- Rencana Indonesia mengakuisisi rudal supersonik BrahMos senilai Rp5,9 triliun memunculkan kekhawatiran potensi sanksi Amerika Serikat melalui CAATSA karena keterlibatan Rusia dalam perusahaan pembuatnya.
- Pakar Keamanan Internasional UMY, Sugeng Riyanto, menilai Indonesia memiliki kedaulatan penuh dalam menentukan kebijakan pertahanan dan memilih alutsista dari negara mana pun.
- Ia juga menilai ancaman sanksi dari AS tidak perlu dikhawatirkan berlebihan karena pasar transfer senjata global kini semakin terbuka dan hubungan diplomatik kedua negara masih terjaga baik.
Suara.com - Langkah Pemerintah Indonesia mengakuisisi rudal supersonik BrahMos senilai Rp5,9 triliun memicu kekhawatiran akan munculnya sanksi dari Amerika Serikat melalui instrumen Countering America's Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA).
Kekhawatiran itu muncul mengingat Rusia memegang 49,5 persen saham di perusahaan pengembang rudal tersebut, BrahMos Aerospace.
Menanggapi kemungkinan tersebut, Pakar Keamanan Internasional dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sugeng Riyanto, menilai bahwa Indonesia memiliki kedaulatan penuh dalam menentukan arah kebijakan pertahanan, termasuk dalam memilih dan membeli alat utama sistem persenjataan (alutsista).
Ia menilai pembelian alutsista dari berbagai negara merupakan hal yang wajar. Selama ini Indonesia juga menjalin kerja sama pertahanan dengan sejumlah negara, mulai dari Amerika Serikat, Rusia, Prancis hingga Turki.
"Ya, sekarang itu kan transfer senjata sangat terbuka. Indonesia saya rasa punya kemerdekaan untuk memilih dari mana yang dia mau," kata Sugeng kepada Suara.com, Jumat (13/3/2026).
Dosen Hubungan Internasional (HI) UMY tersebut menjelaskan bahwa pilihan Indonesia melirik peluru kendali supersonik merupakan langkah yang logis di era modern.
Menurut Sugeng, dominasi teknologi peluru kendali pada abad ke-21 menjadi salah satu kunci dalam strategi pertahanan. Sistem senjata tersebut dinilai mampu menjangkau sasaran jarak jauh dengan risiko minimal bagi personel militer.
"Salah satu model senjata terbaik pada abad ke-20 dan abad ke-21 ini masih didominasi oleh senjata dengan model peluru kendali, karena kita bisa menjangkau jarak yang sangat jauh tanpa ada korban dari pihak penyerangnya," ungkapnya.
Lebih lanjut, Sugeng menilai ancaman sanksi dari Amerika Serikat kemungkinan besar tidak akan berdampak ekstrem terhadap Indonesia.
Baca Juga: Selisih Harganya Fantastis! Drone Shahed Iran Rp320 Juta vs Robot Anjing Polri Rp3 Miliar
Hal ini mengingat pasar transfer senjata global saat ini bersifat sangat terbuka dan independen, kecuali jika terdapat perjanjian bilateral tertentu yang sangat mengikat antarnegara.
"Saya rasa Amerika juga akan berpikir jika ingin memberikan sanksi macam-macam. Sekali lagi, sekarang transfer senjata itu sangat bebas, sangat independen, dan sangat terbuka," ucapnya.
Terkait kekhawatiran bahwa Indonesia bisa mengalami tekanan politik berat atau bahkan "di-Venezuela-kan" oleh Amerika Serikat akibat pilihan alutsista yang tidak sejalan dengan kepentingan Washington, Sugeng menilai spekulasi tersebut terlalu berlebihan.
Ia menilai hubungan diplomatik antara pimpinan kedua negara saat ini masih berada dalam kondisi yang baik.
"Terlalu jauh kalau Amerika akan me-Maduro-kan Indonesia atau me-Maduro-kan Prabowo. Itu terlalu jauh," tegasnya.
Sugeng menambahkan, tidak ada alasan fundamental bagi Amerika Serikat untuk mengambil langkah represif terhadap kepemimpinan di Indonesia.
Ia merujuk pada pertemuan yang berlangsung baik antara Presiden Indonesia dengan Donald Trump belum lama ini sebagai indikator bahwa hubungan bilateral kedua negara tetap stabil, meskipun Indonesia melakukan diversifikasi sumber alutsista.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
Pilihan
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
Terkini
-
Peneliti UGM Tamatkan Misteri Rumah Api di Sleman: Bukan Dipicu Gas Alam atau Medan Elektromagnetik
-
BGN Tegaskan Tuduhan Pembagian Dana MBG kepada Presiden adalah Hoaks
-
Saran Connie Bakrie ke Prabowo: Suruh Teddy Libur Dulu, Saatnya Dengar Orang-orang Berpengalaman
-
Peringatan Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II
-
DPR Khawatir Stok Pertalite Jebol Akibat Migrasi Pengguna Pertamax
-
Connie Bakrie Sebut IKN Sekarang Kalah Tenar Sama Program MBG Rp1 Triliun Per Hari
-
Tunjangan Guru Naik, Komisi X DPR Beri Jempol Tapi Kasih Catatan Penting Ini
-
Gak Pakai Ribet! Di Jakarta Fair 2026 Bisa Belanja Sambil Bayar Pajak Kendaraan
-
Viral TNI Ikut Hadang Massa Mahasiswa saat Demo di Bundaran HI, Kapuspen: Atas Permintaan Polri
-
Bukan untuk Perang, Kenapa Komcad-TNI Dikerahkan Saat Demo Mahasiswa? Ini Kritik Tajam Koalisi Sipil