- Konflik Iran-Indonesia berdampak pada ketahanan energi nasional, di mana cadangan BBM yang diklaim aman diragukan validitasnya.
- Empat kapal tanker Indonesia tertahan di Teluk Persia akibat blokade Iran, menciptakan kerawanan pasokan BBM dalam negeri.
- Iran menjadikan Selat Hormuz sebagai senjata utama, menyebabkan kenaikan harga BBM non-subsidi di Indonesia.
Suara.com - Eskalasi konflik di Timur Tengah dan memburuknya hubungan diplomatik antara Republik Islam Iran dan Indonesia kini mulai membawa dampak nyata bagi ketahanan energi nasional. Klaim pemerintah bahwa cadangan Bahan Bakar Minyak (BBM) aman dinilai hanya sekadar meninabobokkan rakyat di tengah krisis yang mengintai.
Secara tegas Direktur The National Maritime Institute (Namarin), Siswanto Rusdi, menyoroti pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, yang sebelumnya menyebut Indonesia memiliki cadangan BBM untuk 21 hari ke depan.
Menurut Siswanto, angka 21 hari tersebut menyisakan celah besar yang tidak diungkap ke publik, terutama terkait status minyak yang masih dalam perjalanan dan empat kapal tanker Indonesia yang saat ini tertahan di kawasan Teluk Persia akibat blokade Iran.
“Bahlil menyebut ada 21 hari persediaan BBM kita cadangan. Tapi yang tidak diungkap oleh Bahlil adalah berapa yang sudah di Indonesia, berapa yang OTW? Itu empat kapal itu berapa totalnya? Jadi ini rawan bagi kita,” ujar Siswanto dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, Senin (9/3/2026).
Lebih lanjut, Siswanto menepis opsi alternatif pemerintah yang berencana mengalihkan impor minyak dari Singapura atau Amerika Serikat. Pasalnya, rantai pasok global tetap bermuara di kawasan konflik.
“Bahlil ada menyebut, ‘Oh, kita nanti beli Singapura.’ Singapura juga beli dari sana (Selat Hormuz), beli Amerika, Amerika kan juga beli dari sana. Aramco yang dihajar itu kan perusahaan join antara Arab Saudi dan Amerika,” jelasnya.
Kondisi kilang minyak domestik yang terbatas membuat posisi Indonesia semakin rentan. Siswanto mengungkapkan bahwa kepanikan membeli BBM (panic buying) sebenarnya sudah mulai terjadi di sejumlah daerah, meski belum merambah kawasan Jabodetabek.
Ia memperingatkan, jika krisis berlanjut dan pemerintah terpaksa menjatah distribusi BBM, ketimpangan antarwilayah akan terjadi.
“Saya sih menduga kalau tiba masanya minyak dijatah, Jawa paling banyak dapat. Sementara di luar Jawa akan menderita. Makanya mereka banyak membeli sekarang-sekarang ini di Jakarta, Bekasi, Depok belum terjadi kan,” tegasnya.
Baca Juga: Jamin Stok BBM Saat Lebaran 2026, Pertamina Kawal Ketat Produksi Gasoline dan Avtur di 6 Kilang
Siswanto juga menyayangkan sikap pemerintah yang dinilai terlalu meninabobokkan atau menenangkan masyarakat. Ia menyinggung ironi kebijakan mudik gratis yang tengah disiapkan Kementerian Perhubungan di tengah bayang-bayang krisis ekonomi.
“Mudik mungkin bisa karena gratis. Tapi di kampung mau makan apa? duit nggak ada kan?” ujarnya.
Selat Hormuz Jadi Senjata Pemungkas Iran
Krisis energi ini tidak lepas dari langkah drastis Iran yang menjadikan Selat Hormuz—jalur yang melayani sekitar 30 persen perputaran minyak dunia—sebagai senjata utama dalam perang melawan Amerika Serikat dan Israel.
“Selat Hormuz ini selatnya Iran. Jadi, Iran bisa melakukan apa saja. Dan sekarang dalam peperangan yang digencarkan oleh Iran, Selat Hormuz ini sudah menjadi senjata. Jadi perang rudal hayo, perang ekonomi juga hayo. Senjatanya apa? blokade Selat Hormuz. Nah, ini yang sedang dilakukan. Jadi, bahwa ekonomi dunia bakal berantakan,” ungkapnya.
Bagi Iran yang saat ini menerapkan strategi perang total, dampak hancurnya ekonomi global bukan lagi urusan mereka. Kekecewaan Iran atas serangan AS dan Israel yang menyasar fasilitas sipil, termasuk sekolah anak-anak, membuat Teheran membabi buta dan tidak lagi memilih target serangan.
Dampak langsungnya ke Indonesia pun kini sudah terasa. Harga BBM non-subsidi di dalam negeri dilaporkan telah merangkak naik.
Reporter: Tsabita Aulia
Berita Terkait
-
Jamin Stok BBM Saat Lebaran 2026, Pertamina Kawal Ketat Produksi Gasoline dan Avtur di 6 Kilang
-
Menguak Surat Megawati untuk Ali Khamenei di Tengah Retaknya Hubungan Batin Iran-RI
-
Harga Minyak Mulai Turun Usai Beredar Kabar G7 Lepas Cadangan 400 Juta Barel
-
Perusahaan Minyak Bahrain Umumkan Force Majeure Imbas Perang Iran
-
Buntut Tekanan AS, Iran Disebut Kecewa Berat Terhadap Indonesia Era Prabowo
Terpopuler
- Daftar Shio yang Paling Berpotensi Jadi Pengusaha Sukses
- Harga Sepatu Skechers Original, Cek 5 Pilihan Terbaik untuk Jalan dan Lari
- Kipas Angin Model AC yang Resmi dan Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasinya
- Status Gunung Api Malam Ini: Merapi, Semeru, Anak Krakatau Siaga, 3 Gunung di Maluku Waspada
- 4 Shio Beruntung 6 September 2026, Hidup akan Lebih Ringan
Pilihan
-
Amarah Warga Pati Meledak, Kiai Sekaligus Tokoh Pemerintahan Cabuli Santriwati
-
Siswa SMK di Karo Diduga Hilang Ingatan Usai Keracunan MBG, Amnesty Desak Program Disetop
-
Gunung Anak Krakatau Masih Siaga, 6 Kali Erupsi Strombolian Terekam
-
Gunung Anak Krakatau 'Muntah-muntah' Lagi Selasa Pagi Ini, 3 Kali Erupsi
-
Bandara Soetta dan Halim Mulai Dibuka untuk Penerbangan
Terkini
-
Lima Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau, PFI Kerahkan Dukungan dan Kawal Pencarian
-
4 Petugas Tumbang di Tengah Pemadaman Karhutla Muara Badak
-
Gelombang Panas dan Karhutla Ancam Upaya Dunia Perbaiki Kualitas Udara: Mengapa?
-
Kasus Korupsi Dana Iklan Bank BJB, KPK Periksa Eks Dirut Yuddy Renaldi
-
MARRIAGETOXIN Season 2 Tayang Januari 2027, Misi Pernikahan Makin Rumit
-
Arti Mimpi Jadi Pengantin Menurut Pakar Spiritual, Benarkah Tanda akan Meninggal Dunia?
-
Konsumen Kembali Optimistis pada Agustus 2026
-
Serum Vitamin C Berubah Warna, Apakah Masih Boleh Dipakai?
-
Gen Z dan Fenomena Dating Fatigue: Saat Mencari Cinta Justru Bikin Lelah
-
Negara Indonesia Disebut Bakal Jatuh Miskin Pada 2027