News / Internasional
Sabtu, 14 Maret 2026 | 02:43 WIB
Rudal Iran (Tasnimnews)
Baca 10 detik
  • Pakar nilai ancaman nuklir Israel sebagai gertakan strategis untuk menakut-nakuti Iran.
  • Penggunaan nuklir dinilai sebagai opsi terakhir Israel karena risiko kecaman dunia.
  • Serangan nuklir di Teheran diprediksi memakan satu juta korban jiwa seketika.

Suara.com - Ketegangan di Timur Tengah memasuki fase krusial menyusul informasi mengenai kesiapan Israel meluncurkan senjata nuklir ke Iran di bawah perintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Namun, menurut Pakar Keamanan Internasional dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sugeng Riyanto, langkah tersebut memiliki dua kemungkinan makna strategis dalam kacamata geopolitik.

"Pertama, hal ini bisa dimaknai sebagai 'gertak sambal' untuk menakut-nakuti agar Iran tidak meluncurkan serangan yang lebih besar lagi," ujar Sugeng kepada Suara.com, Jumat (13/3/2026).

Makna kedua, laporan tersebut dapat dipahami sebagai bentuk keseriusan Israel yang mulai terdesak setelah menerima gempuran bertubi-tubi dari Iran.

Opsi Terakhir dengan Risiko Besar

Meski demikian, Sugeng meyakini bahwa penggunaan senjata pemusnah massal tetap menjadi pilihan terakhir bagi Israel. Ia menilai penggunaan nuklir akan membawa konsekuensi fatal bagi posisi Israel di mata internasional.

"Dalam pandangan saya, opsi nuklir adalah pilihan paling akhir. Sesiaf atau senekat apa pun Israel, dunia pasti akan mengutuk keras jika mereka menggunakannya. Itu risiko yang terlalu besar," tegas Dosen Hubungan Internasional UMY tersebut.

Sugeng menjelaskan bahwa secara hukum internasional, Israel memiliki celah karena tidak terikat pada Non-Proliferation Treaty (NPT) maupun Treaty on the Prohibition of Nuclear Weapons (TPNW). Meski menjalankan strategi ambiguitas nuklir dengan tidak pernah mendeklarasikan kepemilikannya secara resmi, banyak lembaga internasional meyakini Israel memiliki sekitar 80 hulu ledak nuklir yang siap digunakan dalam kondisi darurat.

Kekuatan Konvensional dan Sikap Kekuatan Global

Lebih lanjut, Sugeng menilai para aktor utama seperti Amerika Serikat, Israel, dan Iran saat ini masih cenderung mengandalkan kekuatan militer konvensional. Terkait potensi keterlibatan kekuatan besar lain seperti Rusia, Tiongkok, atau Korea Utara, Sugeng melihat mereka masih dalam posisi memantau situasi.

Baca Juga: Pecah Kongsi! AS Beri Waktu Seminggu ke Israel Selesaikan Perang Lawan Iran

"Dalam beberapa hari ke depan, mereka mungkin belum merasa perlu untuk terlibat langsung. Tiongkok cenderung pragmatis, sementara Rusia masih terfokus pada konflik di Ukraina. Keterlibatan negara-negara lain diperkirakan masih akan minim," jelas Sugeng.

Dampak Kemanusiaan yang Mengerikan

Sugeng memperingatkan bahwa jika skenario terburuk berupa perang nuklir terjadi, dunia akan mengalami guncangan hebat. Mengacu pada tragedi Hiroshima dan Nagasaki, satu hulu ledak nuklir modern dengan daya ledak 20 kiloton yang jatuh di pusat kota seperti Teheran dapat memakan korban jiwa dalam jumlah masif.

"Jika satu hulu ledak 20 kiloton diluncurkan dari Tel Aviv dan jatuh di Teheran tanpa mampu ditangkal, diperkirakan hampir satu juta orang bisa terbunuh dalam sekali serangan," ungkapnya.

Di sisi lain, kekuatan nuklir Iran sendiri masih menjadi tanda tanya. Meski memiliki banyak reaktor nuklir, seperti di Isfahan, belum ada bukti sahih bahwa Iran telah berhasil mengonversinya menjadi hulu ledak nuklir yang siap tempur.

"Reaktor nuklir yang banyak belum tentu bisa dikonversikan menjadi senjata nuklir," pungkas Sugeng.

Load More