Suara.com - Terik mentari di siang hari itu menjadi saksi bisu kisah sebuah keluarga yang tengah melangitkan harapan pada buah hatinya yang sedang menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat. Di rumah ketiga dari jembatan kecil di pinggir Sungai Barito Desa Bahalayung, Kecamatan Bakumpai, Kab. Barito Kuala, Kalimantan Selatan, tersimpan senarai mimpi yang dulu layu kini tumbuh kembali sejak hadirnya Program Sekolah Rakyat (SR).
"Setelah menerima bantuan ini (bantuan kewirausahaan orang tua SR), serasa hidup kembali, ibarat pohon yang telah lama layu disiram jadi mekar kembali," ucap Megawati saat menerima bantuan kewirausahaan warung kelontong dan ternak ayam dari Sentra Budi Luhur Banjarbaru, Senin (09/03/2026).
Megawati (43) merupakan ibu dari siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 20 Banjarbaru yang bernama Kholemy Almu Dhatser (15). Sedangkan sang ayah bernama Abdullah (50). Kedua sosok inilah yang memiliki peran besar dalam mendorong Kholemy untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat.
"Selalu berdoa ke Allah, saya rela berkorban apa saja asal anak nasibnya tidak seperti saya," lirih Megawati seraya menyeka air mata yang jatuh, bentuk ketegarannya selama ini.
Di rumah sederhana bercat hijau itu, Megawati, Abdullah, dan 9 anaknya tinggal bersama. Tak sedikit kisah pilu yang selama ini dilalui oleh Megawati dan keluarganya. Salah satunya kisah di bulan Ramadan tahun ini.
Mungkin bagi sebagian besar orang, menahan lapar di Bulan Ramadan merupakan suatu pelajaran tentang kesabaran dalam beribadah. Namun bagi Megawati, menahan lapar bukanlah sebuah pelajaran belaka, melainkan keseharian yang tak bisa Ia hindari.
"Ketika sahur kemarin, kami sekeluarga hanya makan nasi ditemani dengan lauk garam. Anak-anak tetap berpuasa meskipun siangnya anak kecil kami yang kembar sudah tidak kuat lagi dan terpaksa berbuka dengan hanya minum air putih karena tidak ada makanan di rumah," ucap Megawati sambil terisak menahan tangis.
Penghasilan Abdullah sebagai kepala keluarga sebesar Rp80 ribu per hari tak cukup untuk menafkahi sepuluh orang yang menjadi tanggungannya di rumah. Pekerjaannya sebagai pencari ikan di pematang sawah memang sangat mengandalkan musim dan kondisi alam. Uang yang diperoleh dari menjual hasil tangkapan ikan digunakan Abdulloh untuk membeli beras. Sebagian hasil tangkapan ikan yang tersisa dijadikan lauk makan di rumah yang dibagi untuk 11 orang.
"Beras seliter dibagi 11 orang, tapi tidak ada lauknya hanya ada garam. Saya bilang ke anak, sabar ya tunggu ayah pulang dari merengge (mencari ikan)," ujar Megawati.
Baca Juga: Kemensos Jajaki Kerja Sama Kirim Lulusan Sekolah Rakyat Bekerja di Jepang
Megawati berusaha membantu perekonomian keluarga dengan menjadi buruh harian lepas sebagai pembersih lahan sawah milik orang dengan upah Rp50 ribu sehari. Itu pun tidak setiap saat karena mengikuti musim tanam dan musim panen.
Megawati juga mengatakan pernah selama 3 hari listrik mati di rumahnya. Bukan karena ada pemadaman serentak atau gangguan kelistrikan, tetapi karena tidak ada uang untuk membeli listrik.
"Pernah 3 hari kami di sini gelap (listrik mati) karena tidak bisa membeli pulsa listrik," ujarnya.
Megawati melanjutkan, dirinya juga terpaksa harus berjalan kaki sejauh 1 kilometer hanya untuk membeli barang persediaan dagangan di agen terdekat. Hal itu dilakukannya karena tidak memiliki motor, bahkan tidak ada sepeda yang dimiliki oleh keluarga tersebut.
"Saat saya jalan kaki membawa stok dagangan, ada orang yang bilang 'ga capek kah membawa' dan saya pun bilang mau kaya gimana lagi ga ada motornya," sambungnya.
Kini, Megawati memiliki harapan baru. Kementerian Sosial melalui salah satu UPT (Unit Pelaksana Teknis) yaitu Sentra Budi Luhur Banjarbaru menyerahkan bantuan usaha kelontong untuk mendukung kemandirian usaha. Toko kelontong sederhana itu membantu Megawati dalam menjaga dapurnya agar tetap menyala.
Berita Terkait
-
Kemensos Jajaki Kerja Sama Kirim Lulusan Sekolah Rakyat Bekerja di Jepang
-
Sinergi Kemensos dan PB Inkanas Perkuat Karakter Siswa Sekolah Rakyat
-
Cara Cek Bansos Kemensos Mei 2026 Pakai HP, Sudah Cair Belum?
-
Kemensos Sisir Anak Jalanan untuk Calon Siswa Sekolah Rakyat
-
Gus Ipul Ingatkan ASN Kemensos Tetap Absen dan Lapor Kinerja Selama WFH: Ada Sanksi jika Melanggar!
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Local Media Community Gandeng Google Dukung Penguatan Ekosistem Media Lokal
-
Tegas! Menkeu Purbaya Ungkap Tak Ada Kenaikan Gaji Guru di 2027
-
Renjana Perca, Saat Fashion Indonesia Bertemu Ekonomi Sirkular
-
Modal Foto AI Berseragam Polisi, Pria di Bandung Tipu Korban dan Bawa Lari Uang
-
Insentif Guru Ngaji di Bogor Jadi Rp1,2 Juta per Tahun
-
Jaga Gajah Sumatera, Pertamina Kilang Plaju Perkuat Upaya Melestarikan Warisan Alam Sumsel
-
Temukan 1.500 Warga Terjebak Grup LGBT Daring, Pemkab Serang Siapkan Langkah Pembinaan
-
Bank Sumsel Babel dan Unsri Bersinergi Menyiapkan Generasi Pemimpin Masa Depan
-
Havaianas Debut Kitten Heel di Copenhagen Fashion Week
-
Perombakan Buku Sekolah, Solusi Literasi atau Cuma Proyek Bisnis Baru?