- Operasi militer AS-Israel pada Februari 2026 gagal menjadi konflik singkat; Iran merespons dengan perlawanan berkelanjutan.
- Senator AS melihat konflik ini sebagai investasi untuk menguasai cadangan minyak global melalui jatuhnya rezim Iran.
- Perang yang berlarut-larut menyebabkan kelumpuhan Selat Hormuz dan retakan kohesi politik internal antara negara-negara sekutu Barat.
Suara.com - Apa yang awalnya dibayangkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel sebagai konflik singkat dan menentukan, kini justru berubah menjadi perang urat syaraf yang tidak menentu.
Operasi militer yang diluncurkan pada akhir Februari 2026 tersebut awalnya dirancang sebagai serangan “dekapitasi” untuk memutus rantai komando militer dan politik Iran.
Namun, alih-alih menyerah karena syok, Iran justru mengambil langkah berbahaya dengan memberikan respons yang berkelanjutan dan tersebar secara geografis, mengubah konfrontasi ini menjadi ujian ketahanan bagi sistem pertahanan udara dan kohesi politik global.
Ketika perang menjadi kontes ketahanan, pertanyaan besar yang muncul bukan lagi soal siapa yang punya amunisi paling canggih, melainkan siapa yang paling diuntungkan secara ekonomi dan geopolitik dari kekacauan ini.
Senator AS, Lindsey Graham, secara terang-terangan menyebut konflik di Timur Tengah ini sebagai sebuah investasi yang bagus bagi Washington.
Menurut Graham, jika pemerintah Iran berhasil ditumbangkan, AS akan menguasai hampir sepertiga dari cadangan minyak dunia melalui kemitraan strategis dengan Iran dan Venezuela yang totalnya mencapai 31 persen cadangan global.
Bagi Washington, penguasaan atas cadangan minyak raksasa ini adalah cara untuk menciptakan “mimpi buruk” bagi China yang sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan tersebut.
Meskipun harga minyak global melonjak melewati angka Rp 1.676.000 atau sekitar 100 dolar AS per barel, Presiden Donald Trump menganggapnya sebagai harga yang sangat kecil untuk dibayar demi memenangkan perang melawan Iran.
Graham bahkan menegaskan bahwa begitu rezim di Teheran jatuh, tidak akan ada lagi pihak yang berani mengancam Selat Hormuz, dan AS akan mendapatkan keuntungan rekor dari situasi tersebut.
Baca Juga: Lautan Manusia Saksikan Sumpah Setia Mojtaba Khamenei Pemimpin Revolusi Islam Baru di Teheran
Namun, strategi “investasi” ini tidak berjalan semulus rencana di atas kertas. Kelumpuhan di Selat Hormuz justru memukul balik ekonomi negara-negara Teluk yang selama ini menjadi mitra AS. Data pengiriman menunjukkan lalu lintas kapal tanker melambat hingga hampir lumpuh total, yang merusak citra kawasan tersebut sebagai pusat perdagangan global yang aman.
Selain itu, biaya asuransi yang melonjak dan gangguan kontrak pasokan mulai membuat narasi investasi ini goyah di mata para pemain ekonomi internasional.
Ironisnya, perang yang dibayangkan sebagai penegasan dominasi Barat ini justru berisiko mengikis otoritas tersebut. Muncul keretakan di internal kubu Barat sendiri, seperti Spanyol yang secara terbuka menolak pangkalan militer mereka digunakan untuk menyerang Iran.
Bahkan di Inggris, terjadi perdebatan sengit di dalam kabinet yang membatasi ruang gerak pemerintah untuk terlibat dalam aksi ofensif, lebih memilih fokus pada perlindungan pasukan dan pertahanan saja.
Hal ini menunjukkan bahwa semakin lama perang ini berlangsung, koalisi yang coba dibangun AS justru semakin terlihat rapuh dan tidak solid.
Di sisi lain, Iran terus menggunakan strategi untuk menguras cadangan stok dan anggaran militer AS serta sekutunya.
Berita Terkait
-
Lautan Manusia Saksikan Sumpah Setia Mojtaba Khamenei Pemimpin Revolusi Islam Baru di Teheran
-
8 Beda Syarat Jadi Wapres di Indonesia dan Iran, Berapa Usia Minimal?
-
Adu Domba AS-Israel? Iran Bantah Rudal Mereka Serang Turki, Erdogan Buka Suara
-
Trump Bilang Perang Segera Selesai, Iran: Ngaku Saja, Amunisi Kalian Sudah Mau Habis
-
Dituding Pendukung Iran, Remaja Israel Anti Perang: Kami Lebih Takut Fasis dibanding Rudal
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
Terkini
-
Cara Mudah Membuat Nama dari Your Name In Landsat NASA Secara Gratis
-
Ukraina Terancam Krisis Senjata Akibat Amerika Serikat Terlalu Fokus Urus Perang Iran
-
Amerika Serikat Kirim Kapal Induk Ketiga ke Timur Tengah, Tekan Iran Percepat Negosiasi Damai
-
Italia Ganti Patung Yesus yang Dirusak Tentara Israel di Lebanon
-
Pengadilan Kriminal Internasional Adili Rodrigo Duterte Atas Tuduhan Pembunuhan Massal di Filipina
-
Bahlil: Batas Masa Jabatan Ketum Parpol Tak Perlu Diseragamkan
-
Tanggapi Santai Usulan KPK, Bahlil: Di Golkar Jangankan 2 Periode, Satu Periode Saja Sering Ganti
-
YLBHI Desak Presiden dan Panglima TNI Hentikan Peradilan Militer yang Dinilai Tidak Adil
-
UU PPRT Disahkan, Akademisi UGM Soroti Celah Sanksi dan Kesiapan Jaminan Sosial
-
Tragedi PRT Lompat dari Lantai 4 Kos Benhil, Polisi Endus Dugaan Tindak Pidana