- Pengamat Pitan Daslani menilai AS kewalahan menghadapi Iran karena perbedaan karakter bangsa serta biaya perang mahal versus senjata murah Iran.
- Iran kuat karena kemandirian teknologi dan sumber daya manusia ahli nuklir asli Persia, tidak mengandalkan tenaga ahli dari luar negeri.
- Pitan menyindir Indonesia yang fokus pada fisik dan hedonisme, sementara melupakan pembangunan karakter bangsa yang dimiliki Iran.
Suara.com - Pengamat hubungan internasional senior, Pitan Daslani, membeberkan alasan mengapa Amerika Serikat (AS) dan Israel tampak kewalahan menghadapi Iran dalam konflik bersenjata yang kini tengah memanas. Menurutnya, kekuatan Iran bukan sekadar pada rudal, melainkan pada karakter bangsa yang belum dimiliki sepenuhnya oleh Indonesia.
Dalam kanal YouTube Abraham Samad Speak Up, Pitan menyebut Iran sebagai bangsa yang memiliki “martabat” (dignity) luar biasa meski telah ditekan sanksi internasional sejak 1979.
Senjata Murah Iran vs Patriot AS yang Mahal
Pitan mengungkapkan betapa tidak proporsionalnya ongkos perang bagi Amerika. Ia membocorkan estimasi Pentagon bahwa perang selama 18 bulan bisa membangkrutkan AS dengan biaya mencapai 3 triliun dolar.
“Repotnya Amerika itu adalah apa? Untuk meluncurkan satu rudal anti-rudal Patriot misalnya, itu satu peluru harganya 4 miliar dolar. Sedangkan Iran punya drone itu hanya 20.000 dolar. Secara kalkulasi ekonomi rugi ini,” ujar Pitan kepada mantan Ketua KPK, Abraham Samad, dikutip Rabu (18/3/2026).
Rahasia SDM: Ahli Nuklir Asli Persia
Satu hal yang membuat Pitan kagum adalah kemandirian teknologi Iran. Berbeda dengan banyak negara yang mengandalkan tenaga ahli asing, Iran sepenuhnya menggunakan sumber daya manusia dari dalam negeri.
“Semua ilmuwan nuklir Iran asli, bukan orang luar. Kenapa itu bisa terjadi? Karena dia benar-benar ingin mengembangkan potensi SDM sendiri, tidak outsource, tidak mengembangkan dari luar,” tegasnya.
Sentil Karakter Bangsa Indonesia
Baca Juga: PMI Siap Kirim Bantuan Medis ke Iran, Jusuf Kalla: Kami Pertimbangkan Beli Obat di Pakistan
Pitan kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan Indonesia. Ia menyoroti fenomena “pamer hedonisme” dan rendahnya rasa bangga terhadap produk dalam negeri, termasuk di kalangan pejabat.
Ia juga menyinggung bagaimana para ahli terbaik Indonesia, seperti mantan tim teknis BJ Habibie, justru lebih dihargai di luar negeri—misalnya di industri pesawat seperti Embraer di Brasil—dibandingkan di dalam negeri.
“Kita sibuk membangun fisik, tapi lupa membangun karakter bangsa. Bangun jiwa dulu, baru bangun badan. Selama ini kita terbalik, badan dulu dibangun, fisik sampai pamer hedonisme macam-macam, tapi jiwanya ambruk, karakternya ambruk,” sindir Pitan.
Ia bahkan melontarkan pertanyaan reflektif terkait konsistensi rasa cinta tanah air, baik di kalangan generasi muda maupun pejabat.
“Coba lihat generasi sekarang, lebih instan dan kebarat-baratan. Apakah dia bangga jadi orang Indonesia? Kita harus tanya itu. Jangankan generasi, apakah para pejabat kita benar-benar bangga jadi Indonesia?” ucapnya.
Menurut Pitan, hal ini berbeda dengan Iran yang dinilai memiliki kebanggaan tinggi terhadap identitas nasional. Rasa bangga terhadap produk dalam negeri menjadi fondasi kuat ketahanan negara di tengah tekanan global.
Berita Terkait
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
realme C100 Series Bawa Baterai Monster 8000mAh dan AI Gemini, Siap Cetak 'Champion' Masa Depan!
-
Tantangan Adopsi Toyota Hilux Listrik Bagi Pengusaha Akibat Selisih Harga
-
Viral Isu Bank Asing Tarik Dana Rp11,5 Triliun dari Indonesia, Ini Faktanya
-
Dua Aksi Demo Digelar di Jakarta Pusat Hari Ini, 415 Personel Gabungan Disiagakan
-
BUMN Kini Tak Boleh Bisnis Semaunya Sendiri, Harus Satu Arah yang Sama
-
Possession Semu Berujung Petaka, John Herdman Evaluasi Total Pertahanan Timnas Indonesia
-
Haier H100M96GUX Dobrak Pasar High-End: QD-MiniLED, Audio KEF, dan Refresh Rate 240Hz!
-
Skema Potong Komisi Langsung Dinilai Bikin Pendapatan Ojol Lebih Transparan
-
8 Ciri-ciri Rumah yang Membawa Hoki dan Rezeki Menurut Feng Shui
-
3 Gol, 3 Poin, dan 1 Baju Dibuang: Cerita Unik Kemenangan Vietnam atas Indonesia