- Pemerintah mengkaji skema WFH bagi ASN dan swasta sebagai strategi penghematan energi di tengah dinamika ekonomi global.
- Anggota Komisi II DPR, Ujang Bey, mendukung namun meminta perencanaan detail teknis mengenai durasi dan jumlah personel yang terdampak.
- Ujang mendesak pemerintah mempertimbangkan dampak WFH terhadap stabilitas kinerja sektor swasta dan kualitas pelayanan publik.
Suara.com - Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Ujang Bey, memberikan catatan terkait rencana pemerintah yang tengah mengkaji skema kerja fleksibel atau Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan kemungkinan juga sektor swasta.
Langkah ini diambil pemerintah sebagai strategi penghematan energi dan efisiensi nasional di tengah dinamika ekonomi global.
Ujang menyatakan dukungannya terhadap semangat penghematan energi yang diusung pemerintah. Namun, ia menekankan bahwa kebijakan ini memerlukan perencanaan yang sangat detail dan terukur agar tidak menjadi kontraproduktif.
"Saya mengapresiasi langkah pemerintah melakukan WFH bagi ASN dan swasta dalam rangka menghemat energi. Tapi, ini harus didesain secara matang dan terukur," ujar Ujang Bey kepada wartawan, dikutip Senin (23/3/2026).
Legislator NasDem ini meminta pemerintah untuk segera memaparkan rincian teknis, mulai dari jumlah personel yang terdampak hingga durasi pelaksanaan.
Menurutnya, tanpa data yang jelas, target penghematan bahan bakar minyak (BBM) tidak akan bisa dihitung secara akurat.
"Target berapa jumlah ASN maupun swasta yang akan terkena WFH dan dalam rentang waktu berapa lama? Instansi dan kementerian mana saja yang terdampak (ASN) dan perusahaan swasta apa saja? Dari jawaban pertanyaan tersebut, di situ pemerintah akan menemukan berapa angka BBM yang bisa dihemat," jelasnya.
Terkait sektor swasta, Ujang memberikan peringatan khusus. Ia meminta pemerintah berhati-hati karena setiap perusahaan memiliki target kinerja dan capaian karyawan yang berbeda-beda.
Ia mengkhawatirkan kebijakan WFH yang dipaksakan justru akan mengganggu stabilitas performa perusahaan.
Baca Juga: Pemerintah Godok Skema WFH untuk ASN, Ini Alasannya
"Jangan sampai penerapan WFH bagi swasta mengganggu stabilitas kinerja perusahaan. Artinya, ini harus terkoordinasi dengan baik dengan perusahaan swasta yang akan terdampak," tambahnya.
Selain itu, ia juga menyoroti potensi dampak terhadap pelayanan publik. Ujang mendesak pemerintah untuk melakukan pemetaan yang ketat terhadap ASN yang bertugas di garda terdepan pelayanan masyarakat. Ia tidak ingin penghematan energi mengorbankan kepentingan publik.
"Petakan juga ASN yang bersentuhan langsung pelayanannya dengan masyarakat. Jangan sampai kebijakan tersebut menuai keluhan-keluhan di masyarakat karena pelayanan tidak maksimal," tegasnya.
Lebih lanjut, Ujang menegaskan bahwa keberhasilan skema WFH ini sangat bergantung pada sinkronisasi antara perencanaan dan pelaksanaan di lapangan.
"Saya kira efektif dan tidaknya program WFH ini bisa dilihat dari seberapa matang desain ini direncanakan dan bagaimana pelaksanaannya, apakah sesuai rencana dan target atau tidak," pungkasnya.
Sebelumnya, Pemerintah Republik Indonesia tengah menggodok kebijakan baru terkait pola kerja masyarakat di tengah fluktuasi kondisi ekonomi global.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
WNA China Diduga Dilecehkan Saat Bikin Video di Lovina Bali
-
Bibit Durian Diturunkan di Pelabuhan Makassar Padahal Punya Izin, Ini Respons Badan Karantina
-
Karhutla Sumsel Mencapai 1.926 Hektare, Ancaman Besarnya Justru Setelah Api Padam
-
Karhutla Sumsel Tembus 664,97 Hektare, 1.077 Kejadian Tercatat hingga Agustus
-
Bank Sumsel Babel dan Kodam II/Sriwijaya Perkuat Akses Layanan Keuangan Prajurit
-
Menteri Kebudayaan Fadli Zon Beberkan Alasan Geser Konser GBN dari Kota Tua ke Kabupaten Bogor
-
Polrestabes Bandung: Sopir Truk Jadi Tersangka Tabrak Lari yang Tewaskan Polisi
-
Cara Dapat Diskon Tiket Gaia Music Festival 2026 Pakai BRImo
-
Resah, Puluhan Pimpinan Media Lokal dari 4 Provinsi Kumpul di Pekanbaru Bahas Ekosistem Media
-
Beli Produk Nespresso Pakai BRI Bisa Hemat Rp750 Ribu