- Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke negara Teluk Arab selama hampir tiga minggu sejak konflik dengan AS-Israel dimulai.
- Qatar, Kuwait, UEA, dan Arab Saudi berhasil mencegat sebagian besar serangan rudal dan drone yang diluncurkan Iran.
- Konflik ini berdampak signifikan, menurunkan produksi minyak harian Teluk dari 21 juta menjadi 14 juta barel per hari.
Suara.com - Serangan Iran dengan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk Arab terus berlanjut hampir tiga minggu sejak konflik AS-Israel terhadap Iran dimulai.
Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA), dan Arab Saudi melaporkan beberapa serangan berhasil dihalau oleh sistem pertahanan udara masing-masing.
“Pasukan bersenjata Qatar berhasil mencegat serangan rudal terhadap negara kami,” kata Kementerian Pertahanan Qatar, Selasa (18/3/2026).
Sementara itu, Garda Nasional Kuwait menembak jatuh pesawat tak berawak pada fajar hari yang sama.
UEA, Saudi, dan Bahrain juga melaporkan intersepsi rudal dan drone dalam beberapa jam terakhir.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan berhasil menghancurkan sebuah drone di Wilayah Timur, sementara UEA mengonfirmasi sedang merespons ancaman rudal dan drone dari Iran.
Laporan dari Dubai menyebut, “UEA menjadi yang paling terdampak dari balasan Iran. Lebih dari 3.000 proyektil rudal dan drone, diluncurkan ke negara-negara GCC, lebih dari separuhnya menargetkan UEA,” ujar wartawan Al Jazeera, Zein Basravi.
“Ledakan di malam hari terdengar di berbagai kota, efek pertahanan udara semakin terlihat di langit Teluk.”
Perang ini tak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga berdampak serius pada ekonomi kawasan.
Baca Juga: Pengamat Timur Tengah: Wafatnya Para Petinggi Iran Bisa Jadi Neraka Dunia Buat AS-Israel
Produksi minyak harian negara-negara Teluk menurun dari 21 juta barel menjadi 14 juta barel, terutama akibat penutupan Selat Hormuz, menurut Rystad Energy.
Sektor pariwisata dan transportasi juga mengalami gangguan signifikan.
Sejak 28 Februari, Iran menegaskan serangannya menargetkan pangkalan militer yang digunakan AS, namun negara-negara Teluk membantah klaim tersebut dan menegaskan serangan itu tidak sah.
Efek ekonomi dari konflik ini disebut sebagai yang paling parah sejak Perang Teluk 1990–1991.
Kontributor: M.Faqih
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Cara Mencari Sinyal TVRI di TV Digital dan TV Analog agar Bisa Nonton Siaran Piala Dunia 2026
- 4 SMA di Banten Terpilih Jadi Sekolah Unggul Garuda 2026, Ini Daftarnya
- Milk Cleanser Viva untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan dan 5 Pilihan Variannya
- 4 Cushion Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Anti Crack Samarkan Garis Halus Seharian
Pilihan
-
Prediksi Argentina vs Aljazair: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
Terkini
-
Ngeri! Harga Sekolah Elit Pangeran George di Inggris, Tempat Belajar 20 Perdana Menteri
-
Studi: Pemanasan Global Berpotensi Memicu Pelepasan Metana Lebih Besar dari Ekosistem Alami
-
Kemenham Akui Tata Kelola Makan Bergizi Belum Sempurna, tapi Tolak Label Pelanggaran HAM
-
Pengadilan Jepang Sidang Korban Salah Tangkap Kasus Pembunuhan yang Sudah Meninggal 15 Tahun Lalu
-
Viral Ojol Terobos Jembatan Rel Kereta di Petamburan, KAI Murka: Kami akan Lapor Aparat!
-
Penting, Ini 5 Persiapan Finansial yang Mesti Dilakukan Agar Terus Cuan di Masa Pensiun
-
Setop Dapur MBG Baru! Pemerintah Bakal Audit dan Beri 'Rapor' Kinerja
-
Gaji Tembus Rp5,7 Juta! Pemprov DKI Buka 2.843 Lowongan Kerja Padat Karya bagi Warga Jakarta
-
Tolak Pidana LGBTQ, Koalisi Sipil: Jangan Alihkan Isu Korupsi MBG dan Rupiah!
-
Jelang Konbes Banser, Gus Ipul Tegaskan Peran Banser sebagai Pengabdian Ulama untuk Bangsa