai mendorong generasi berbakat Israel untuk meninggalkan negaranya.
Suara.com - Sejumlah pimpinan di Israel dan Amerika Serikat memberikan sinyal bahwa konfrontasi militer melawan Iran kemungkinan besar akan memakan waktu hingga berminggu-minggu.
Melansir laporan Al Jazeera, AS yang kini berada di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump tampak sangat percaya diri. Mereka menegaskan bahwa durasi perang bukan masalah besar bagi Pentagon, mengingat kapasitas militer AS yang dirancang untuk pertempuran jangka panjang.
Namun, lain cerita dengan kondisi Israel. Israel tengah didera kelelahan luar biasa pasca biaya ekonomi dan militer yang membengkak akibat genosida di Gaza.
Belum lagi keterlibatan mereka dalam rangkaian serangan di Lebanon dan Suriah, serta gesekan hebat dengan Iran sebelumnya. Dalam kondisi ekonomi dan psikologis yang terkuras, perang yang berlarut-larut kali ini diprediksi akan menjadi beban yang jauh lebih mahal bagi Tel Aviv.
Sejak melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu pekan lalu, wilayah Israel justru menjadi sasaran hujan rudal dan pesawat nirawak (drone).
Dampaknya sangat terasa di dalam negeri, peringatan serangan udara meraung di berbagai titik, sekolah-sekolah lumpuh, hingga mobilisasi puluhan ribu tentara cadangan secara masif.
Kota-kota vital seperti Haifa dan Tel Aviv kini berada dalam tekanan serangan yang konsisten, membuat petugas layanan darurat bekerja ekstra keras.
Masyarakat Israel, yang selama ini jarang merasakan dampak langsung dari skala peperangan yang biasa pemerintah mereka lancarkan ke pihak lain, kini terpaksa berulang kali menyelamatkan diri ke bungker-bungker perlindungan.
Menariknya, di tengah situasi mencekam ini, dukungan terhadap perang masih tergolong tinggi. Di kota-kota besar, opini publik menunjukkan hasrat kuat untuk melawan musuh yang selama berdekade-dekade didoktrinasikan sebagai ancaman eksistensial.
Baca Juga: Donald Trump Tak Peduli Nasib Timnas Iran di Piala Dunia 2026
Seorang pakar ekonomi politik asal Israel, Shir Hever, mengamati fenomena ini sebagai pergeseran sosiologis. "Begitu perang dimulai, Israel tersapu oleh gelombang militerisme," ujarnya.
Kecenderungan pro-perang ini dinilai banyak analis sebagai bentuk radikalisasi yang semakin mengakar dalam masyarakat Israel.
Tokoh-tokoh politik sayap kanan yang dulunya dianggap marginal kini justru memegang kendali di pusat pemerintahan.
Sayangnya, kondisi ini membawa dampak sampingan yang serius. Polarisasi politik yang tajam ditambah tekanan ekonomi yang kian berat telah memicu eksodus massal kaum muda terpelajar ke luar negeri.
Sementara itu, bagi mereka yang memilih bertahan, kebencian terhadap Iran sebagai musuh utama kian mendarah daging. Perang berminggu-minggu ini dikhawatirkan akan menciptakan masyarakat yang semakin militeristik.
Akademisi dari Universitas Tel Aviv, Daniel Bar-Tal, memberikan perumpamaan sejarah yang cukup tajam. "Ini seperti peristiwa Blitz di Inggris saat Perang Dunia II," ungkapnya, merujuk pada ketahanan mental masyarakat di tengah gempuran udara yang terus-menerus demi melawan apa yang mereka anggap sebagai ancaman besar.
Berita Terkait
-
Indonesia Gabung WAICO, Pemerintah Tegaskan AI Bukan Ajang Pilih Kubu China-AS
-
38 Orang Tewas di Timur Tengah Sejak Gencatan Senjata AS - Iran, Tapi Sekarang Perang Lagi
-
Ibu Tewas dan Anak 1 Tahun Luka Parah Dibom Rudal Amerika di Tappeh Allah Akbar Iran
-
Rudal Iran Mengamuk Hancurkan Gudang Senjata dan Sistem Radar Amerika Serikat di Kuwait
-
Balasan Rudal Iran Menyasar Pusat Komando Pasukan Khusus Amerika Serikat di Suriah
Terpopuler
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- 6 Cara Membedakan Jam Tangan Seiko Asli atau Palsu, Biar Tidak Tertipu saat Beli
- 11 Pilihan HP Murah Bujet Rp1-2 Juta, Spek dan Performa Terbaik untuk Multitasking
- 4 HP dengan Baterai 8000 mAh Plus Tahan Hingga 2 Hari, RAM 8 GB Cocok Buat Ojol
- Daftar Tim Super League Paling Banyak Rekrut Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Tahan untuk Beli, Harga Emas Antam Berpotensi Naik Pekan Depan
-
Tiki-Taka vs Sihir Messi: Prediksi Pertarungan Sengit Final Spanyol vs Argentina
-
Bukan Sekadar Rapuh: Membedah Stigma "Generasi Strawberry" pada Gen Z
-
Bahlil Sebut Antrean BBM di Sumatera Bukan Stok Habis, tapi Sopir Tangki Mogok
-
Tutup Borok Korupsi dan PHK, Isu LGBTQ Diduga Cuma Strategi Pecah Fokus Kemarahan Publik
-
Ekosida Peradaban Air Sumsel, Ketika Lahan Basah Tak Lagi Menjadi Ruang Hidup
-
Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
-
Wali Kota Minta Satpol PP Pekanbaru Segera Tertibkan Warung Remang-remang
-
The Upstairs Hadirkan Musik Enerjik dan Cerita Kehidupan Urban di Soundrenaline 2026
-
Dicecar DPR Soal Pengadaan Kipas Angin Kopdes Rp1,8 T, Menkop Tidak Tahu