Bisnis / Energi
Kamis, 19 Maret 2026 | 08:38 WIB
Rudal Balistik Emad Buatan Iran. (militarytoday.com)
Baca 10 detik
  • Harga minyak Brent dan WTI melonjak signifikan pasca Iran menyerang fasilitas energi, menandai eskalasi konflik di Timur Tengah.
  • Serangan Iran menyebabkan kerusakan fasilitas di Ras Laffan Qatar dan menghentikan jalur distribusi vital melalui Selat Hormuz.
  • Amerika Serikat merespons dengan kebijakan darurat, termasuk dispensasi Undang-Undang Jones Act, untuk meredam dampak krisis energi.

Suara.com - Harga minyak dunia ditutup menguat dan kembali melonjak dalam perdagangan lanjutan setelah Iran melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas energi di kawasan Timur Tengah.

Eskalasi ini menandai peningkatan signifikan konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Dilansir Bloomberg, harga minyak mentah Brent tercatat naik 3,8 persen ke level 107,38 dolar AS atau sekitar Rp1,8 Juta per barel saat penutupan perdagangan. Kenaikan berlanjut di sesi setelah penutupan, dengan lonjakan tambahan sebesar 5,6 persen.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik tipis 0,1 perse ke 96,32 dolar AS per barel, sebelum menguat hingga 4 persen dalam perdagangan lanjutan.

Kenaikan harga minyak dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama setelah Iran menyerang sejumlah fasilitas energi strategis di kawasan.

Perusahaan minyak dan gas milik negara Qatar melaporkan bahwa kawasan industri Ras Laffan mengalami kerusakan signifikan akibat serangan rudal Iran.

Ilustrasi rudal. (Shutterstock)

Di sisi lain, Arab Saudi mengklaim berhasil mencegat dan menghancurkan sejumlah rudal balistik yang diarahkan ke ibu kota Riyadh, serta menggagalkan serangan drone ke fasilitas gas di wilayah timur negara tersebut.

Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa pihaknya telah mengeluarkan peringatan evakuasi terhadap sejumlah fasilitas energi di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar.

Fasilitas-fasilitas tersebut disebut berpotensi menjadi target serangan dalam beberapa jam ke depan.

Baca Juga: Singgung Nuklir, Iran: Selat Hormuz Ditutup Total Bagi AS dan Israel!

Peringatan ini muncul setelah serangan terhadap ladang gas South Pars milik Iran, yang menurut laporan media Israel dilakukan oleh Israel dengan persetujuan Amerika Serikat. Namun, belum ada konfirmasi resmi dari kedua negara terkait keterlibatan tersebut.

Analis dari SEB, Ole Hvalbye, menyebut bahwa serangan terhadap infrastruktur energi Iran telah mendorong kenaikan harga minyak dan gas global. Ia menambahkan, eskalasi lanjutan berpotensi memperburuk kondisi pasar energi dunia.

Konflik yang terus berkembang juga berdampak pada jalur distribusi energi global. Pengiriman melalui Selat Hormuz jalur vital yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia dilaporkan terhenti.

Akibatnya, produksi minyak di kawasan Timur Tengah diperkirakan turun antara 7 hingga 10 juta barel per hari, setara dengan 7 persen hingga 10 persen dari total permintaan global.

Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump mengumumkan kebijakan darurat untuk meredam dampak krisis.

Kebijakan tersebut mencakup pemberian dispensasi selama 60 hari terhadap Undang-Undang Jones Act, yang memungkinkan kapal berbendera asing mengangkut bahan bakar dan barang lainnya antar pelabuhan domestik.

Load More