- Kemensos menjaring 77 anak kurang mampu di Penjompongan untuk direkrut menjadi siswa Sekolah Rakyat tahun ajaran 2026/2027.
- Petugas mengidentifikasi 29 anak jalanan yang tidak bersekolah melalui penjangkauan aktif di berbagai ruang publik Jakarta Pusat.
- Kemensos melakukan verifikasi data DTSEN serta dialog dengan orang tua guna memastikan kriteria calon siswa terpenuhi.
Suara.com - Kementerian Sosial (Kemensos) mulai melakukan penyisiran anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk direkrut menjadi siswa Sekolah Rakyat tahun ajaran baru 2026/2027. Khusus daerah Penjompongan, Jakarta Pusat, Kemensos menjaring 77 anak di kawasan tersebut.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 29 anak teridentifikasi berasal dari jalanan dengan kondisi tidak bersekolah, bahkan bekerja informal.
"Dari 77 tadi yang kita undang, 29 di antaranya kita temukan di jalan. Mereka sedang mengamen, mereka sedang membantu orang tuanya bekerja, dan sebagian lagi ada yang melakukan kegiatan-kegiatan yang katakanlah bagian dari bekerja, baik itu membantu orang tuanya mau untuk kepentingan dirinya sendiri," kata Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) usai meninjau Sekolah Rakyat rintisan di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lembaga Negara Administrasi Negara (STIA LAN), Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Setelah teridentifikasi, Gus Ipul mengatakan anak-anak tersebut tidak serta-merta langsung direkrut, melainkan diajak berdialog hingga dilakukan penelusuran ke rumah masing-masing untuk memastikan kondisi riil di lapangan.
Tujuannya untuk memastikan bahwa mereka benar terdaftar sebagai kelompok desil 1 dan 2 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
"Mereka-mereka inilah kemudian kita ajak dialog kemudian kita datangi rumahnya dan temuin orangnya kita lihat memenuhi kriteria langsung kita lakukan pemutakhiran di DTSEN untuk bisa dilakukan verifikasi dan validasi," tuturnya.
Ia menjelaskan, proses penjaringan calon siswa Sekolah Rakyat dilakukan melalui dua jalur utama. Pertama, melalui data yang sudah tercatat dalam DTSEN, yang kemudian diverifikasi langsung dengan mendatangi rumah calon siswa untuk mencocokkan kondisi faktual.
Setelah itu, Kemensos juga melakukan pendekatan kepada orang tua guna memastikan persetujuan sebelum anak ditetapkan sebagai calon siswa.
"Kalau orang tuanya setuju tentu akan kita tindaklanjuti untuk menjadi calon siswa sekolah rakyat," imbuhnya.
Baca Juga: Seskab Teddy: Cuma 5 Km dari Kantor Saya Ternyata Banyak Anak-anak Tidak Pernah Sekolah
Sementara itu, jalur kedua dilakukan melalui penjangkauan aktif di lapangan. Kemensos menyasar titik-titik yang kerap menjadi lokasi anak-anak usia sekolah beraktivitas di luar kegiatan belajar, seperti perempatan jalan, pasar, hingga ruang publik lainnya.
Dari lokasi tersebut, petugas mengidentifikasi anak-anak yang tidak mengikuti proses pendidikan formal untuk kemudian didekati dan diarahkan masuk ke program Sekolah Rakyat.
"Seperti di perempatan-perempatan atau di pasar-pasar atau di tempat tertentu yang kita mencoba menemukan anak-anak yang usia sekolah tapi dia tidak mengikuti proses belajar-mengajar," ujar Gus Ipul.
Berita Terkait
-
Seskab Teddy: Cuma 5 Km dari Kantor Saya Ternyata Banyak Anak-anak Tidak Pernah Sekolah
-
Menteri Dody: Yakin Proyek Sekolah Rakyat akan Siap untuk Tahun Ajaran Baru 2026
-
Mensos Gus Ipul Dorong Percepatan Pembangunan Sekolah Rakyat di Gorontalo dan Pagar Alam
-
Tinjau Sekolah Rakyat Sigi, Gus Ipul Pastikan Laptop Dimanfaatkan untuk Kegiatan Belajar
-
Gus Ipul Apresiasi Komitmen Pemprov Sulteng dalam Pengembangan Sekolah Rakyat
Terpopuler
- 7 SD Swasta Terbaik di Palembang dan Estimasi Biayanya, Panduan Lengkap Orang Tua 2026
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- Aksi Kritik Gubernur Rudy Mas'ud 21 April, Massa Diminta Tak Tutup Jalan Umum
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
Pilihan
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
-
Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu
Terkini
-
Pastikan Garis Perjuangan Tak Menyimpang, YLBHI Diminta Transparan dan Akuntabel
-
Kolaborasi Antarlembaga, Kunci untuk Menjawab Kebutuhan Peserta
-
Janji Prabowo Perbanyak Konser K-Pop di Indonesia Usai Temui Carmen H2H di Seoul
-
Misteri Absennya Tim Hukum Nadiem Makarim, Sidang Korupsi Chromebook Sengaja Diulur?
-
Dasco: Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun Ini Banyak Terobosan, Jemaah Nyaman
-
Seskab Teddy: Cuma 5 Km dari Kantor Saya Ternyata Banyak Anak-anak Tidak Pernah Sekolah
-
6 Minggu 'Menghilang', Kemana Mojtaba Khamenei?
-
Bidik Status Sister City, Jakarta Bakal Contek Kecanggihan Teknologi Shenzhen
-
Dua Kapal Tanker Pertamina Masih di Selat Hormuz, Apa Hambatan dalam Proses Negosiasi?
-
IRGC Tangkap 2 Kapal di Sekitar Perairan Iran, Alasannya Bikin Kaget