News / Internasional
Rabu, 18 Maret 2026 | 15:55 WIB
Ilustrasi serangan drone milik Iran yang menghantam Dubai, UEDA memicu kepanikan di kota yang selama ini dikenal sebagai surga bebas pajak. [Tangkap layar X]
Baca 10 detik
  • Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke negara Teluk Arab selama hampir tiga minggu sejak konflik dengan AS-Israel dimulai.
  • Qatar, Kuwait, UEA, dan Arab Saudi berhasil mencegat sebagian besar serangan rudal dan drone yang diluncurkan Iran.
  • Konflik ini berdampak signifikan, menurunkan produksi minyak harian Teluk dari 21 juta menjadi 14 juta barel per hari.

Suara.com - Serangan Iran dengan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk Arab terus berlanjut hampir tiga minggu sejak konflik AS-Israel terhadap Iran dimulai.

Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA), dan Arab Saudi melaporkan beberapa serangan berhasil dihalau oleh sistem pertahanan udara masing-masing.

“Pasukan bersenjata Qatar berhasil mencegat serangan rudal terhadap negara kami,” kata Kementerian Pertahanan Qatar, Selasa (18/3/2026).

Sementara itu, Garda Nasional Kuwait menembak jatuh pesawat tak berawak pada fajar hari yang sama.

UEA, Saudi, dan Bahrain juga melaporkan intersepsi rudal dan drone dalam beberapa jam terakhir.

Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan berhasil menghancurkan sebuah drone di Wilayah Timur, sementara UEA mengonfirmasi sedang merespons ancaman rudal dan drone dari Iran.

Laporan dari Dubai menyebut, “UEA menjadi yang paling terdampak dari balasan Iran. Lebih dari 3.000 proyektil rudal dan drone, diluncurkan ke negara-negara GCC, lebih dari separuhnya menargetkan UEA,” ujar wartawan Al Jazeera, Zein Basravi.

“Ledakan di malam hari terdengar di berbagai kota, efek pertahanan udara semakin terlihat di langit Teluk.”

Perang ini tak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga berdampak serius pada ekonomi kawasan.

Baca Juga: Pengamat Timur Tengah: Wafatnya Para Petinggi Iran Bisa Jadi Neraka Dunia Buat AS-Israel

Produksi minyak harian negara-negara Teluk menurun dari 21 juta barel menjadi 14 juta barel, terutama akibat penutupan Selat Hormuz, menurut Rystad Energy.

Sektor pariwisata dan transportasi juga mengalami gangguan signifikan.

Sejak 28 Februari, Iran menegaskan serangannya menargetkan pangkalan militer yang digunakan AS, namun negara-negara Teluk membantah klaim tersebut dan menegaskan serangan itu tidak sah.

Efek ekonomi dari konflik ini disebut sebagai yang paling parah sejak Perang Teluk 1990–1991.

Kontributor: M.Faqih

Load More