- Peningkatan eskalasi perang melawan Iran memicu lonjakan pembelotan dan penolakan pengerahan di tubuh militer Amerika Serikat.
- Organisasi nirlaba Center on Conscience & War mencatat banyak panggilan dari tentara AS yang menolak tugas perang ke Iran.
- Sentimen negatif tentara dipicu oleh serangan kemanusiaan di Minab dan ancaman risikonya akibat balasan presisi militer Iran.
Suara.com - Gelombang pembelotan dalam tubuh militer Amerika Serikat dilaporkan meningkat tajam, seiring dengan eskalasi perang melawan Iran.
Center on Conscience & War, organisasi nirlaba yang membantu para penentang perang (conscientious objectors), mengungkapkan bahwa saluran telepon mereka terus berdering tanpa henti karena banyaknya tentara AS yang menolak dikerahkan ke medan tempur.
Direktur Eksekutif organisasi tersebut, Mike Prysner, menyatakan melalui media sosial X bahwa terdapat penentangan keras terhadap perang Iran di kalangan prajurit aktif.
Ia bahkan membandingkan mobilisasi pasukan kali ini dengan penolakan besar-besaran saat invasi AS ke Irak pada tahun 2003 silam.
“Telepon kami terus berdering tanpa henti. Jauh lebih banyak unit yang baru saja diaktifkan untuk pengerahan ke Iran., daripada yang diketahui publik,” tulis Mike Prysner dalam keterangannya, dikutip dari Middle East Eye, Selasa (10/3/2026).
Laporan ini muncul di tengah spekulasi bahwa pemerintahan Donald Trump sedang mempertimbangkan mobilisasi pasukan yang lebih luas.
Pekan lalu, Middle East Eye melaporkan bahwa AS tengah mempertimbangkan untuk mengirim pasukan khusus ke daratan Iran.
Namun, di lapangan, tanda-tanda ketidaksiapan militer mulai terlihat, setelah Angkatan Darat membatalkan latihan tempur besar bagi prajurit dari Divisi Lintas Udara ke-82, sebuah unit elite spesialis pertempuran darat.
Isu Wajib Militer Kembali Menghantui
Baca Juga: Rudal 'Kiamat' Iran Gempur Israel, Berat Hulu Ledak 1 Ton
Kekurangan personel dan masifnya penolakan dari tentara aktif, memicu isu sensitif di publik Amerika: kembalinya wajib militer.
Dalam wawancara dengan Fox News, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt, menolak untuk mengesampingkan kemungkinan AS akan menghidupkan kembali sistem wajib militer.
Sebagai informasi, terakhir kali Amerika Serikat memaksa warganya untuk ikut berperang adalah pada Desember 1972, selama bulan-bulan terakhir Perang Vietnam yang kelam.
Jika kebijakan ini benar-benar diambil, maka eskalasi perang di Iran akan menjadi babak baru yang sangat tidak populer bagi pemerintahan Trump.
Center on Conscience & War menyebutkan, mereka dibanjiri panggilan telepon karena kekhawatiran bahwa pemerintahan Trump bersiap mengerahkan pasukan dalam jumlah masif ke Iran.
Penentangan ini disebut jauh lebih luas daripada yang diberitakan oleh media arus utama.
Berita Terkait
-
Rudal 'Kiamat' Iran Gempur Israel, Berat Hulu Ledak 1 Ton
-
The Economist Kritik Habis Trump: Perang Anda Melawan Iran Tak Akan Berhasil
-
Media Iran: Kemungkinan Benjamin Netanyahu Meninggal Dunia
-
Analis: Perang Iran Tak Kunjung Usai, Siapa yang Paling Untung?
-
Lautan Manusia Saksikan Sumpah Setia Mojtaba Khamenei Pemimpin Revolusi Islam Baru di Teheran
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Jangan Anggap Sepele Nyeri Pinggang Mendadak, Bisa Jadi Tanda Batu Saluran Kemih
-
Motul Perluas Jangkauan di Jawa Barat, Dorong Pertumbuhan Ekosistem Otomotif Nasional
-
Igor Tolic Beberkan Faktor X yang Bikin Persib Hajar Arema di Piala Presiden 2026
-
Naik Kereta untuk Liburan? Jangan Lupa Siapkan Antisipasi Jika Jadwal Berubah
-
Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK, Koalisi Sipil Desak Pengusutan Tuntas Tanpa Intervensi
-
MAXI Yamaha Day Jabar 2026 Pikat Komunitas dengan Budaya dan Alam Kuningan
-
Gap antara Kampus dan Industri Masih Lebar, Mahasiswa Bisa Rugi Kalau Tak Bersiap
-
Hanya Gara-gara Colokan Kabel, Bisnis MUA di Tuban Kebakaran Rugi Rp400 Juta
-
Tangis Ayah untuk NH, Dugaan Perundungan yang Berulang, Bocah Kelas 3 SD Meninggal
-
Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali: Abu Hitam Pekat Selimuti Langit Selat Sunda