Suara.com - Serangan udara Israel yang menewaskan kepala keamanan Iran, Ali Larijani, telah menghilangkan salah seorang pembuat kebijakan paling berpengaruh dan berpengalaman di Republik Islam Iran.
Larijani bukan seorang komandan militer, namun dia adalah tokoh sentral dalam merumuskan keputusan strategis Iran.
Sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, dia berada di pusat pengambilan keputusan terkait perang, diplomasi, dan keamanan nasional.
Suaranya memiliki bobot di seluruh struktur kekuasaan, terutama dalam menangani konfrontasi Iran dengan AS dan Israel.
Setelah pembunuhan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei pada 28 Februari 2026 lalu, Larijani mengambil sikap menantang, menandakan bahwa Iran siap menghadapi konflik berkepanjangan.
Kematian Larijani, yang telah dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran, terjadi di tengah rangkaian serangan yang lebih luas di mana sejumlah pejabat senior dan komandan Iran tewas hanya dalam hitungan pekan.
Pola ini menunjukkan adanya upaya berkelanjutan untuk melemahkan struktur kepemimpinan Iran di masa perang.
Meski dikenal bersikap keras terhadap Barat, Larijani kerap digambarkan sebagai sosok pragmatis di dalam negeri.
Dia memadukan loyalitas ideologis dengan pendekatan teknokratis, lebih mengutamakan strategi yang terukur ketimbang retorika.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Makin Melonjak, Nilainya Tembus Rp1,8 Juta per Barel
Dia tetap sangat skeptis terhadap keterlibatan negaranya dengan negaranegara Barat, namun dia turut terlibat dalam sejumlah upaya diplomatik penting, termasuk menjadi utusan dalam perjanjian kerja sama jangka panjang Iran dengan China.
Siapa Ali Larijani?
Ali Larijani adalah Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran.
Dia diangkat pada Agustus 2025 oleh Presiden Masoud Pezeshkian sebagai sekretaris SNSC.
Larijani juga dilantik sebagai perwakilan Pemimpin Tertinggi Iran yang telah wafat, Ayatollah Ali Khamenei, di dewan tersebut.
Larijani juga digambarkan oleh sejumlah media Iran sebagai penasihat bagi mendiang pemimpin tertinggi.
Dia menjabat sebagai ketua parlemen Iran selama 12 tahun, dari Mei 2008 hingga Mei 2020.
- 'Ini bukan perang kami' Jerman, Spanyol, dan negara-negara lain menolak mengirim kapal perang ke Selat Hormuz
- Mengapa AS menyerang Pulau Kharg milik Iran?
- Pasukan marinir AS dan kapal-kapal perang tambahan dipindahkan ke Timur Tengah
Meski memimpin faksi prinsipil (principlist) di parlemen pada 20082012, dalam beberapa tahun terakhir dia kerap disebut sebagai 'konservatif moderat'.
Sebelum menjadi ketua parlemen, Larijani pernah menjabat sebagai kepala negosiator nuklir Iran antara 2005 dan 2007.
Saudaranya, Sadegh Larijani, juga merupakan figur berpengaruh di Republik Islam.
Dia memimpin Dewan Penentu Kebijakan, sebuah lembaga arbitrase tertinggi yang menjadi penentu akhir dalam perselisihan antara parlemen dan lembaga pengawas konstitusi, Dewan Garda.
Apa tiga krisis besar yang dihadapi pengganti Larijani?
Pada saat kematiannya, Larijani tengah menangani tiga krisis besar.
Krisis pertama adalah perang itu sendiri. Dia berpendapat bahwa Iran harus bersiap menghadapi perjuangan berkepanjangan dan memperluas konflik ke seluruh kawasan dan bahkan lebih jauh, termasuk menutup Selat Hormuz.
Krisis kedua adalah gelombang kerusuhan dalam negeri, yang bermula dari keluhan ekonomi tetapi dengan cepat berubah menjadi protes yang lebih luas yang menuntut tumbangnya Republik Islam.
Pemerintah menanggapinya dengan tindakan keras yang menewaskan ribuan pengunjuk rasa di seluruh negeri.
Krisis ketiga adalah program nuklir Iran dan negosiasi tidak langsung dengan Washington yang mandek. Kedua hal ini terganggu oleh serangan militer AS-Israel.
Kematian Larijani membuat isuisu ini tetap tak terselesaikan dan mewariskannya kepada pengganti yang belum diketahui, yang akan menghadapi situasi yang sangat rapuh.
Walaupun Iran menunjukkan ketahanansebagian dengan mengguncang pasar energi globalwilayah udaranya tetap terbuka terhadap serangan lanjutan.
Setiap pejabat senior baru bakal menghadapi risiko langsung untuk menjadi target serangan AS-Israel.
Apakah militer Iran akan berperan setelah kematian Larijani?
Hal ini dapat menggeser kekuasaan lebih jauh ke arah militer.
Pernyataan terbaru Presiden Masoud Pezeshkian menunjukkan bahwa unitunit angkatan bersenjata pada dasarnya telah diberi kewenangan luas untuk bertindak jika kepemimpinan senior tidak dapat menjalankan tugasnya.
Dalam praktiknya, hal ini bisa berarti keputusan diambil lebih cepat, tetapi dengan koordinasi pusat yang lebih lemah.
Ada pula tandatanda bahwa para pemimpin Iran tengah kesulitan mengelola proses suksesi.
Iran menunda pengumuman publik dan menjaga sejumlah tokohtermasuk pemimpin tertinggi yang baru, Mojtaba Khameneitetap berada di luar sorotan.
- Apa tujuan AS-Israel menyerang Iran?
- Apakah negara-negara Teluk akan membalas serangan Iran dan bakal terseret dalam perang?
- Iran punya strategi khusus melawan AS-Israel
Tidak jelas apakah ini dilakukan demi alasan keamanan atau karena ketidakpastian internal.
Dalam jangka pendek, situasi yang muncul kemungkinan akan makin tidak stabil: sikap militer yang lebih keras di medan perang dan tindakan represi yang lebih ketat di dalam negeri.
Namun seiring waktu, sebuah sistem yang terus kehilangan para pejabat senior dapat semakin kesulitan berfungsi secara efektif, terutama di negara berpenduduk lebih dari 90 juta jiwa.
Dampak dari kematian Larijani, dengan demikian, bukan sekadar hilangnya satu pejabat.
Peristiwa ini memperdalam krisis kepemimpinan yang dapat memengaruhi jalannya perang sekaligus stabilitas negara Iran itu sendiri.
More on the Iran war
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- 7 Sunscreen Flek Hitam untuk Usia 50 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Link Live Streaming Portugal vs Kongo: Panggung Sesungguhnya CR7?
-
Demo Pakai Daster ke Istana, Aliansi Perempuan Tuntut Prabowo Turunkan Harga BBM dan Setop MBG
-
BREAKING NEWS: Kantor Dinas Pendidikan Sulsel Digeledah Kejati
Terkini
-
Tangis Korban Hanania Travel Pecah di DPR: Banyak Orang Tua Jatuh Sakit karena Gagal Berangkat Umrah
-
Heboh Kereta Kuda Turis Central Park New York Mengamuk, Turis India Tewas Mengenaskan
-
Dua Kubu Massa Berhadapan di Patung Kuda, Saling Adu Argumen soal Program MBG
-
Korban Travel Haji Hanania Group Diperkirakan Tembus 3.000 Orang, Kerugian Capai Rp 95 Miliar
-
Diperiksa KPK 7 Jam! Bos Maktour Fuad Hasan Cuma Ketawa Ditanya Soal Illegal Gain Rp27,8 M
-
Bos Maktour Bantah Ada Transaksi untuk Dapat Kuota Haji Tambahan
-
Komisi X DPR Dukung Gibran Libatkan Mahasiswa dalam Kunker Pantau Program MBG
-
Jajaran Direksi Himbara Merapat ke Istana, Prabowo Gelar Rapat Tertutup Bahas Ekonomi
-
MBG Jangan 'Makan' Hak Guru dan Beasiswa dari Anggaran Pendidikan!
-
Presiden Setujui Anggaran Rp 100,1 Triliun untuk Rehabilitasi Pascabencana di Tiga Provinsi Sumatra