- GMNI merespons serangan air keras pada Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, pada Jumat dini hari (13/3/2026).
- GMNI menilai serangan tersebut adalah upaya pembungkaman suara kritis pembela HAM dari otoritarianisme penguasa.
- GMNI menuntut Presiden Prabowo dan Kapolri mengusut tuntas dalang intelektual serta menjamin keselamatan warga sipil.
Suara.com - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) merespons soal penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, oleh orang tidak dikenal, Jumat (13/3/2026) dini hari.
Ketua DPD GMNI DKI Jakarta, Deodatus Sunda mengatakan, hal ini sebagai upaya pembungkaman suara kritis.
“Berdasarkan catatan kami, serangan ini adalah puncak dari rangkaian intimidasi panjang yang dialami Andrie Yunus akibat konsistensinya melawan arus otoritarianisme,” katanya, dalam keterangan tertulis, Jumat.
Sesaat sebelum peristiwa penyiraman, Yusri bahkan sedang membedah isu demiliterisasi di YLBHI.
“Kami melihat bahwa penyiraman air keras ini adalah bentuk dominasi tanpa Konsensus,” ujarnya.
Kekuasaan saat ini, kata Deodatus, sedang menggunakan perangkat kekerasan ketika instrumen ideologisnya mulai kehilangan legitimasi.
Andrie Yunus diserang karena ia konsisten meruntuhkan hegemoni penguasa yang mencoba mengembalikan dwifungsi dan militerisme ke ruang sipil.
Dalam kacamata Marhaenisme, lanjut Deodatus, Andrie Yunus adalah pembela hak-hak rakyat kecil yang tertindas oleh kebijakan struktural.
Secara konstitusional, negara telah gagal menjalankan mandat Pasal 28I Ayat (4) UUD 1945.
Baca Juga: Perjuangan HAM Tak Berhenti Usai Penyerangan Andrie Yunus, KontraS: We keep moving forward, Tatakae!
“Jika pembela HAM bisa diserang secara brutal di ibu kota negara, ini menunjukkan rapuhnya perlindungan negara terhadap warga yang memperjuangkan keadilan,” jelasnya.
DPD GMNI Jakarta mendesak agar Prabowo Subianto selaku kepala negara harus turun tangan secara langsung.
“Presiden tidak boleh diam! Kami menuntut Presiden untuk memastikan kebebasan sipil tidak mati di tangan premanisme politik,” katanya.
“Kebebasan berpendapat adalah napas demokrasi, dan Presiden bertanggung jawab atas setiap tetes darah pejuang HAM di negeri ini,” imbuhnya.
GMNI juga mendesak agar Kapolri mengusut peristiwa ini. Aparat harus membongkar dalang intelektual dalam perkara ibu jangan hanya menangkap eksekutor lapangan.
“Kami mendesak Kepolisian Republik Indonesia untuk tidak hanya menangkap eksekutor lapangan, tetapi membongkar dalang intelektual di balik teror ini. Jika tidak ada progres nyata, kami patut menduga adanya pembiaran sistematis oleh aparat,” jelasnya.
Negara harus menjamin keselamatan masyarakat sipil, termasuk Andrie Yunus. Deodatus juga menolak tegas segala bentuk upaya menghidupkan kembali praktik otoritarianisme melalui UU TNI yang inkonstitusional.
“Kami tidak akan membiarkan benih-benih fasisme tumbuh subur. Teror terhadap satu aktivis adalah teror terhadap seluruh gerakan rakyat,” pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
Pilihan
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
Terkini
-
Hari Pertama BTN JAKIM 2026 Meriah, Ribuan Pelari Padati Kawasan GBK
-
Di Balik Narasi 'BBM Non-Subsidi': Mengapa Rakyat Kecil Tetap Tercekik Kenaikan Harga Pertamax?
-
Sidang Blueray Cargo, Jaksa KPK Ungkap Dugaan Aliran Rp21 Miliar ke Djaka Budi Utama
-
Imbau Daerah Gelar Nobar Piala Dunia 2026, Mendagri Optimistis Bakal Gerakkan Perekonomian
-
'Tak Ada Penangkapan!' Kapolres Jaksel Bantah Tudingan Represif di Aksi Mahasiswa GMNI Pancoran
-
Gangguan Akses CCTV Publik Saat Aksi Unjuk Rasa di Sudirman Bukan dari Sistem Pemprov DKI
-
Massa di Sudirman Bubar: Mahasiswa Mundur Pertama, Disusul Kelompok 'Baju Hitam'
-
Mahasiswa Sudah Pergi, Siapa Massa Berbaju Hitam yang Masih Bertahan di Sudirman?
-
Mendagri Tito Dorong DKPP Tingkatkan Integritas Penyelenggara Pemilu
-
KPK Selidiki Dugaan Perintangan Penyidikan Kasus Bea Cukai, Pendiri IAW Diperiksa